Lebaran 2012

4.100 Tiket Kereta Tak Berlaku

Kompas.com - 15/08/2012, 09:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 4.100 tiket kereta api semua kelas keberangkatan dari Stasiun Senen, sejak Kamis (9/8/2012) atau H-10 Lebaran sampai Selasa (14/8/2012) kemarin atau H-5 Lebaran, dinyatakan tak berlaku atau hangus. Diduga tiket ini dibeli dari calo. Pemudik harus membeli ulang tiket kereta.

”Pemudik yang sudah mempunyai tiket namun tidak sesuai dengan identitasnya, maka dia harus membeli tiket baru. Dalam hal ini kami tidak memberi toleransi. Ini demi kenyamanan penumpang sendiri,” ujar Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) I Mateta Rijalulhaq, Selasa (14/8/2012).

Menurut Mateta, ribuan tiket tersebut dinyatakan tidak berlaku karena identitas yang tertera dalam tiket tidak sama dengan identitas calon penumpang. Diduga kuat, tiket itu dibeli dari calo.

Ditambahkan, meski tiket diklaim dibeli oleh saudara dari si pemilik tiket dan telah pula menunjukkan identitas sesuai nama di KTP, tetap tidak bisa digunakan. ”Bagaimana kami percaya itu saudaranya? Kalau dengan menunjukkan KK (kartu keluarga), itu baru bisa,” ujarnya.

Ia mengatakan, kebijakan tersebut sejak 1 Juli 2012 disosialisasikan. ”Kalau dulu sebelum 1 Juli, penumpang masih bisa naik meski identitas di tiket berbeda,” ujarnya

Dikatakan, ini menjadi pembelajaran bagi penumpang agar tidak lagi membeli tiket di calo. Sejauh ini, ujar Mateta, PT KAI telah menertibkan 100 calo tiket.

Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, dalam kasus ini tidak adil kalau PT KAI menyalahkan sepenuhnya kepada konsumen. Ini terjadi juga karena sosialisasi kebijakan PT KAI yang kurang baik.

”Penumpang yang sudah telanjur membeli tiket bisa mengajukan klaim secara berkelompok,” kata Tulus.

170 orang tewas

Perkembangan terakhir kondisi arus mudik Lebaran, meski terdapat peningkatan di setiap moda transportasi ataupun kendaraan pribadi, secara umum belum terlalu signifikan. Puncak arus mudik diperkirakan terjadi hari Kamis besok. Namun, yang memprihatinkan, hingga Selasa, jumlah korban tewas akibat kecelakaan sudah 170 orang.

”Kasus kecelakaan terbanyak terjadi di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anang Iskandar.

Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit mengatakan, kondisi ini memprihatinkan. Dia juga menyorot lalu lintas saat arus balik perlu diwaspadai karena penumpukan kendaraan dapat lebih tinggi dibandingkan dengan arus mudik. Tingkat rawan kecelakaan juga lebih besar karena faktor kelelahan pengendara dan jumlah personel petugas yang biasanya sudah berkurang.

Di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, tim inspektur penerbangan dari Kementerian Perhubungan melakukan inspeksi mendadak, memeriksa kelaikan pesawat dan pilot. Dari pemeriksaan tidak ada kejanggalan.

Sementara itu, kondisi pergerakan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta sudah menunjukkan lonjakan. Berdasarkan data Posko Lebaran Terpadu di Bandara Soekarno-Hatta, sejak H-9 sampai H-6 sudah ada 541.987 penumpang pesawat. Sebanyak delapan penerbangan ekstra pun sudah dioperasikan. (ADH/APA/ILO/RYO/FER/WHO/MKN/EVY/ELD/INK/RWN/PRA)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau