Jangan Sampai Tertular Kuman Saat Mudik

Kompas.com - 07/08/2012, 12:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Anda berencana melakukan mudik lebaran? Jangan lupa untuk selalu menjaga perilaku hidup bersih dan sehat selama perjalanan. Pasalnya, kuman penyakit lebih mudah menular dan menyebar di ruang publik seperti sarana transportasi dan fasilitas umum selama masa-masa mudik lebaran.

"Saat mudik merupakan momen di mana intensitas penggunaan fasilitas umum meningkat. Tanpa kita sadari, hal ini berdampak pada bahaya penyebaran rantai kuman," kata dr R. Fera Ibrahim, Msc, PhD, SpMK, ahli mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), di Jakarta, Senin. (6/8/2012).

Fera mengatakan, saat mudik nanti semua orang tumpah ruah memenuhi saranan transportasi dan fasilitas umum, dengan kondisi kesehatan masing-masing. Dalam kondisi ini, kuman penyakit dapat ditularkan melalui beragam cara seperti misalnya bersin ataupun kontak tangan.

Salah satu jenis penyakit yang paling rawan terjadi selama mudik adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Mengutip sebuah studi kesehatan yang dilakukan ilmuwan di Universitas Nottingham Inggris dan dipublikasikan dalam Journal BMC Infection Diseases, risiko seseorang terjangkit penyakit ISPA meningkat enam kali lebih besar dalam kurun waktu lima hari setelah menggunakan bus atau kereta api. 

Agar memperkecil risiko penularan kuman penyakit saat mudik, Fera menyarankan agar setiap orang tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Upaya preventif ini sebaiknya tetap dilakukan sebelum makan dan setelah beraktivitas di kamar mandi. Mencuci tangan menggunakan sabun dapat membuat kuman lepas dari kulit dan larut bersama air yang mengalir. Dengan cuci tangan, proses penyebaran kuman patogen ke dalam tubuh pun terputus.

Selain cuci tangan, tips berperilaku hidup bersih dan sehat di ruang publik menurut Fera antara lain, pemudik harus memastikan kondisinya fit sebelum mudik. Kondisi prima ini akan membuat daya tahan tubuh seseorang lebih kuat meski kuman penyakit menyerang. Apabila pemudik dalam kondisi sakit, sebaiknya merawat diri dengan menggunakan masker untuk menutup hidung dan mulut. Dengan demikian, pemudik tidak mengenakan kuman penyakit kepada orang lain.

Disarankan, pemudik juga lebih baik mencari tahu kondisi kota atau wilayah tujuannya. Cari tahu apakah daerah tersebut memiliki bakat endemik suatu penyakit. Misalnya, jika kota tujuan mudik adalah daerah endemik malaria, maka pemudik harus menyiapkan diri dengan bekal obat antimalaria.

Tak kalah penting, pemudik harus berhati-hati saat memutuskan makan dan minum di suatu tempat baru. Pilihlah makanan yang matang, dan pilih minuman yang disajikan dalam botol. Sebaiknya, pemudik menghindari minum es, karena kita tidak tahu apakah es yang disajikan tersebut dari air matang atau mentah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau