YUNI IKAWATI
Arus ini merupakan arus kuat di perbatasan perairan bagian barat. Penjalarannya mulai dari pantai timur Taiwan, lalu mengalir ke timur laut melewati Jepang hingga bertemu dengan arus dari utara Pasifik yang bergeser ke timur. Arus ini membawa air laut dari wilayah tropis yang hangat menuju kutub.
Jalur Kuro Siwo berada di selatan Jepang. Adapun fenomena lain yang dapat terbentuk adalah arus Pasifik Utara yang bergerak ke utara, arus California ke timur, dan arus Khatulistiwa Utara bergerak ke selatan.
Dampak negatif yang ditimbulkan adalah tingginya tekanan di Amerika Serikat (AS) hingga tidak terjadi pengumpulan massa uap air di atas wilayah ini. Saat ini, di AS diberitakan ribuan ikan mati di kawasan tengah barat AS akibat mengeringnya sungai dan kenaikan suhu air sungai di beberapa titik hingga 37,7 derajat celsius.
Minggu lalu, menurut laporan kantor berita Associated Press (AP) di Negara Bagian
Badan Pemantau Kekeringan AS melaporkan, hampir dua pertiga dari 48 negara bagian yang berada di dataran rendah mengalami kekeringan. Departemen Pertanian AS menyebutkan, lebih dari setengah jumlah kabupaten (county) yang mencapai 1.600 di 32 negara bagian mengalami bencana alam ini.
Hal yang sama dialami Korea Utara. Sebagian wilayah utara Korea tahun ini mengalami kekeringan sangat parah berdasarkan catatan sejarah sejak 105 tahun lalu. Demikian Kantor Meteorologi Korea Utara di Pyongyang melaporkan, sebagaimana dikutip AP.
Dua pertiga penduduk Korea Utara yang berjumlah 24 juta orang kini menghadapi kekurangan makanan kronis. Awal bulan ini, PBB meminta negara donor memberi bantuan kemanusiaan sebesar 198 juta dollar AS untuk negara ini.
Sebanyak 28.000 penduduk Korea, termasuk tentara, dimobilisasi untuk membantu mengairi lahan persawahan dan perkebunan. Sebanyak 13.000 pompa air dibangun untuk mengatasi kekeringan di daerah yang terdampak.
Korea Selatan melaporkan kekeringan yang terparah dalam abad ini setelah hampir dua bulan tidak mengalami hujan yang berarti.
Menurut pakar meteorologi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Edvin Aldrian, penyimpangan terlihat pada pola angin monsun di India. ”Biasanya angin monsun dari India akan tertahan di pegunungan Himalaya dan berbelok ke Banglades hingga menimbulkan hujan lebat di sana. Namun, tingginya massa udara dan energi yang kuat, angin monsun mampu meloncat hingga menimbulkan banjir di China, termasuk Beijing,” katanya. Beijing selama ini dikenal sebagai wilayah yang kering.
Anomali cuaca ini, menurut Edvin, mirip dengan
Di wilayah kutub hingga subtropis ada pergerakan gelombang massa udara di atmosfer yang melingkari kawasan. Pergerakannya cenderung ke arah barat dan timur.
Gelombang itu disebut gelombang Rossby sesuai nama penemunya, Carl-Gustav Rossby, pada tahun 1930-an. Gelombang itu berjalan karena dipicu dua pusat tekanan udara rendah di Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik, tepatnya di utara Samudra Atlantik dan perairan sekitar Kuroshio, Jepang, di Pasifik.
Karena dua ”motor penggerak” itulah gelombang Rossby terus bergerak ke arah timur dengan pola naik-turun, baik secara vertikal maupun horizontal. Jika pergerakannya terganggu atau terhenti, keseimbangan pola distribusi massa udara itu pun terganggu hingga menimbulkan cuaca ekstrem di lokasi gelombang itu ”parkir”. Hal ini terjadi karena akumulasi tekanan udara dan massa udara di daerah itu.
Menurut Edvin, yang juga Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG,