Ramadhan 2012

6.000 Pemudik Tidak Terangkut KA

Kompas.com - 10/08/2012, 08:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekitar 6.000 calon pemudik kehilangan kesempatan mudik menggunakan kereta api tahun ini. Hal itu terjadi karena kebijakan PT Kereta Api Indonesia menjual tiket sesuai dengan jumlah tempat duduk. PT Kereta Api Indonesia mencatat akan kehilangan sekitar 25 persen pendapatan akibat kebijakan itu.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Ignasius Jonan di Jakarta, Kamis (9/8/2012), menjelaskan, kebijakan tersebut diambil demi kenyamanan dan keselamatan pemudik. Selama ini, ketika mudik, PT KAI selalu dituduh hanya mementingkan keuntungan. Angkutan kereta api pun dinilai tidak manusiawi.

”Pendapatan PT KAI memang kemungkinan turun sekitar 25 persen akibat kebijakan tersebut. Akan tetapi, yang terpenting adalah pelayanan yang baik bagi pemudik,” kata Jonan ketika meninjau kesiapan kereta api di Stasiun Kota, Jakarta.

Tahun 2011, PT KAI masih menerapkan kebijakan 100 persen plus 50 untuk kereta kelas ekonomi dan 100 persen plus 25 untuk kereta kelas bisnis. Artinya, dalam satu kereta masih ditoleransi ada 50 orang atau 25 penumpang tambahan yang tidak mendapat tempat duduk. Tahun ini, kebijakan itu tidak ada lagi.

Data PT KAI menunjukkan, tahun 2011 pemudik yang menggunakan kereta api 34.000 orang per hari. Dengan kebijakan penjualan tiket sesuai kapasitas rangkaian, pemudik yang terangkut kereta api hanya 28.000 orang per hari. Maka, sekitar 6.000 pemudik yang biasanya menggunakan kereta api dengan tiket tanpa tempat duduk tak akan terangkut tahun ini.

Sebagai alternatif, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono menyampaikan, PT KAI akan bekerja sama dengan Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan untuk mengangkut para pemudik tersebut dari stasiun.

Selain itu, Kementerian Perhubungan setidaknya akan menambah kapasitas hingga 2.300 kursi untuk melayani pemudik dengan mengoperasikan tiga kereta api ekonomi AC baru. Kereta baru dengan pendingin ruangan tersebut akan diluncurkan pada 14 Agustus di Jakarta.

Direktur Keselamatan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Hermanto D menjelaskan, ketiga rangkaian tersebut akan melayani perjalanan Stasiun Pasar Senen, Jakarta-Stasiun Poncol, Semarang, Jawa Tengah, dan Stasiun Pasar Senen-Stasiun Malang, Jawa Timur. (RYO/APA/ADH)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau