Saat Stres, Pria Cenderung Suka Wanita Montok?

Kompas.com - 09/08/2012, 16:54 WIB

KOMPAS.com — Saat berada dalam situasi penuh tekanan, kaum pria memandang wanita yang bertubuh besar lebih menarik, demikian hasil temuan sebuah riset.

Para peneliti Inggris menemukan bahwa pria yang diekspos pada tugas-tugas yang dirancang untuk membuat mereka berada di bawah tekanan lebih menyukai wanita dengan ukuran tubuh bervariasi, tidak hanya yang ramping. Mereka menyimpulkan bahwa stres dapat berfungsi untuk mengubah penilaian terhadap pasangan potensial.

Hasil kerja tim peneliti dari London dan Newcastle itu dipublikasikan dalam jurnal Plos One.

"Ada banyak literatur yang mengatakan bahwa preferensi kita akan indeks massa tubuh (BMI) adalah hal yang baku, tetapi hal itu mungkin tidak benar," kata Dr Martin Tovee, dari Universitas Newcastle kepada BBC.

Dr Tovee dan koleganya, Dr Viren Swami, sebelumnya sudah melakukan penelitian terhadap faktor apa saja yang dapat mengubah preferensi BMI, termasuk kelaparan dan pengaruh media.

Tetapi, melalui riset ini, mereka bertekad untuk menyelidiki apakah perbedaan antarbudaya dalam preferensi ukuran tubuh terkait dengan stres juga direfleksikan dalam situasi stres jangka pendek.

"Jika Anda melihat lingkungan di mana makanan adalah hal yang langka, preferensi orang terhadap ukuran tubuh dalam pasangan potensial ikut berubah. [Preferensi] itu tampak lebih berat dibanding dengan lingkungan di mana ada banyak makanan dan dengan atmosfer yang lebih rileks," jelasnya.

Untuk menyimulasikan situasi peningkatan stres, sekelompok responden pria diposisikan dalam skenario wawancara dan berbicara di hadapan publik dan preferensi BMI mereka dibandingkan dengan grup kendali bebas stres.

Hasilnya mengindikasikan bahwa perubahan dalam "kondisi lingkungan" memicu perubahan preferensi berat badan menjadi lebih menyukai wanita bertubuh lebih berat dan pria menganggap perbedaan ukuran tubuh sebagai sesuatu yang menarik.

Preferensi fleksibel

"Perubahan-perubahan ini relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan lingkungan antarbudaya yang berbeda. Namun, mereka menunjukkan adanya faktor-faktor tertentu yang mungkin bercampur dan menyebabkan perubahan tersebut," kata Dr Tovee.

Riset itu mendukung studi lain yang menunjukkan bahwa persepsi daya tarik fisik berubah dengan tingkat ekonomi dan stres mental terkait dengan gaya hidup.

"Jika Anda mengikuti orang yang pindah dari area minim sumber daya ke area kaya sumber daya, Anda akan menemukan preferensi mereka berubah dalam jangka waktu 18 bulan. Dalam istilah psikologi evolusioner, Anda berusaha menyesuaikan preferensi mereka dengan apa yang berlaku dalam lingkungan tertentu."

Selain itu, para peneliti antusias menekankan bagaimana kondisi lingkungan dapat mengubah persepsi populer akan ukuran tubuh "ideal".

"Preferensi itu bersifat fleksibel. Mengubah media, mengubah gaya hidup Anda, semua itu dapat mengubah ukuran tubuh ideal Anda," kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau