BEIRUT, KOMPAS.com - Perdana Menteri Suriah Riad Hijab ternyata merencanakan pembelotannya sejak dua bulan lalu, ketika Presiden Bashar al-Assad menawarkan jabatan PM dengan sebuah ultimatum: menerima tugas atau mati, kantor berita Associated Press (AP), Selasa (7/8/2012).
Pembelotan Hijab yang direncanakan secara hati-hati itu digambarkan oleh ajudannya, yang terbang ke Jordania bersamanya.
Hijab merupakan pejabat paling senior Suriah yang meninggalkan rezim Assad untuk bergabung dengan kelompok oposisi. Pembelotannya itu memperkuat posisi para penentang Assad sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan rezim itu untuk bertahan pada perang saudara ini.
Dari Jordania, Hijab dan anggota keluarganya diperkirakan bakal terbang ke Qatar, salah satu penyokong utama pemberontak Suriah.
Pembelotan Hijab menjadi pukulan telak sekaligus mempermalukan Assad setelah sejumlah jenderal dan diplomat seniornya kabur satu per satu. Seperti mayoritas tokoh-tokoh yang membelot, Hijab berasal dari kelompok Sunni, yang merupakan mayoritas di Suriah.
Pelarian Hijab menunjukkan bahwa elemen-elemen elite Sunni - yang sejak dulu menjadi pilar penting rezim Assad - semakin resah dengan kian gencarnya pertumpahan darah dan kebijakan garis keras dari komunitas Alawi Assad, yang meskipun minoritas namun mendominasi lingkaran dalam pemerintahan. Sekte Alawi merupakan sempalan dari Islam Syiah.
Hijab dikenal sebagai salah satu loyalis lama Partai Baath pimpinan Assad. Setelah pemilu Juni lalu, Hijab ditunjuk menjadi PM. Meskipun demikian, pada saat yang sama kesetiaannya mulai bergeser dan dia pun mematangkan rencananya untuk meninggalkan negara itu, kata Mohammad Otari kepada AP di Amman, Jordania.
"Assad yang jahat menekannya untuk menerima jabatan perdana menteri dan dia tidak punya pilihan selain menerima posisi itu. Dia (Assad) mengatakan padanya (Hijab): 'Anda menerima jabatan ini atau terbunuh'," kata Otari, yang mengatakan pada AP bahwa Hijab dan keluarganya berencana pergi dari Amman ke Qatar.
"Perdana menteri membelot rezim pembunuh dan teroris. Dia menganggap dirinya sebagai tentara dalam revolusi ini," lanjut Otari.
Kantor berita Suriah SANA melaporkan, kabinet mengadakan rapat mendadak beberapa jam setelah pengganti Hijab ditunjuk. Sementara itu, di sebuah markas pemberontak di dekat perbatasan Suriah-Turki, para pejuang merayakan pembelotan Hijab, meskipun pada saat bersamaan kekuatan mereka di Aleppo melemah.
"Jika orang-orang yang mendapat keuntungan dari rezim mulai membelot, itu tandanya rezim ini menghadapi hari-hari terakhirnya," kata seorang petempur yang mengatakan namanya bernama Abu Ahmad kepada AP, dari kota Jarablous.
"Setiap kali pemuda kami mendengar seorang perwira atau pejabat membelot, semangat mereka berkobar lagi," ujarnya.
George Sabra, juru bicara oposisi Dewan Nasional Suriah, mengatakan, Hijab merupakan simbol negara. Dia berharap pembelotan Hijab akan diikuti pejabat-pejabat lain.
"Dia akhirnya mengetahui bahwa rezim ini merupakan musuh rakyatnya sendiri dan ditakdirkan untuk jatuh, dan dia memilih untuk bergabung dengan orang-orang yang sudah membelot sebelumnya," kata Sabra.
"Ini (pembelotan) akan menjadi pemicu rantai pembelotan-pembelotan lain oleh pemerintah senior dan pejabat keamanan Suriah. Rezim Suriah mulai karam dan inilah tanda yang paling jelas," tegas Sabra.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang