Waspadai 33 Titik Macet Arus Mudik Ini!

Kompas.com - 15/08/2012, 10:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada musim mudik 2012, Kementerian Perhubungan RI sempat memprediksi jumlah pemudik menembus angka 16 juta jiwa. Dari jumlah itu, pemudik motor diprediksi meningkat 6,6 persen dari tahun sebelumnnya. Kemacetan pun diperkirakan akan terjadi di beberapa lokasi yang kerap dilintasi para pemudik.

Korps Lalu Lintas Polri mencatat ada 33 titik kemacetan yang tersebar di Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera. Kepala Posko Operasi Ketupat 2012 di Korlantas Polri, Ajun Komisaris Besar Pringadi, mengatakan, penyebab kemacetan di jalur mudik bermacam-macam mulai dari pasar tumpah, jalan rusak, hingga tidak sesuainya kapasitas jalan dengan volume kendaraan yang melintas.

Dia menjelaskan, beberapa lokasi rawan macet adalah di jalur pantura Jawa Barat, jalur Nagreg-Limbangan, dan kawasan Pelabuhan Merak-Pelabuhan Bakauheni. Di jalur pantura Jawa Barat misalnya, kemacetan terjadi karena adanya pasar tumpah yang tersebar di 12 titik di antaranya di Sukamandi, Ciasem, Pusaka Negara, Patrol, Eretan, Jati Barang, Tegal Gubug, Pasalaran, pasar kue, Pasar Mundu, dan Pasar Gebang.

"Pantura juga merupakan jalur favorit bagi para pemudik sehingga menjadi pilihan utama yang menyebabkan pemusatan arus mudik, sementara jalannya tidak memadai," ucap Pringadi.

Sementara di kawasan Nagreg-Limbangan, penyebab kemacetan lebih terjadi karena adanya pertemuan arus pada persimpangan sebidang dari arah lingkar Nagreg dan jalur utama melalui wilayah Tasikmalaya dan Garut. Pengaruh Pasar tumpah Limbangan mengakibatkan munculnya bottle neck (penyempitan jalan) sehingga terjadi perlambatan kecepatan.

"Faktor lainnya yang menyebabkan kemacetan di lintas Nagreg-Limbangan juga karena ada perlintasan kereta api yang seharinya mencapai 26 kali sehingga menyebabkan antrean kendaraan," kata Pringadi.

Sedangkan di pelabuhan Merak-Bakauheni, kemacetan terjadi karena meningkatnya jumlah kendaraan yang akan menyeberang, jumlah kapal yang beroperasi kurang dari kebutuhan karena sedang dalam perbaikan/doking, dan cuaca kurang baik yang biasanya membuat kapal tidak menyeberang.

Menurut Pringadi, beberapa upaya dilakukan kepolisian untuk mengurangi sedikit kemacetan yang terjadi seperti menempatkan petugas pengatur lalu lintas di pasar-pasar tumpah yang ada dan memberikan rambu-rambu pengingat bagi para pemudik.

Kepolisian juga mensosialisasikan 33 titik kemacetan yang mungkin terjadi selama arus mudik 2012. Berikut ini ke-33 lokasi kemacetan yang diprediksi akan terjadi pada mudik tahun ini:

LAMPUNG :

1. Tuba

2. Lampung Utara

3. Tanggamus

4. Lampung Tengah

5. Lampung Timur

6. Balam

7. Lampung Selatan

8. Pelabuhan Bakauheni

BANTEN :

1. Serang

2. Pelabuhan Merak

JAWA BARAT :

1. Jomin

2. Cikopo

3. Nagrog-Nagreg

4. Limbangan-Bandrek-Malangbong

5. Bogor-Puncak-Padalarang

6. Lohbener-Losari

JAWA TENGAH :

1. Pejagan

2. Brebes

3. Losari

4. Prupuk

5. Batang

6. Pekalongan

JAWA TIMUR :

1. Tuban

2. Gresik

3. Probolinggo

4. Jombang

5. Malang

6. Suramadu

7. Pelabuhan Ketapang

BALI :

1. Pelabuhan Gilimanuk

2. Denpasar

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau