OLEH MG RETNO SETYOWATI
Merujuk pada data historis lima tahun terakhir, angka inflasi selama masa puasa dan Lebaran berkisar pada rentang 0,5 persen hingga 1 persen. Naiknya angka inflasi didorong bertambahnya konsumsi masyarakat pada masa itu. Lebaran berlalu, inflasi pun beranjak turun.
Pada Juli tahun ini, Badan Pusat Statistik melaporkan inflasi mencapai 0,7 persen karena dipicu melonjaknya harga komoditas pangan selama Ramadhan. Padahal, masa puasa baru berjalan 10 hari di bulan itu.
Selain tingginya konsumsi masyarakat, awal puasa kali ini ditandai pula dengan kelangkaan sejumlah komoditas, seperti kedelai yang menyebabkan harga tempe dan tahu menjadi mahal. Kelompok bahan makanan telah menyumbang inflasi tertinggi selama Juli, yakni sebesar 0,39 persen.
Perubahan pola konsumsi masyarakat saat Ramadhan dan menjelang Lebaran terekam dari hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas pada 30-31 Juli. Sebanyak 35,5 persen responden mengaku selama puasa konsumsi makanan sehari-hari di rumah bertambah dibandingkan bulan-bulan lain.
Selain itu, konsumsi makan di luar rumah pun bertambah (29,3 persen). Hal ini terutama dilakukan keluarga pada akhir pekan yang memilih berbuka bersama di restoran. Buka puasa bersama keluarga ataupun teman telah menjadi tradisi yang mendorong membengkaknya pengeluaran.
Untuk kebutuhan buka bersama ini saja, tidak sedikit anggaran yang disediakan. Sebanyak 78,6 persen responden menyiapkan anggaran hampir Rp 3 juta untuk kebutuhan buka puasa dan sahur di rumah, sedangkan untuk berbuka puasa di luar rumah, 50 persen responden mengaku menyediakan anggaran hingga Rp 1 juta.
Selain konsumsi makanan, konsumsi sandang juga meningkat. Dalam tradisi masyarakat kita, Lebaran identik dengan baju baru. Kondisi ini terlihat dari minat masyarakat membeli pakaian. Sebanyak 62 persen responden menyatakan keluarga mereka membeli busana dan perlengkapannya untuk menyambut Lebaran.
Di Pasar Tanah Abang, Jakarta, misalnya, sudah sejak awal puasa dipadati dan diserbu pengunjung dari sejumlah daerah yang mencari busana dan perlengkapannya untuk Lebaran, baik untuk dikenakan sendiri maupun untuk dijual lagi ke daerah.
Untuk keperluan belanja pakaian ini, 24,2 persen responden menganggarkan biaya dari Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Sebanyak 34,6 persen menyiapkan anggaran di bawah Rp 1 juta.
Penambahan konsumsi bahan makanan dan sandang selama Ramadhan tidak saja dilakukan untuk kebutuhan keluarga. Ramadhan adalah bulan penuh berkah untuk berbagi dan peduli kepada sesama. Banyak keluarga yang berbagi makanan untuk berbuka dan pakaian untuk berlebaran bagi orang-orang di sekitar tempat tinggal, seperti yang dilakukan 43 persen responden. Selain itu, juga berbagi kepedulian dengan menyediakan makanan bagi orang tidak mampu, seperti fakir miskin dan anak telantar atau yatim piatu, seperti yang diakui oleh 17,2 persen responden.
Berbagi di bulan Ramadhan erat pula kaitannya dengan memberikan zakat, infak, dan sedekah. Sebanyak 68,5 persen responden menyisihkan anggaran dari Rp 1 juta hingga Rp 5 juta untuk beramal dalam bentuk sedekah dan infak, termasuk juga zakat.
Selain itu, pemberian tunjangan hari raya (THR) bagi pekerja di rumah tangga, seperti pembantu, sopir, pengasuh bayi, tukang kebun, dan pekerja lain di rumah, tak lupa juga dilakukan banyak keluarga. Anggaran untuk itu bervariasi, dari di bawah Rp 1 juta hingga Rp 5 juta.
Konsumsi makanan dan sandang, baik untuk keluarga sendiri maupun orang lain, yang meningkat perlu dana tak sedikit. Karena itu, THR yang diberikan perusahaan atau tempat bekerja sangat dinantikan. Ekspektasi mendapatkan THR ini juga mendorong meningkatnya konsumsi.
Banyak responden mengaku menghabiskan sebagian besar THR untuk berbelanja pakaian. Sebanyak 23,3 persen responden menyebut membeli pakaian untuk Lebaran sebagai kegiatan paling dominan menghabiskan THR. Sementara 16,3 persen responden menggunakan THR untuk membeli makanan atau sajian Lebaran dan 10,2 persen responden menyatakan THR lebih banyak digunakan untuk keluarga atau orangtua.
Jika THR tak mencukupi seluruh pengeluaran atau bagi mereka yang tak menerima THR, mau tak mau tabungan adalah jalan keluar. Sekitar 40 persen responden menggunakan tabungan untuk menutup pengeluaran.
Bank Indonesia (BI) sudah mengantisipasi potensi lonjakan konsumsi selama puasa dan Lebaran ini sejak Juni 2012. Kota-kota dengan bobot pergerakan harga tinggi menjadi fokus penjagaan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang salah satu anggotanya adalah BI.
Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah di Jakarta, Selasa (24/7), mengutarakan, hal yang menggelitik dari temuan TPID adalah kecenderungan orang untuk membeli makanan melebihi kapasitas tubuhnya. Itu didorong oleh perilaku ingin makan semua makanan pada saat berbuka.
”Karena ’lapar mata’, semua makanan dibeli. Padahal, setelah berbuka, tidak semua makanan bisa termakan. Perilaku ini ikut mendorong laju inflasi dari makanan,” ungkapnya.
Fokus TPID dalam meredam laju inflasi diarahkan pada penekanan harga beras, komoditas pangan yang berkontribusi tertinggi di kelompok makanan. ”Sementara kondisi lebih baik karena pada 2012 Bulog sukses melakukan pengadaan beras hingga 2,5 juta ton. Itu sama dengan prestasi pada 2009,” ujar Difi.
Namun, beginilah kebiasaan konsumsi masyarakat selama Ramadhan dan Lebaran. Semua kegiatan dan konsumsi membutuhkan dana yang tak sedikit. Selain makanan dan pakaian, masih ada kegiatan mudik ke kampung halaman yang juga perlu biaya.
Ada pula pembelian barang-barang tersier lain yang mendukung perayaan Lebaran, seperti perhiasan, barang-barang elektronik, telepon seluler, bahkan kendaraan bermotor. Namun, itu semua tak menjadi hambatan karena hanya sekali dalam setahun.