Baubau Sangat Kaya Obyek Wisata

Kompas.com - 16/08/2012, 15:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kesultanan Yogyakarta, Cirebon, dan Solo mungkin sudah tak asing didengar. Ketiganya merupakan kesultanan termahsyur di Pulau Jawa. Namun, kesultanan di Indonesia tidak hanya ada di Pulau Jawa tetapi juga di pulau seberang, salah satunya Sulawesi tepatnya di Provinsi Sulawesi Tenggara. Di Sulawesi Tenggara yaitu di Pulau Buton, masih berdiri kesultanan yaitu Kesultanan Buton Baubau.

Ukus Kuswara, Plt.Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam jumpa pers Festival Keraton Nusantara, di Newseum Cafe, Sabtu (11/8/2012) lalu, mengatakan bahwa Kesultanan Baubau memiliki historis yang sangat tinggi yang melahirkan identitas budaya setempat.

"Kearifan lokal, seni budaya dan keraton kerajaan itu menciptakan disiplin yang luar biasa, menciptakan kesenian sendiri untuk melahirkan identitas," katanya.

Budaya kesultanan di Baubau sangat menonjol, dengan pemerintahan kesultanan bukan berdasarkan keturunan, sehingga Baubau tidak punya istana megah sebagai lambang kekuasaan sultan.

"Terkait dengan budaya raja-raja disana, berbeda dengan di tempat lain. Di tempat lain raja turun-temurun sehingga ada istana, di Baubau tidak ada istana raja, karena setiap sultan membangun istananya sendiri." tutur Amirul Tamim, Wali Kota Baubau.

Untuk menjadi sultan di Baubau, lanjut Amirul, adalah dengan dipilih oleh suatu majelis yang dinamakan silabona. Setiap bakal sultan telah dicermati oleh majelis ini sejak dalam kandungan, bagaimana perilaku dan perangainya.

Hukum yang berlaku di Baubau ialah mutlak, tidak memandang darimana ia berasal. Jika seseorang melakukan kesalahan, maka ia akan diberikan hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku.

"Bila Sultan bersalah langsung dihukum. Dalam catatan sejarah kita ada yang dihukum mati karena melanggar sumpahnya," kata Amirul.

Baubau memiliki benteng yang telah ditetapkan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai benteng terluas di dunia, serta alam yang menakjubkan.

"Di depan kota Baubau terdapat terumbu karang yang tidak kalah dengan di tempat-tempat lain dengan tingkat keindaan yang bervarasi," katanya.

Selain itu, tambah Amirul, terdapat pula hutan Labusano yang dihuni ular kobra serta baragam keanehan di dalamnya.

Tak perlu khawatir untuk berkunjung ke Baubau, karena terdapat banyak transportasi menuju kesana. Menurut Amirul, penerbangan ke Baubau dapat dilakukan lewat Makassar maupun Kendari. Dari Makassar tersedia 6 kali penerbangan, dan 11 kali penerbangan dari Kendari.

Jika ingin melewati jalur laut, dapat lewat Kendari disambung dengan kapal cepat selama 4 jam, dengan disajikan pemandangan menakjubkan berupa pegunungan dan hamparan laut. Obyek wisata Baubau cukup kaya, lautnya menyimpan keindahan biota yang menggugah untuk diselami.

"Ada beberapa spot menyelam terbaik di Baubau. Bila menyelam, ditemani ikan hiu dan barakuda. Serta ada pula gua yang hanya dapat dilihat dengan diselami, berkedalaman 30 meter, didalamnya terdapat keramik yang tersusun rapi, bernama Gua Moko," ungkap Amirul.

"Uniknya, di tengah kota Baubau, kapal besar Pelni dapat menyandar, bukan di pelabuhan di pinggir pantai," tambah Asfarinal, Direktur Eksekutif Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).

Menurut Amirul, Di Baubau juga terdapat Kampung Bali, semua orang Bali dengan berpakaian adat Bali.

"Di Baubau juga terdapat Bali, namun di Bali tidak ada Baubau," tambah Amirul.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau