BULUKUMBA, KOMPAS.com — Di saat puasa, bermain petasan memang mengasyikkan. Tetapi, tidak untuk anak-anak di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Mereka lebih memilih bermain meriam bambu.
Meriam bambu, selain harganya murah, juga aman. Mainan yang enak dimainkan sambil ngabuburit ini juga bisa dimainkan secara berkelompok.
Seorang pemain meriam bambu, Fadil (12), mengaku memainkan meriam bambu setiap sore, sembari menunggu waktu berbuka puasa di tengah persawahan, bersama sembilan orang temannya.
"Ini mainnya berkelompok sehingga seru jika dimainkan ketimbang petasan. Apalagi jika suara meriamnya keras, permainan akan semakin seru," ujarnya sambil tertawa, saat berbincang dengan Kompas.com, Minggu (5/8/2012).
Untuk mendapatkan meriam bambu ini, Fadil beserta teman-temannya saling mengumpulkan uang untuk membeli bambu jenis petung yang tidak terlalu tua sepanjang 2 meter dan sedikit minyak tanah. Bambu kemudian dibagi menjadi dua, kemudian masing-masing bambu dilubangi di salah satu ruasnya sebagai tempat pemantik.
Seusai dilubangi, lubang bambu tempat pemantiknya itu kemudian diisi minyak tanah atau karbit sebagai bahan bakar untuk menghasilkan suara ledakan seperti meriam. Kalah atau menang, kata Fadil, ditentukan dari suara yang dihasilkan meriam bambu masing-masing kelompok. Jika suara meriam bambu lawan bunyinya kecil, pihak lawan lainnya akan berteriak dan kembali membalas dan membunyikan meriam bambunya. Duaaarr!!!
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang