Ada Uang Palsu Layak Bank

Kompas.com - 15/08/2012, 05:14 WIB

BOGOR, KOMPAS - Penyidik Kepolisian Resor Bogor Kota mengungkap peredaran uang palsu pecahan Rp 100.000 yang cetakannya sangat mirip dengan uang asli. Polisi masih menyelidiki dalang di balik produksi dan penyebaran uang palsu yang disebut para pelaku sebagai uang ”layak bank” itu.

Peredaran uang palsu tersebut terungkap setelah petugas menangkap dua pengedar, yakni An (42) dan Abd (48), di Tugu Kujang, Kota Bogor, Jawa Barat, pada Senin malam. Dari tangan pelaku, polisi menemukan dua ikat uang pecahan Rp 100.000 dengan nilai total Rp 20 juta.

Uang palsu tersebut hendak dipasarkan dengan harga separuhnya, yaitu Rp 10 juta, kepada polisi yang menyamar sebagai konsumen. Ulah para pelaku diketahui polisi dari pengembangan kasus.

Seperti uang asli

Polisi menilai kualitas dari uang palsu ini sudah sangat bagus sehingga bisa mengecoh konsumen yang tidak waspada.

”Kalau kami menilai, kualitas uang palsu ini sudah bagus. Kertasnya saat diraba tidak terasa licin tetapi kasar, seperti uang asli. Kemudian jika diterawang juga terlihat tanda air (watermark),” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bogor Kota Ajun Komisaris Didik Purwanto, Selasa (14/8).

Hanya saja, kata Didik, jika diteliti lebih lanjut, ada beberapa kelemahan, seperti tinta yang terlalu tebal jika dibandingkan dengan uang asli. Selain itu, nomor seri uang palsu tersebut umumnya identik.

Waspada saat terima uang

Dengan terungkapnya kasus ini, polisi mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati jika hendak menukar uang. Pasalnya, intensitas peredaran uang baru yang cukup tinggi menjelang hari raya Lebaran kerap dimanfaatkan para pelaku untuk mengedarkan uang palsu.

”Sebaiknya jika hendak menukarkan uang jangan kepada orang tidak dikenal, tetapi melalui bank resmi saja. Apalagi selain pecahan Rp 100.000, para pelaku juga mengedarkan uang dengan pecahan lebih kecil, seperti Rp 50.000,” kata Didik.

Diduga dari Sukabumi

Menurut An, salah satu pengedar yang tertangkap, uang palsu yang disebut ”layak bank” itu didapatkannya dari seseorang bernama Sal, asal Sukabumi. Namun, dia mengaku tidak mengetahui siapa yang memproduksi uang itu, termasuk cara produksinya.

Polisi menduga uang tersebut tidak dicetak dengan menggunakan printer seperti umumnya dilakukan pelaku lainnya.

”Saya kenal dengan Sal itu baru dua bulan. Saya hanya dapat komisi 10 persen dari nilai jual. Namun, uang ini susah laku karena kualitasnya bagus dan harganya mahal. Satu uang asli berbanding dua palsu. Kalau yang biasa, bisa berbanding tiga atau empat uang palsu,” tuturnya.

Didik mengaku pihaknya masih mendalami pencetak uang palsu itu. Pihaknya masih memburu Sal yang diduga menjadi ”otak” di balik peredaran uang palsu itu.

Para pelaku, An dan Abd, akan dijerat dengan Pasal 245 Kitab Undang-undang Hukum Pidana dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun penjara.

Uang palsu di bandara

Seminggu sebelumnya, Minggu (12/8), aparat Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Khusus Bandara Soekarno-Hatta juga menangkap TS, seorang penumpang pesawat yang membawa uang palsu. Polisi menyita 349 lembar uang palsu pecahan Rp 100.000.

Namun, warna uang palsu ini, berdasarkan pengamatan visual, terlihat lebih pucat dibandingkan dengan uang asli. Selain itu, uang palsu tersebut juga terasa beda saat diraba dibandingkan dengan uang asli.

Nomor seri uang palsu itu ada yang sama, tetapi ada pula yang berbeda. Saat diterawang, bayangan gambar yang terlihat di uang palsu itu juga terlihat beda dibandingkan dengan uang asli.

”Menurut pengakuan tersangka, dia mendapatkan uang palsu ini dengan cara membeli di Jawa Timur. Dia membeli seharga Rp 12 juta dan mendapatkan uang (palsu) sebanyak Rp 40 juta. Melihat ada keuntungan, pelaku pun tergiur dengan uang tersebut,” ujar Kepala Subbagian Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Khusus Bandara Soekarno-Hatta Ajun Komisaris Agus Tri di Tangerang, Banten, saat itu. (GAL/CAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau