Alor, Surga Terumbu Karang

Kompas.com - 07/08/2012, 13:12 WIB

Oleh Irene Sarwindaningrum

PANTAI Pulau Kepa, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, menawarkan kelegaan bagi mereka yang penat dengan keriuhan. Pulau ini memiliki hamparan pasir putih selembut tepung dan lautan biru jernih yang jauh dari keramaian.

Memandang laut di Alor dari pantai Pulau Kepa, ketenangan terasa menenteramkan jiwa. Lautan jernih terlindung dalam barisan perbukitan kokoh di pulau-pulau sekitarnya. Gelombang kecil mengalun lamban bersama perahu-perahu nelayan yang sesekali melintas.

Pada Minggu (8/7/2012), hanya satu-dua turis berkulit putih dan masyarakat lokal melintas di pantai. Mungkin karena masih begitu sepi, ikan-ikan sebesar betis pun tak enggan bermain hingga ke bibir pantai.

Pulau Kepa, yang terletak di Kabupaten Alor, NTT, itu berjarak 10 menit berperahu motor dari Dermaga Alor Kecil di Pulau Alor. Pulau Alor dapat dicapai dengan penerbangan sekitar 45 menit dari Bandara El Tari, di ibu kota NTT, Kupang.

Setiap hari dilayani dua penerbangan dengan pesawat Fokker dari Kupang ke Kalabahi, ibu kota Alor. Kalabahi biasanya menjadi tempat transit para turis sebelum melanjutkan perjalanan ke gugusan pulau-pulau kecil di sekitar Alor, salah satunya Kepa. Dari Bandara Kalabahi di Alor, Pulau Kepa masih berjarak 1,5 jam perjalanan dengan mobil dilanjutkan dengan perahu.

Pulau Kepa ibarat dunia yang terlupakan oleh laju peradaban. Sentuhan modernitas masih begitu minim. Tak ada jalan beraspal, kendaraan bermotor, ataupun warung yang menjual makanan. Penduduknya pun masih sedikit. Pada 2010, jumlah penduduk di pulau seluas 32 kilometer persegi itu tercatat sekitar 24 jiwa.

Namun, suasana inilah yang menghadirkan eksotisme dan justru menjadi salah satu daya tarik Kepa. Hal ini rupanya juga disadari pemilik La P’tite Kepa, satu-satunya penginapan dan penyedia jasa penyelaman di pulau itu. Penginapan milik pasangan asal Perancis itu didesain seperti perkampungan tradisional khas Alor, dibangun tepat di atas tebing di pinggir pantai.

Pondok-pondok itu berbahan bambu dan beratap rumbia dengan tarif di bawah Rp 500.000 per malam. Meski sederhana, penginapan ini nyaris penuh sepanjang tahun dengan jumlah tamu 300-400 orang per tahun. Sebagian besar tamunya adalah turis mancanegara, terutama dari Perancis dan Jerman. Untuk memastikan mendapat kamar di La P’tite Kepa, sebaiknya memesan jauh-jauh hari sebelumnya.

Tak hanya Kepa. Pantai-pantai dengan suasana yang menenteramkan jiwa seperti itu begitu mudah ditemui di Kabupaten Alor. Kabupaten kepulauan itu mempunyai 15 pulau. Enam di antaranya belum dihuni manusia.

Di beberapa pulau lainnya, terdapat pula penginapan dan penyedia jasa penyelaman seperti di Kepa. Fasilitas penyelaman yang dimiliki umumnya relatif baik.

Selain pantai-pantainya, Alor juga menjadi surga terumbu karang yang cukup dikenal di dunia internasional. Alor dengan lautnya yang begitu jernih mempunyai Taman Laut Alor yang terletak di beberapa pulau, seperti Pantar, Pura, Ternate, Buaya, Alor Kecil, dan Alor Barat. Tercatat 42 titik penyelaman yang lokasinya saling berdekatan sehingga mempermudah eksplorasi pengunjung.

Prioritas promosi

Terumbu karang di Alor disebut-sebut sebagai salah satu yang tercantik di dunia. Perairan Alor yang diapit Laut Flores, Laut Sawu, dan Laut Timor itu juga salah satu pelintasan paus yang sesekali menampakkan diri.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar, saat menghadiri Festival Kemilau Wisata dan Budaya Alor, mengatakan, kekayaan wisata bahari Alor dan keunikan budayanya sangat layak dipromosikan ke tingkat internasional. ”Alor akan menjadi salah satu prioritas untuk dipromosikan,” katanya.

Bupati Alor, Simeon Th Pally mengaku, minimnya infrastruktur merupakan kendala utama pengembangan industri wisata di Alor. Para investor seperti ragu berinvestasi. ”Kami sebenarnya telah menawarkan paket wisata unik, seperti berburu rusa, paket memancing ikan besar, dan penyelaman. Banyak yang berminat, tapi belum ada yang merealisasikan,” ujarnya.

Pemkab Alor tengah berupaya membuka penerbangan langsung yang menghubungkan Alor dengan pusat-pusat wisata di Flores dan Bali, termasuk membenahi fasilitas wisata, seperti hotel dan rumah makan. Semua itu mendesak dibenahi seiring pencanangan pariwisata sebagai sektor unggulan Alor. Tahun 2010, wisatawan asing yang berkunjung ke Alor sekitar 1.400 orang dan meningkat menjadi 2.100 orang pada 2011.

Geliat wisata Alor jadi berkah bagi masyarakat kecil. Perputaran uang dari sektor pariwisata sekitar Rp 5 miliar pada 2011. Nelayan-nelayan kecil pun menyewakan perahunya dan belajar menjadi pemandu selam.

Namun, beberapa ancaman tengah mengintai kelestarian laut Alor. Misalnya, maraknya bom ikan yang merusak terumbu karang. Beberapa pengelola penyedia jasa penyelaman melaporkan 24 titik terumbu karang rusak parah akibat bom ikan. ”Belasan titik sudah tidak menarik lagi karena parahnya kerusakan. Ikan-ikan besar pun tak ada lagi,” kata Anne Lechat, pemilik La P’tite Kepa.

Ancaman lain, yakni penambangan emas yang akan beroperasi. Penambangan ini akan jadi ancaman serius bagi kelestarian laut Alor. Sungguh miris membayangkan jika satu hari nanti lautan biru jernih itu ternoda limbah tambang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau