Kekeringan

Arus Hitam, Si Biang Keladi

Kompas.com - 08/08/2012, 03:25 WIB

YUNI IKAWATI

Kekeringan di dua pertiga daratan Amerika Serikat, hingga mengakibatkan pasokan kedelai ke Indonesia anjlok, bukan satu-satunya anomali cuaca di dunia saat ini. Banjir di Beijing hingga kematian ribuan ikan karena memanasnya air laut juga terjadi. Gangguan itu akibat Kuru Siwo, arus pasang warna hitam, yang berpusar di belahan utara bumi.

Penyimpangan cuaca dalam skala global ini berpangkal dari gangguan di wilayah utara Pasifik. Sumber pengganggu itu adalah arus Kuro Siwo atau Kuroshio. Dalam bahasa Jepang, Kuro Siwo berarti arus hitam alias arus Jepang, yakni arus laut yang mengalir di belahan utara bumi di Samudra Pasifik. Pola arus ini sama dengan yang terjadi di utara Samudra Atlantik yang disebut Arus Teluk (Gulf Stream).

Arus ini merupakan arus kuat di perbatasan perairan bagian barat. Penjalarannya mulai dari pantai timur Taiwan, lalu mengalir ke timur laut melewati Jepang hingga bertemu dengan arus dari utara Pasifik yang bergeser ke timur. Arus ini membawa air laut dari wilayah tropis yang hangat menuju kutub.

Jalur Kuro Siwo berada di selatan Jepang. Adapun fenomena lain yang dapat terbentuk adalah arus Pasifik Utara yang bergerak ke utara, arus California ke timur, dan arus Khatulistiwa Utara bergerak ke selatan.

Ikan mati

Dampak negatif yang ditimbulkan adalah tingginya tekanan di Amerika Serikat (AS) hingga tidak terjadi pengumpulan massa uap air di atas wilayah ini. Saat ini, di AS diberitakan ribuan ikan mati di kawasan tengah barat AS akibat mengeringnya sungai dan kenaikan suhu air sungai di beberapa titik hingga 37,7 derajat celsius.

Minggu lalu, menurut laporan kantor berita Associated Press (AP) di Negara Bagian Iowa, akibat suhu air sungai mencapai 36,1 derajat celsius, sekitar 40.000 ikan dan biota laut lain mati. Kerugian mencapai hampir 10 juta dollar AS. Kejadian ini belum pernah terjadi lebih dari 17 tahun terakhir, kata Mark Flammang, pakar biologi perikanan dari Departemen Sumber Daya Alam AS.

Badan Pemantau Kekeringan AS melaporkan, hampir dua pertiga dari 48 negara bagian yang berada di dataran rendah mengalami kekeringan. Departemen Pertanian AS menyebutkan, lebih dari setengah jumlah kabupaten (county) yang mencapai 1.600 di 32 negara bagian mengalami bencana alam ini.

Hal yang sama dialami Korea Utara. Sebagian wilayah utara Korea tahun ini mengalami kekeringan sangat parah berdasarkan catatan sejarah sejak 105 tahun lalu. Demikian Kantor Meteorologi Korea Utara di Pyongyang melaporkan, sebagaimana dikutip AP.

Dua pertiga penduduk Korea Utara yang berjumlah 24 juta orang kini menghadapi kekurangan makanan kronis. Awal bulan ini, PBB meminta negara donor memberi bantuan kemanusiaan sebesar 198 juta dollar AS untuk negara ini.

Sebanyak 28.000 penduduk Korea, termasuk tentara, dimobilisasi untuk membantu mengairi lahan persawahan dan perkebunan. Sebanyak 13.000 pompa air dibangun untuk mengatasi kekeringan di daerah yang terdampak.

Korea Selatan melaporkan kekeringan yang terparah dalam abad ini setelah hampir dua bulan tidak mengalami hujan yang berarti.

Menurut pakar meteorologi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Edvin Aldrian, penyimpangan terlihat pada pola angin monsun di India. ”Biasanya angin monsun dari India akan tertahan di pegunungan Himalaya dan berbelok ke Banglades hingga menimbulkan hujan lebat di sana. Namun, tingginya massa udara dan energi yang kuat, angin monsun mampu meloncat hingga menimbulkan banjir di China, termasuk Beijing,” katanya. Beijing selama ini dikenal sebagai wilayah yang kering.

Gelombang Rossby

Anomali cuaca ini, menurut Edvin, mirip dengan gelombang Rossby yang melanda daratan Eropa akhir tahun lalu. Ketika itu, gelombang Rossby mengalir ke arah timur tanpa putus bak ban berjalan. Ketika pergerakannya terganggu, muncul cuaca ekstrem, yaitu musim dingin ekstrem di Eropa.

Di wilayah kutub hingga subtropis ada pergerakan gelombang massa udara di atmosfer yang melingkari kawasan. Pergerakannya cenderung ke arah barat dan timur.

Gelombang itu disebut gelombang Rossby sesuai nama penemunya, Carl-Gustav Rossby, pada tahun 1930-an. Gelombang itu berjalan karena dipicu dua pusat tekanan udara rendah di Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik, tepatnya di utara Samudra Atlantik dan perairan sekitar Kuroshio, Jepang, di Pasifik.

Karena dua ”motor penggerak” itulah gelombang Rossby terus bergerak ke arah timur dengan pola naik-turun, baik secara vertikal maupun horizontal. Jika pergerakannya terganggu atau terhenti, keseimbangan pola distribusi massa udara itu pun terganggu hingga menimbulkan cuaca ekstrem di lokasi gelombang itu ”parkir”. Hal ini terjadi karena akumulasi tekanan udara dan massa udara di daerah itu.

Menurut Edvin, yang juga Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG, saat ini di kawasan Pasifik tidak terpantau adanya gejala El Nino atau La Nina. Untuk wilayah Indonesia sendiri, musim kemarau ini masih cenderung basah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau