KOMPAS.com - Pembangunan gedung-gedung tinggi perkantoran dan pusat perbelanjaan di kota besar menekan lahan hunian ke pinggiran kota atau banlieue. Entah, berapa tahun lagi di masa depan, mungkin Anda hanya dapat memilih ruang-ruang apartemen sebagai "rumah" di tengah kota.
Ya, kalaupun ada, tanah-tanah yang tersisa akan sangat mahal harganya. Memiliki pemasukan yang "cukup" mungkin belum akan mencukupi juga untuk membangun rumah berukuran normal untuk Anda dan keluarga.
Saat ini, di Jakarta Anda masih dapat melihat rumah-rumah berjarak tidak terlalu jauh dari pusat kota. Berbeda dengan di Jepang, harga tanah untuk membangun rumah di sana bukan hanya sangat mahal, tapi juga tanah yang tersedia jarang ada. Maka dari itu, penduduk Jepang mengantisipasinya dengan membuat rumah-rumah ultra-small.
Seperti dilansir dalam laporan CNN, Fuyuhito Moriya, pria berusia 40 tahun yang tinggal bersama ibunya di Jepang ini, menempati sebuah rumah berukuran hampir sama dengan sebuah ruang parkir mobil. Pengaturan di dalam rumah Fuyuhito mungkin memang tidak dapat diadopsi oleh semua orang. Baginya, hal terpenting bukan memiliki banyak barang, namun memiliki apa yang diperlukan.
"Ukuran itu tidak penting," kata Moriya.
"Yang lebih penting bagi saya adalah atmosfernya, keadaan, dan tetangga sekeliling," tambahnya.
CNN juga melaporan, bahwa permintaan akan rumah sekecil ini semakin meningkat di Jepang. Hal tersebut didorong oleh keadaan ekonomi dunia yang belum kunjung membaik.
Yasuhiro Yamashita, seorang arsitek Jepang mengatakan, "Orang-orang cenderung berpikir rumah-rumah diukur dari ruang lantai. Kami para arsitek berpikir dalam tiga dimensi".
Yasuhiro Yamashita adalah salah satu arsitek Tokyo ternama. Ia terkenal dengan karya-karya kyosho jutaku atau rumah ultra-small.
"Jika Anda mencoba membuat sebuah rumah berukuran normal di atas sebidang tanah sangat kecil, Anda akan membuat rumah sangat sempit. Jadi, untuk membuat rumah yang nyaman, kita harus memikirkan struktur dan pengaturan yang baru,"ujarnya.
Rumah-rumah berkonsep ultra-small akan meniadakan elemen-elemen tidak penting, seperti jalan masuk, lorong, dinding-dinding pembatas, dan lemari-lemari besar. Jendela dapat dibentuk dari berbagai ukuran dan bentuk.
Pada konsep bangunan ini, jendela dapat disebar di bagian manapun di dinding, termasuk di bagian paling dekat dengan lantai. Kamar mandi hanya dipisahkan dengan tirai. Perabotan dapat dilipat ke dalam dinding. Hal ini membuat ruangan dapat digunakan untuk keperluan apa saja.
Arsitek memang dapat bermain-main dengan imajinasi. Mereka dapat membuat dinding asimetris, lantai katilever, atau memenuhi rumah dengan cahaya matahari.
Menurut Azby Brown, penulis 'The Very Small Home: Japanese Ideas for Living Well in Lomited Space', para arsitek yang membangun rumah-rumah sangat kecil itu harus memiliki imajinasi untuk dapat "menipu" persepsi siapapun yang masuk ke dalam rumah ciptaannya. Jangan sampai, mereka merasa seperti dipenjara. Kuncinya adalah memastikan banyak cahaya alami masuk dan lancarnya sirkulasi udara.
Selain itu, jangan menghabiskan tempat untuk barang-barang tidak berguna. Fungsi adalah hal paling utama dalam membangun rumah ultra-small.
Namun, memang, perbedaan budaya mungkin membuat rumah ultra-small ini belum tentu dapat diadopsi di Indonesia. Namun, kemampuan manusia beradaptasi sudah terbukti tahan uji dan luar biasa. Bukan tidak mungkin, jika suatu hari nanti Anda tinggal di rumah-rumah ultra-small seperti yang dimiliki oleh Fuyuhito Moriya.
Tertarik?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang