Perumahan

Perumnas Jajaki dengan BUMN Lain Menggalang Bank Tanah

Kompas.com - 13/08/2012, 04:15 WIB

Jakarta, Kompas - Perum Perumnas menjajaki kerja sama dengan badan usaha milik negara untuk penyediaan lahan bagi perumahan rakyat. Sinergi lintas BUMN semakin diperlukan untuk mengatasi kekurangan rumah rakyat yang terus menumpuk.

Direktur Utama Perum Perumnas Himawan Arief, di Jakarta, akhir pekan lalu, mengemukakan, BUMN di bidang perumahan itu kini menghadapi kendala stok lahan (land bank) untuk penyediaan rumah rakyat. Stok lahan Perum Perumnas saat ini tinggal 1.900 hektar (ha) yang tersebar di sejumlah daerah.

Hingga tahun 2010, kekurangan rumah rakyat sudah mencapai 13,6 juta unit. Kementerian Perumahan Rakyat mencatat laju kekurangan rumah terus bertambah sekitar 700.000 unit per tahun karena minimnya pasokan dan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah.

Menurut Himawan, kerja sama pertanahan dengan lintas BUMN diperlukan agar persoalan kekurangan rumah bisa ditekan. Saat ini, pihaknya sedang menjajaki kerja sama dengan BUMN bidang perkebunan dan transportasi untuk memanfaatkan lahan kosong BUMN tersebut bagi pembangunan rumah pegawai negeri sipil (PNS).

Komitmen awal BUMN perkebunan adalah menyediakan lahan seluas 800 ha di Sumatera. BUMN transportasi berencana menyediakan lahan di Jakarta, Surabaya, dan Bandung.

”Penandatanganan kerja sama sudah diteken, tinggal menunggu persetujuan Kementerian BUMN,” ujarnya.

Ia menambahkan, total nilai lahan BUMN yang belum termanfaatkan hingga saat ini mencapai Rp 500 triliun, yang terbesar di bidang perkebunan dan transportasi. Selain kerja sama lintas BUMN, Perum Perumnas juga memanfaatkan hibah lahan pemerintah daerah (pemda) untuk pembangunan rumah. Kerja sama dengan 57 kabupaten/kota dilakukan pada awal April 2012.

”Sinergi dengan kemitraan strategis menjadi penting untuk bisa menggenjot mass product (produksi massal) perumahan. Dibutuhkan stok lahan, akses pendanaan murah, dan pembenahan sumber daya manusia,” ujar Himawan.

Pihaknya menargetkan dalam lima tahun ke depan mampu menggenjot produksi rumah rakyat hingga 100.000 unit per tahun.

Jawa masih sulit

Sementara itu, Direktur Pemasaran Perum Perumnas Teddy Robinson mengemukakan, pasokan rumah untuk tahun 2012 diperkirakan hanya 15.000 unit. Minimnya ketersediaan lahan masih menjadi faktor penghambat utama.

Pasokan lahan milik pemda di Jawa masih sangat sulit diharapkan. Padahal, kebutuhan rumah terbanyak berada di Pulau Jawa. ”Masih sulit mengharapkan pemda di Jawa menghibahkan lahan untuk perumahan penduduk karena lahan semakin sempit,” ujarnya.

Dari kerja sama pengadaan lahan dengan 57 kabupaten/kota, hingga kini 10 kabupaten/kota sudah berkomitmen menghibahkan lahan. (LKT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau