Olimpiade 2012

Demi Cita-cita, Liliyana Sudah Merantau Sejak 12 Tahun

Kompas.com - 05/08/2012, 02:33 WIB

LONDON, Kompas.com - Makna kata-kata bijak "Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah hidup diluncurkan" menjadi inspirasi Auw Jin Chen, ketika melepas Liliyana Natsir merantau sendirian ke Jakarta. Ibu berusia 55 tahun ini tak segan mengizinkan putri bungsunya tersebut meraih cita-citanya menjadi seorang atlet bulu tangkis.

Saat memutuskan untuk mengadu nasib di Jakarta, Liliyana baru berusia 12 tahun. Gadis manis ini ingin mendapatkan pelatihan bulu tangkis yang lebih baik.

Tentu saja, keputusan Jin Chen ini sangat berisiko, mengingat Liliyana belum bisa mandiri dan masih sangat membutuhkan perhatian orangtua. Tetapi, prinsip membebaskan anak menentukan sendiri jalan hidup sesuai dengan keinginan mereka adalah kewajiban orangtua, membuat dia rela melakukannya.

"Sejak awal saya tawarkan, 'kamu mau jadi apa, kalau mau sekolah tinggal sama mama-papa di Manado, kalau mau jadi atlet, di Jakarta'," kata ibunda pebulu tangkis nasional Liliyana Natsir itu.

Karena waktu itu masih sangat muda, 12 tahun, hampir setiap hari Liliyana, peraih medali perak Olimpiade Beijing 2008, menangis karena ingin pulang. Tetapi kekuatan yang selalu diberikan sang ibu, membuat Liliyana bertahan.

"Saya katakan padanya, ’ini kan pilihan adek sendiri untuk menjadi atlet'," ujar Jin Chen berusaha menghibur putri bungsu yang sebelumnya hampir tidak pernah berpisah dengannya.

"Kemana pun orangtuanya pergi dia ikut, tidur pun dengan saya," katanya.

Saat ini, setelah 15 tahun Liliyana hidup sendiri jauh dari keluarganya, semua pengorbanan itu berbuah manis. Wanita kelahiran Manado 9 September 1985 tersebut telah meraih prestasi yang diimpikan semua atlet.

Pernah menempati peringkat satu dunia, meraih gelar juara dunia bahkan sampai dua kali (2005 dan 2007), juara All England, dan menyabet medali di Olimpiade, semua pernah dirasakannya.

Semua keputusan terserah Liliyana

Lalu, apa yang diharapkan Jin Chen, perempuan kelahiran 13 Juli 1957, setelah anaknya meraih sukses?

"Sekarang terserah dia, mau berhenti bermain, pensiun dari bulu tangkis juga tidak apa-apa. Saya hanya ingin dia menikmatinya," kata Jin Chen yang diundang ke London untuk menyaksikan putrinya bertanding di Olimpiade keduanya.

"Saya hanya ingin dia enjoy, menikmati pertandingan karena prestasinya sudah cukup membanggakan," katanya.

Namun ia menyebutkan, anak keduanya itu mengatakan, selama tetap dibutuhkan, ia masih ingin membela negaranya melalui olahraga.

Soal kehidupan pribadi, Jin Chen dan suaminya Beno Natsir tidak pernah ikut campur. Soal jodoh, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Liliyana.

Menurutnya, Liliyana belum berpikir untuk mencari pasangan hidup, apalagi menikah. "Belum kepikiran ke sana. Dia bilang, dia baru akan pacaran kalau sudah pensiun. Takut mengganggu latihan," begitu kata ibu dua putri itu menirukan kata-kata Liliyana.

Ketika bersama pasangannya, Tontowi Ahmad, gagal mempersembahkan medali bagi Merah Putih di London, Liliyana bilang belum memikirkan Olimpiade Rio 2016. Target terdekatnya adalah Kejuaraan Dunia tahun depan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau