Palagan Kuliner di Utara Yogya

Kompas.com - 15/08/2012, 07:41 WIB

Budi Suwarna

LIMA tahun yang lalu, Jalan Palagan Tentara Pelajar masih diapit sawah dan ladang. Kini, aneka restoran mengapit jalan sempit di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu. Daerah yang dulu senyap kini menjadi ramai.

Memasuki Jalan Palagan, kita seperti memasuki labirin kompleks restoran yang sedang tumbuh. Di kiri-kanan jalan yang panjangnya sekitar empat kilometer itu berdiri aneka restoran besar, antara lain, Pecel Solo, Sasanti, Ikan Bakar Cianjur, Taipan Suki, Naniek Resto, Pelem Golek, Kapulaga, Kangen Laut, Paripari, Sego Abang Bale Kedhaton, Ayam Keprek Istimewa, Sayur Desa, Dae Jang Geum, Bumbu Djawa, Nasi Pecel Yu Sri, dan Family Resto Asfira. Di luar itu, ada puluhan tempat makan berkelas warung makan di sana.

Tidak hanya tumbuh di pinggir jalan, tetapi restoran bahkan merambah hingga ke areal-areal yang dulu paling senyap di desa-desa di kawasan Kecamatan Ngaglik. Restoran Ikan Bakar Jimbaran dan Sapi Bali, misalnya, tumbuh di areal persawahan dan ladang tebu. Untuk mencapai kedua restoran itu, kita harus berbelok dari Jalan Palagan dan memasuki jalan desa yang sempit.

Kami menyusuri Jalan Palagan, Selasa (31/7/2012), ketika bayang-bayang Gunung Merapi di sebelah utara mulai tenggelam di balik malam. Kawasan ini benar-benar telah berubah. Petak-petak sawah berubah menjadi restoran dan perumahan. Kerlap-kerlip ribuan kunang-kunang sudah tergantikan cahaya ribuan lampu neon yang jauh lebih terang. Aroma lumpur sawah berganti menjadi aroma bumbu masakan yang menguap dari dapur- dapur restoran dan rumah makan.

Malam itu kami mampir ke Restoran Pelem Golek yang berkonsep alam. Restoran yang bisa menampung lebih dari 200 orang dalam waktu bersamaan itu dilewati Kali Buntung—anak Sungai Trasi yang berhulu di Gunung Merapi. Pondok-pondok tempat makan dibuat menghadap ke kali yang pinggirnya masih rimbun oleh pepohonan. Lampu-lampu bercahaya lembut kekuningan menghadirkan suasana tenang.

Menu yang kami pilih malam itu adalah gurami kurma yang manis dan beraroma rempah. Ada pula sepiring udang goreng yang gurih dalam balutan telur asin. Kedua menu itu cocok disantap dengan sambal, tumis sayur, dan nasi hangat. Menu lainnya cukup menarik. Ada aneka ikan laut dengan aneka saus buah-buahan segar, mulai dari stroberi, pepaya, jeruk, anggur, kelapa muda, nanas, hingga mangga. Rasanya ramai, mulai gurih, manis, hingga asam.

Lain waktu, kami mampir di Restoran Pecel Solo yang kental dengan suasana Jawa. Bangunan restoran berupa rumah joglo kayu yang penuh dengan ukiran rumit. Menu yang disajikan antara lain pecel kampung bersaus kacang tanah atau wijen. Kedua menu itu sedap disantap dengan empal, ayam goreng, dan rempeyek.

Jika Anda ingin mencicipi sejumput Bali di tengah pedesaan Sleman, Anda bisa memilih Restoran Ikan Bakar Jimbaran. Anda bisa menyantap aneka ikan laut bakar dengan sambal matah khas Bali yang terdiri dari irisan bawang merah mentah, serai, cabai, minyak sayur, dan perasan jeruk limau nan segar.

Kalau bosan dengan menu Nusantara, Anda bisa memilih restoran yang menyediakan menu Barat, Jepang, Korea, atau Thailand.

Pusat kuliner

Begitulah, kawasan pedesaan itu kini menjadi pusat kuliner baru di utara Kota Yogyakarta. Fenomena serupa sebelumnya terjadi juga di kawasan Seturan, Sleman, yang dulunya areal persawahan dan kini berubah menjadi sentra kuliner dan tempat nongkrong anak muda.

Thomas Agus Soegiarto, pemilik Pelem Golek, mengatakan, aneka restoran mulai tumbuh di kawasan Jalan Palagan sejak lima tahunan lalu. ”Pelan-pelan daerah ini pun menjadi pusat kuliner baru,” ujar Thomas yang mendirikan Pelem Golek tahun 2006.

Sebelumnya, dia pernah dua kali membuka restoran di daerah lain, tetapi dua-duanya bangkrut. ”Setelah saya buka di Jalan Palagan, barulah usaha restoran saya lancar,” ujar Thomas.

Malam itu, Thomas dan karyawannya sibuk melayani ratusan orang yang datang untuk berbuka puasa. Semua tempat makan di restoran milik Thomas telah diduduki tamu. ”Suasana seperti ini berlangsung mulai minggu kedua bulan puasa setiap tahun. Puncaknya biasanya pada hari kedua dan ketiga Lebaran ketika banyak pemudik masuk Yogyakarta. Tamu benar-benar membeludak, dan kami sering panik,” ujar Thomas.

Saking membeludaknya, tahun lalu, Thomas sampai harus menerapkan sistem buka tutup. Ia membuka gerbang masuk ketika tempat duduk masih tersedia di restorannya. Jika tempat duduk terisi semua, ia segera menutup gerbang restoran.

Restoran-restoran lain umumnya juga diserbu ribuan tamu selama bulan puasa dan libur Lebaran. Kawasan Jalan Palagan akan menjadi ”palagan” atau ”medan tempur” ribuan orang yang berebut tempat makan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau