China-indonesia

Tingkatkan Stabilitas Laut China Selatan

Kompas.com - 11/08/2012, 02:38 WIB

JAKARTA, Kompas - China akan terus bekerja sama dengan Indonesia untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan. Sementara itu, Indonesia berharap penyelesaian diplomatik lebih ditekankan dalam mengatasi masalah Laut China Selatan ini.

”Kami ingin meningkatkan kemitraan strategis dengan Indonesia dan memperkuat kerja sama kita di kawasan. Untuk menjaga keamanan dan stabilitas di Laut China Selatan, China akan bekerja sama dengan Indonesia,” kata Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi di Jakarta, Jumat (10/8), setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa.

”Semua pihak diharapkan menciptakan situasi kondusif. Perlu sikap menahan diri dan lebih arif lagi menanggapi masalah ini,” kata Marty. Ia menambahkan, proses diplomatik akan ditingkatkan. Isu-isu yang muncul harus dikelola dengan baik secara diplomatis serta lebih sedikit lagi pernyataan-pernyataan di hadapan publik.

Indonesia merupakan mediator informal di antara pihak yang bersengketa mengenai Laut China Selatan. ”Indonesia selalu berupaya menjadi jembatan,” kata Marty lagi.

Selain bertemu dengan Marty, Yang Jiechi juga bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara. Menurut Juru Bicara Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah, pertemuan Presiden Yudhoyono dan Menlu Yang Jiechi menggarisbawahi pentingnya bagi ASEAN serta China untuk fokus pada penyusunan deklarasi tata berperilaku (DOC) menuju kode tata berperilaku (COC).

”Jadi, apa yang sudah disepakati dalam pertemuan di Bali tahun lalu diwujudkan prosesnya lebih lanjut antara pihak China dan ASEAN,” tuturnya.

Ia menyampaikan, pihak China memberikan respons sangat positif. ”Mereka berkomitmen terus menyelesaikan substansi dari DOC,” kata Faizasyah.

Ketika diadakan pertemuan menteri luar negeri ASEAN di Phnom Penh, Juli lalu, tidak ada perkembangan mengenai isu tersebut.

Suriah

Presiden Yudhoyono juga berharap China memainkan peran lebih besar dalam penyelesaian masalah Suriah. China dinilai mampu melakukannya karena negara ini merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

”Bapak Presiden sangat berharap ada peran yang dimainkan China sebagai salah satu negara dari lima negara besar di Dewan Keamanan. Itu esensi pembicaraan terkait masalah Suriah,” kata Faizasyah.

Menurut Marty, pandangan Indonesia dan China mengenai persoalan Suriah adalah sama, kekerasan harus dihentikan dengan pertimbangan kemanusiaan.

”Dengan pertimbangan kemanusiaan, situasi di Suriah harus distabilkan. China sebagai anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki tanggung jawab khusus,” kata Marty lagi. (ato/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau