Laporan dari turki

Melihat Wajah Suriah dari Antakya

Kompas.com - 13/08/2012, 03:53 WIB

Menjelang pendaratan pesawat Turkish Airlines di Bandar Udara Hatay, Turki, Sabtu (11/8), sekitar pukul 17.30 waktu setempat, dari balik jendela pesawat, terlihat pemandangan hamparan sawah luas terkotak-kotak yang hijau dengan latar belakang gugusan perbukitan tinggi.

Hatay adalah provinsi yang terletak di ujung tenggara Turki. Provinsi itu berbatasan langsung dengan Suriah, persisnya dengan Provinsi Idlib dan Aleppo. Kota Antakya adalah kota terbesar yang sekaligus ibu kota Hatay. Meski menjadi kota terbesar di provinsi ini, penduduk Antakya tak lebih dari 200.000 jiwa. Bandara Hatay juga terbilang kecil, menyerupai bandar udara di beberapa kota kecil di Indonesia.

Keluar dari terminal kedatangan, kedatangan Kompas telah ditunggu Mohamed Asif, rekan wartawan dari harian Zaman, Turki. ”Ahlan Wasahlan fi Hatay,” sapa Asif dengan menggunakan bahasa Arab, yang berarti ”selamat datang di Hatay”.

Kami kemudian berjalan menuju mobil milik Asif yang diparkir di lapangan parkir depan terminal utama bandara. Asif kemudian mengarahkan mobil ke jalan raya, dan kami meluncur ke Antakya, yang berjarak sekitar 35 kilometer dari bandara itu.

Ketika ditanya soal kemampuannya berbahasa Arab, Asif sangat antusias. ”Oh ya, saya bisa bahasa Arab dengan fasih. Separuh warga Provinsi Hatay menggunakan bahasa Arab karena dulu pada masa kolonial Perancis, wilayah Hatay adalah bagian dari Provinsi Aleppo. Jadi, wilayah Hatay pernah menjadi bagian Suriah,” ungkap Asif.

Karena itu, penduduk Provinsi Hataya terbiasa menggunakan dua bahasa, yakni Turki dan Arab. ”Jangan heran jika Anda sering mendengar penduduk berbicara bahasa Arab di jalan- jalan kota Antakya. Apalagi ditambah ribuan pengungsi Suriah yang kini membanjiri kota ini,” lanjutnya.

Dalam catatan sejarah, wilayah Hatay yang juga dikenal dengan sebutan Iskenderun resmi masuk wilayah Turki menyusul hasil referendum rakyat tahun 1939. Rakyat Hatay dalam referendum itu memilih bergabung dengan Turki.

Namun, Suriah hingga saat ini masih sering mengklaim Iskenderun atau Hatay sebagai wilayah kedaulatan mereka. Suriah menuduh Turki curang saat menggelar referendum tahun 1939 dengan menghadirkan warga Turki dari luar Hatay untuk ikut referendum.

Tenang

Sepanjang jalan dari bandara menuju Antakya, suasana terasa tenang dan damai. Memasuki kota Antakya, terlihat wajah kota yang bersih, modern, dan cukup indah. Apalagi karena kota ini terletak di lembah dengan latar belakang perbukitan.

Kota Antakya dikenal sebagai kota kosmopolitan. Latar belakang agama penduduknya cukup beragam. Terdapat warga Muslim, Kristen, dan Yahudi, serta warga Muslim-nya berasal dari kelompok Sunni, Syiah Alawit, dan suku Kurdi.

”Meskipun beragam latar belakang agama dan mazhab, penduduk kota Antakya dikenal harmonis,” kata Asif.

Suasana bulan Ramadhan pun cukup terasa di Antakya. Pada Sabtu sore itu, penduduk kota tumpah ruah di taman-taman kota menunggu saat berbuka puasa.

Kemudian kami segera menuju halaman Belediyet Antakya, atau kantor wali kota Antakya, untuk berbuka puasa massal bersama penduduk kota. Pemandangan menarik terlihat pada saat menjelang berbuka puasa itu di halaman Belediyet. Sekelompok orang berseragam merah membentuk lingkaran menari-nari dengan membaca zikir dan menabuh gendang.

”Ini tradisi penduduk kota Antakya untuk berbuka puasa bersama di halaman Belediyet ketika bulan Ramadhan. Yang membiayai santapan buka puasa di sini adalah wali kota dan sumbangan para dermawan,” kata Asif.

Seusai waktu buka puasa, suasana Antakya tampak semakin meriah karena saat itu adalah malam Minggu yang oleh penduduk setempat disebut malam panjang. Hari Minggu adalah hari libur resmi di Turki. Penduduk kota bersantai di taman kota sampai larut malam. Bagi kalangan kelas menengah, pilihannya adalah nongkrong di kafe sampai waktu sahur tiba.

Asif menjelaskan, Antakya akhir-akhir ini semakin ramai dengan kedatangan pengungsi Suriah. Mereka lari dari peperangan di negeri asal mereka ke Antakya dan wilayah lain di Turki.

Menurut Asif, pengungsi Suriah di Turki sudah mencapai 100.000 orang. Namun, hanya separuhnya yang tercatat resmi. Separuhnya lagi tidak tercatat karena datang seperti pendatang biasa, terutama dari kalangan yang punya uang.

”Para pengungsi yang punya uang langsung menyewa apartemen di Antakya atau kota lain. Karena itu, harga sewa apartemen di Antakya naik. Dulu sebelum revolusi Suriah 200 dollar AS-250 dollar AS per bulan, sekarang menjadi 300 dollar AS-350 dollar AS per bulan,” ungkap Asif.

Namun, sering kali ada kasus pengungsi Suriah yang nakal karena mereka kadang tidak mau membayar uang sewa apartemen atau tidak mau membayar tagihan iuran listrik dan air sehingga sering bermasalah dengan tuan rumahnya.

(Musthafa Abd Rahman, dari Antakya, Turki)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau