Dunia Terus Soroti Myanmar

Kompas.com - 08/08/2012, 08:08 WIB

RIYADH, SELASA - Dunia terus menyoroti perkembangan situasi kemanusiaan pascakonflik yang terjadi di Myanmar. Pemerintah Arab Saudi, Selasa (7/8), menuduh Myanmar terlibat dalam ”pembersihan etnis” warga Rohingya.

Dalam kesempatan terpisah, Pemerintah Perancis mendesak otoritas Myanmar segera menunjukkan komitmen dan kemampuannya melindungi warga etnis minoritas, terutama warga Rohingya, tanpa diskriminasi.

Seperti dikutip kantor berita Arab Saudi, SPA, kabinet pemerintah negeri itu mengecam keras praktik pembersihan kelompok etnis dan serangan-serangan brutal yang dialami warga Rohingya.

Arab Saudi juga mengecam upaya Pemerintah Myanmar yang secara sengaja memaksa warga Rohingya hengkang dari negeri yang baru memulai proses reformasi itu. Kabinet pemerintahan Arab Saudi, yang dipimpin Raja Abdullah, itu juga menyerukan komunitas internasional menjalankan tanggung jawab mereka menyediakan perlindungan dan jaminan kualitas hidup warga Rohingya di Myanmar.

Arab Saudi juga mendesak adanya upaya lanjutan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa lebih lanjut di sana.

Sebelumnya, lembaga hak asasi manusia, Human Rights Watch (HRW), menuduh aparat keamanan Myanmar bertanggung jawab atas kerusuhan yang terjadi di Rakhine.

Menurut HRW, alih-alih memulihkan keamanan, aparat keamanan justru melakukan penembakan, pemerkosaan, penangkapan, dan penyerangan terhadap warga Rohingya.

Desakan Perancis

Dalam pernyataan di Paris, Perancis, Selasa, wakil juru bicara Kementerian Luar Negeri Perancis, Vincent Floreani, menegaskan pentingnya resolusi damai terpadu dalam sejumlah persoalan seputar etnis minoritas di Myanmar. ”Hal itu diperlukan dalam konteks rekonsiliasi nasional di negeri itu,” ujar Floreani.

Kementerian Luar Negeri Perancis juga mendesak Pemerintah Myanmar segera mengklarifikasi status warga Rohingya, terutama di kawasan Negara Bagian Rakhine, yang selama ini menjadi lokasi konsentrasi terbesar warga Rohingya di Myanmar.

”Pemerintah Myanmar harus memperjelas hak dan status kewarganegaraan mereka sehingga mereka bisa menikmati status itu dengan penghormatan penuh atas hak-hak asasi manusia mereka,” ujar Floreani.

Ia menambahkan, hingga saat ini masih ada kekhawatiran kekerasan dapat terulang, terutama yang dilakukan aparat keamanan terhadap warga sipil di sana. ”Kami meminta otoritas Myanmar untuk bisa menjaga seluruh warga sipil tanpa terkecuali atau diskriminasi, sekaligus menggelar penyelidikan atas kemungkinan kekerasan yang telah terjadi,” kata Floreani.

Seperti diwartakan sebelumnya, konflik horizontal bernuansa sektarian di Rakhine tercatat memakan korban jiwa sebanyak 80 orang, sesuai data resmi pemerintah. Selain itu, ribuan rumah dan bangunan juga hancur terbakar dan puluhan ribu warga terpaksa mengungsi.

Kebanyakan warga Rohingya melarikan diri ke Banglades. Namun, setiba di sana, mereka dipaksa kembali ke Myanmar oleh otoritas Banglades. (AFP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau