Sekeping Emas Idaman Brasil

Kompas.com - 10/08/2012, 03:22 WIB

Tidak ada negara yang begitu ambisius merebut medali emas Olimpiade London 2012 selain Brasil. Bukan saja karena itu gelar satu-satunya yang belum mereka koleksi. Namun, karena kesuksesan di olimpiade dianggap tolok ukur awal bagi kesuksesan mereka saat menggelar Piala Dunia 2014. Selangkah lagi, mereka merengkuh emas itu.

Tinggal satu lagi rintangan yang harus mereka lewati untuk mewujudkan ambisi tersebut, yakni Meksiko, pada partai final di Stadion Wembley, London, Sabtu (11/8) pukul 15.00 waktu setempat atau pukul 21.00 WIB. Pada tahap seperti ini, harapan publik sepak bola Brasil jelas. Ukuran kesuksesan bagi tim ”Samba” di olimpiade ini adalah medali emas. Kurang dari itu dianggap gagal.

Pertaruhan dampak kegagalan itu besar. Mulai dari kepercayaan publik Brasil atas kans timnas mereka juara di Piala Dunia (PD), dua tahun mendatang, juga kepercayaan diri pemain Brasil menghadapi ajang akbar itu, hingga jabatan Pelatih Mano Menezes.

Jauh-jauh hari sebelum Olimpiade London 2012, Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) telah memberi ultimatum, jika gagal membawa pulang medali emas dari London, Menezes bakal dipecat. Setelah itu, ada perombakan besar di timnas karena, bagi Brasil, kini masuk tahap final persiapan Piala Konfederasi 2013 dan PD 2014.

Sebagai tuan rumah PD 2014, Brasil tidak menjalani laga-laga kualifikasi. Itu sebabnya, ajang seperti olimpiade dan laga-laga persahabatan ke depan menjadi barometer mengukur kesiapan mereka tampil di PD 2014.

”Sejak saya ditunjuk melatih timnas, saya berulang kali menegaskan pentingnya olimpiade sebagai turnamen bagi Brasil, dari segi catatan sejarah dan tahap krusial persiapan kami tampil di Piala Dunia,” kata Menezes dalam wawancara dengan majalah World Soccer edisi Juli 2012.

”Para pemain yang tampil di London 2012 akan membentuk 70 persen skuad (Brasil di Piala Dunia) 2014. Bagi Brasil, olimpiade ini jauh lebih penting daripada sebelumnya.”

Separuh tim senior

Meski ada ketentuan tim sepak bola di olimpiade harus diperkuat pemain usia di bawah 23 tahun (U-23) plus tiga pemain senior, Brasil seolah turun dengan separuh kekuatan tim senior mereka. Hal itu karena beberapa pemain (U-23) mereka menjadi bintang dan andalan Brasil, seperti Neymar, Oscar, Leandro Damiao, Rafael da Silva, Alexandre Pato, dan Paulo Henrique Chagas De Lima alias Ganso.

Ditambah sejumlah pemain di atas U-23, seperti bek Thiago Silva, Marcelo, dan striker Givanildo Vieira De Sousa atau Hulk, tim olimpiade Brasil tak ubahnya mirip tim senior. Jadi, wajar jika mereka sangat difavoritkan sejak awal olimpiade.

Status favorit mereka kian bertambah dengan kejutan Spanyol dan Uruguay tersingkir di penyisihan grup serta tuan rumah Inggris Raya di perempat final. Duel semifinal melawan Korea Selatan, yang mendepak Inggris Raya lewat drama adu penalti, bagai karpet merah yang memuluskan langkah Brasil ke babak final.

Meski demikian, tidak berarti semua berjalan lancar dan bukan tidak ada masalah bagi pasukan polesan Menezes. Meski sukses memenangi dua laga pembuka melawan Mesir dan Belarus pada penyisihan Grup C, penampilan Brasil masih mencemaskan.

Ketika memukul Mesir 3-2, skor mereka nyaris terkejar setelah Mesir menceploskan dua gol balasan di babak kedua. Padahal, mereka memimpin 3-0 di babak pertama. Hal berbeda terjadi saat mereka memukul Belarus, 3-1. Mereka kebobolan gol terlebih dahulu pada menit-menit awal sebelum akhirnya membalas dengan tiga gol.

Hal serupa terlihat saat mereka menaklukan tim underdog Honduras, 3-2, di perempat final. Pada laga tersebut, Brasil bahkan dua kali tertinggal, yakni di awal babak pertama dan babak kedua melawan tim yang mengakhiri laga dengan sembilan pemain. Gol balasan pertama (melalui Leandro Damiao) tercipta setelah wasit mengusir bek Honduras, Wilmer Crisanto.

Gol balasan kedua Brasil (melalui Neymar) tercipta lewat penalti. Dari semua laga itu, belum terlihat konsistensi permainan sepanjang 90 menit dari anak-anak asuhan Menezes.

”Mereka harus waspada, di turnamen kecil seperti ini, Anda bisa menanggung getah karena kesalahan kecil,” kata Carlos Alberto Parreira, mantan pelatih timnas Brasil yang hadir di olimpiade sebagai utusan FIFA.

Waspadai Meksiko

Kini, dengan lolos ke final, medali emas olimpiade idaman Brasil pun tersaji di depan mata. Prestasi ini merupakan final olimpiade pertama bagi Brasil dalam 24 tahun terakhir.

Sejak kalah di final Olimpiade Seoul 1988, mereka tak pernah menembus final. ”Itu bukti betapa sulit mencapai final olimpiade,” ujar Menezes.

Pertanyaannya, mampukah pasukan Menezes menyempurnakan penampilan di olimpiade dengan meraih emas? Apakah mereka bakal terpeleset lagi, seperti di Olimpiade Seoul 1988 dan Los Angeles 1984?

”Kami semua memikirkan medali emas sejak 9 Juli,” kata Marcelo, bek kiri Brasil, merujuk hari pertama persiapan tim Brasil untuk olimpiade.

”Kami menginginkan emas. Banyak orang juga menginginkan emas. Semua orang di Brasil menginginkan medali itu. Kami akan berjuang memetik kemenangan. Kami akan tampil habis-habisan di lapangan untuk membela negara kami,” ujar Marcelo.

Meksiko, lawan mereka di final, bukanlah tim yang boleh dipandang sebelah mata. Mereka tidak sesempurna Brasil yang memenangi semua laga dalam perjalanan ke final. Setelah bermain imbang 0-0 melawan Korea Selatan di penyisihan grup, mereka perlu perpanjangan waktu untuk mendepak Senegal, 4-2, di perempat final.

”Saya katakan sejak awal, Meksiko adalah tim dengan persiapan lebih bagus untuk tampil di olimpiade,” ujar Menezes. Rangka tim mereka adalah tim yang tampil di Copa America 2011 dan tim yang menjuarai Pan America Games. Jika tidak sekarang, kapan lagi merebut emas olimpiade?(MH SAMSUL HADI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau