Modus Rampok Kian Beragam

Kompas.com - 03/08/2012, 02:54 WIB

Jakarta, Kompas - Warga Jakarta dan sekitarnya perlu lebih waspada. Modus perampokan kian beragam. Ada kawanan perampok yang menjebak korban dengan menawarkan layanan seks lalu memeras. Ada juga kawanan yang memaksa pejalan kaki masuk ke dalam taksi, setelah itu hartanya dirampas.

Aparat Subdirektorat Umum Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya telah membekuk empat orang yang termasuk dalam kelompok perampok yang menjerat korban dengan menawarkan layanan seks itu.

Komplotan ini dalam memberi umpan menyesuaikan dengan jenis kelamin dan orientasi seksual korban. Mereka mengincar korban pria, wanita, baik yang berorientasi heteroseksual, homoseksual, ataupun biseksual. Pasalnya, kelompok para pelaku ini juga ada yang homoseksual dan heteroseksual.

”Para pelaku mencari calon korbannya di pusat-pusat perbelanjaan, pusat kebugaran, dan kafe-kafe,” tutur Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Kamis (2/8).

Empat tersangka yang ditangkap tersebut adalah HG (34), AN (23), AL (34), dan DD (27). Mereka ini juga menjadi tersangka pembunuh Sabur alias Arbi alias Riki (45).

Korban Sabur berkenalan dengan pelaku di Plaza Semanggi. Mereka lalu bertemu lagi di Plaza Semanggi dan akhirnya terjadilah pembunuhan di kamar kos yang disewa para pelaku.

”Saat itu, korban dibunuh karena melawan saat diperas atau dirampok,” kata Rikwanto.

Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Toni Harmanto, kelompok ini sebetulnya delapan orang. Dua orang di antaranya perempuan. Namun, untuk kasus korban Sabur, hanya lima orang yang terlibat.

HG dan AN ditangkap di atas bus jurusan Merak-Bandung di Jalan Tol Merak ke arah Jakarta pada tanggal 25 Juli, sedangkan AL ditangkap di kosnya di Jalan Kayu Manis IV, Jakarta Timur, pada 26 Juli. Adapun DD ditangkap di Banyuasin, Sumatera Selatan, pada tanggal 30 Juli. Satu lagi yang buron adalah SDN alias PT.

”Para pelaku mengaku paling tidak sudah sepuluh kali melakukan kejahatan pemerasan dan perampokan dengan modus sejenis. Kesulitan kami adalah menemui para korbannya. Mereka enggan melapor,” ujar Toni.

Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Ajun Komisaris Besar Helmy Santika menambahkan, jika korban terakhir tidak terbunuh, modus komplotan ini pun kemungkinan besar tidak akan terungkap.

Sebagaimana pengakuan para tersangka, ketika korban dan pelaku yang berperan sebagai umpan mau melakukan hubungan, komplotan ini menggerebek dan mengaku sebagai pacar, suami, atau istri si umpan. Setelah itu terjadilah pemerasan dan perampokan. Sesudah mendapatkan nomor PIN ATM korban, pelaku juga menggasak uangnya.

Perampok bertaksi

Modus lain, aparat Polres Jakarta Barat juga membekuk enam tersangka anggota komplotan perampok yang menggunakan taksi.

”Mereka menyasar korban yang rata-rata laki-laki yang berperawakan kecil,” papar Kepala Satuan Reskrim Polres Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Hengki Haryadi.

Keenam tersangka tersebut adalah EEN, AN, MA, DA, AS, dan MAR. Mereka bergantian melakukan aksinya dengan taksi yang dapat dikemudikan dengan sopir tembak. Taksi didapat dari pul di Ciledug, Tangerang, Banten. Biasanya, EEN yang mengemudikan taksi. Sementara itu lima lainnya bergantian ikut di dalam taksi.

Menurut Hengki, mereka berkeliling menggunakan taksi dan mencari korban di sepanjang jalan. Setelah ketemu sasaran, mereka memaksa korban masuk ke dalam taksi.

”Pelaku mengaku anggota ormas atau intelijen dan menuduh korban mengganggu kerabat mereka. Setelah mengambil harta korban berupa uang dan telepon seluler, mereka menurunkan korban di tengah jalan,” kata Hengki.

Komplotan ini mengaku sudah sepuluh kali beraksi di berbagai wilayah di Jakarta. Salah satu korban bernama Terry Yudha Pratama dituduh mengganggu anak bosnya. Terry lalu dipaksa masuk ke dalam taksi dan dibawa berputar-putar. Setelah uang dan dua telepon seluler diambil, dia diturunkan di jalan.

(RTS/FRO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau