Biarkan Anak Belajar Makan Sendiri!

Kompas.com - 09/08/2012, 11:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Makan merupakan kegiatan menyenangkan. Kalimat ini patut ditanamkan orangtua kepada buah hatinya. Agar menyenangkan, maka orangtua harus kreatif mengenalkan kegiatan ini sejak anaknya masih di bawah usia satu tahun.

Para ibu mungkin pusing menghadapi perilaku batitanya yang susah makan karena anak melancarkan gerakan tutup mulut (GTM), atau anak hanya mau makan makanan yang disuka (picky eater). Tak jarang karena frustasi, ibu memberi bentakan, ancaman sampai hukuman kepada anak. Bukan bertambah baik, anak malah semakin sulit diarahkan saat waktu makan tiba.

Jika sudah dalam kondisi demikian, Ibu diimbau tidak lantas frustasi. Ketua Ikatan Konselor Menyusui Indonesia (IKMI) Nia Umar menyarankan para ibu untuk tetap tenang menghadapi perilaku anak. Para ibu dapat mencoba terapkan beberapa strategi berikut.

Apabila buah hati Anda sedang melancarkan GTM, maka siasati dengan membuat suasana makan menjadi momen yang menyenangkan. Misalnya, libatkan anak dalam kegiatan memasak sesuai usianya. Ibu dapat juga secara kreatif membuat variasi menu makanan, mengajak anak makan bersama-sama, atau siasati dengan memberi makan dalam porsi kecil namun sering.

Bila buah hati Anda seorang yang pemilih makanan, biasanya ia meniru perilaku orang-orang yang berada dekat di sekitarnya. Nah, bisa jadi perilaku pilah-pilih makanan ini karena melihat ibu dan ayahnya. Oleh karena itu, cobalah juga ubah perilaku Anda sambil mencari cara agar anak tidak jadi pemilih makanan lagi. Misalnya, Anda membuat makanan yang bisa langsung dipegang anak, atau membuat jus dan puree. Anda juga bisa menjadikan saat makan penuh imajinasi dengan bermain peran.

"Hal yang perlu diingat, orangtua harus menghormati kehendak dan kemauan anak dengan tidak memaksa. Orangtua jangan mudah menyerah dengan berani mencoba resep baru untuk anak," kata Nia yang ditemui di acara seminar MPASI bertajuk "Golden Standard for Golden Period, Jakarta, pekan lalu.

Nia mengatakan, salah satu teknik yang dapat diterapkan ibu untuk mengatasi anak susah makan adalah dengan membiarkan anak-anak mulai makan secara mandiri. Makan secara mandiri sering dikenal dengan istilah baby led weaning (BLW), yang bisa dilakukan ketika anak muai berusia 9 bulan. Dengan cara ini anak bisa mengenal makanan kemudian menyukainya secara alamiah.

Kegiatan makan mandiri ini mengajarkan anak makan sembari mengaktifkan kelima panca indera. Dari kegiatan ini, anak bisa merasakan halus, kasar, keras bentuk dan ukuran dari tanaman dan bahan makanan yang ia akan makan. Anak bisa mengenal dan memainkan warna-warna dalam makanan. Dari makan mandiri ini, anak bisa mengenal rasa-rasa alami makanan sehingga akan terus menyukainya sampai dewasa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau