BANDUNG, KOMPAS.com — Meskipun kedelai impor dari negara seperti Amerika Serikat membanjiri Indonesia, sesungguhnya Indonesia kaya dengan varietas kedelai. Tercatat ada 73 varietas sejak puluhan tahun lalu.
Hal itu dikemukakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Haryono, di Bandung, Rabu (8/8/2012).
Dia menegaskan, sebetulnya Indonesia bisa bersaing dengan Amerika Serikat dalam hal produksi kedelai. Saat ini Indonesia mengimpor 1,8 juta ton kedelai setiap tahun untuk memenuhi konsumsi masyarakat.
"Indonesia sudah memiliki benih dari hasil persilangan dan cocok untuk ditanam di berbagai kondisi tanah," kata Haryono.
Selain itu, Haryono mengungkapkan, kedelai di Indonesia sudah bisa dipanen dalam waktu 80-90 hari, sedangkan kedelai di Amerika Serikat butuh waktu sekitar 130 hari.
Dengan demikian, meski tertinggal dalam produksi per hektar, benih kedelai Indonesia bisa "membalasnya" dalam sisi kecepatan panen.
Beberapa varietas Indonesia, antara lain, wilis, kaba, sinabung, grobogan, anjasmoro, argomulyo, burangrang, detam 2, tanggamus, dan gepak kuning.
Awalnya, lanjut Haryono, kedelai adalah tanaman yang cocok di negara daerah tropis, seperti Amerika Serikat, yang mendapat limpahan sinar matahari lebih panjang.
Pada musim panas, durasi penyinaran bisa mencapai 18 jam, sehingga ideal untuk bertanam kedelai. Namun, ada pula negara subtropika seperti Brasil yang berhasil menanam kedelai.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang