Aparat Subdirektorat Umum Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya telah membekuk empat orang yang termasuk dalam kelompok perampok yang menjerat korban dengan menawarkan layanan seks itu.
Komplotan ini dalam memberi umpan menyesuaikan dengan jenis kelamin dan orientasi seksual korban. Mereka mengincar korban pria, wanita, baik yang berorientasi heteroseksual, homoseksual, ataupun biseksual. Pasalnya, kelompok para pelaku ini juga ada yang homoseksual dan heteroseksual.
”Para pelaku mencari calon korbannya di pusat-pusat perbelanjaan, pusat kebugaran, dan kafe-kafe,” tutur Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Kamis (2/8).
Empat tersangka yang ditangkap tersebut adalah HG (34), AN (23), AL (34), dan DD (27). Mereka ini juga menjadi tersangka pembunuh Sabur alias Arbi alias Riki (45).
Korban Sabur berkenalan dengan pelaku di Plaza Semanggi. Mereka lalu bertemu lagi di Plaza Semanggi dan akhirnya terjadilah pembunuhan di kamar kos yang disewa para pelaku.
”Saat itu, korban dibunuh karena melawan saat diperas atau dirampok,” kata Rikwanto.
Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Toni Harmanto, kelompok ini sebetulnya delapan orang. Dua orang di antaranya perempuan. Namun, untuk kasus korban Sabur, hanya lima orang yang terlibat.
HG dan AN ditangkap di atas bus jurusan Merak-Bandung di Jalan Tol Merak ke arah Jakarta pada tanggal 25 Juli, sedangkan AL ditangkap di kosnya di Jalan Kayu Manis IV, Jakarta Timur, pada 26 Juli. Adapun DD ditangkap di Banyuasin, Sumatera Selatan, pada tanggal 30 Juli. Satu lagi yang buron adalah SDN alias PT.
”Para pelaku mengaku paling tidak sudah sepuluh kali melakukan kejahatan pemerasan dan perampokan dengan modus sejenis. Kesulitan kami adalah menemui para korbannya. Mereka enggan melapor,” ujar Toni.
Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Ajun Komisaris Besar Helmy Santika menambahkan, jika korban terakhir tidak terbunuh, modus komplotan ini pun kemungkinan besar tidak akan terungkap.
Sebagaimana pengakuan para tersangka, ketika korban dan pelaku yang berperan sebagai umpan mau melakukan hubungan, komplotan ini menggerebek dan mengaku sebagai pacar, suami, atau istri si umpan. Setelah itu terjadilah pemerasan dan perampokan. Sesudah mendapatkan nomor PIN ATM korban, pelaku juga menggasak uangnya.
Perampok bertaksi
Modus lain, aparat Polres Jakarta Barat juga membekuk enam tersangka anggota komplotan perampok yang menggunakan taksi.
”Mereka menyasar korban yang rata-rata laki-laki yang berperawakan kecil,” papar Kepala Satuan Reskrim Polres Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Hengki Haryadi.
Keenam tersangka tersebut adalah EEN, AN, MA, DA, AS, dan MAR. Mereka bergantian melakukan aksinya dengan taksi yang dapat dikemudikan dengan sopir tembak. Taksi didapat dari pul di Ciledug, Tangerang, Banten. Biasanya, EEN yang mengemudikan taksi. Sementara itu lima lainnya bergantian ikut di dalam taksi.
Menurut Hengki, mereka berkeliling menggunakan taksi dan mencari korban di sepanjang jalan. Setelah ketemu sasaran, mereka memaksa korban masuk ke dalam taksi.
”Pelaku mengaku anggota ormas atau intelijen dan menuduh korban mengganggu kerabat mereka. Setelah mengambil harta korban berupa uang dan telepon seluler, mereka menurunkan korban di tengah jalan,” kata Hengki.
Komplotan ini mengaku sudah sepuluh kali beraksi di berbagai wilayah di Jakarta. Salah satu korban bernama Terry Yudha Pratama dituduh mengganggu anak bosnya. Terry lalu dipaksa masuk ke dalam taksi dan dibawa berputar-putar. Setelah uang dan dua telepon seluler diambil, dia diturunkan di jalan.