Manusia Purba Pun "Hidup" Kembali

Kompas.com - 17/08/2012, 09:00 WIB

KOMPAS.com – Dari luar, bangunan museum yang satu ini memang begitu gagah. Terlihat jelas merupakan bangunan peninggalan masa kolonial Belanda. Bangunannya saja sudah terkesan tua, tunggu sampai Anda masuk ke dalam.

Museum Geologi yang berada di Bandung, Jawa Barat, tersebut terdiri dari tiga ruangan. Ruangan-ruangan tersebut antara lain ruangan “Geologi Indonesia”, ruangan “Sejarah Kehidupan”, dan ruangan “Sumber Daya Geologi” yang berada di lantai dua.

Nah, di ruangan “Sejarah Kehidupan” yang berada sebelah kanan dari pintu masuk museum, merupakan bagian favorit bagi para pengunjung museum ini. Bagaimana tidak, masuk ke dalam ruangan ini, fosil dinosaurus yaitu Tyrannosaurus rex Osborn menyambut pengunjung.

Dengan tinggi 6,5 meter dan panjang 14 meter, fosil tersebut mengingatkan pengunjung kepada sebuah adegan dalam film Jurassic Park. Dinosaurus yang dikenal dengan sebutan T-rex ini memang terkenal sebagai si kadal yang kejam karena merupakan dinosaurus paling buas.

Sayangnya, fosil dinosaurus ini tak asli, hanya sebuah replika dari fosil yang aslinya. Replikas fosil tersebut sumbangan dari pemerintah Jepang. Namun, jangan buru-buru kecewa, tepat di depannya adalah fosil-fosil binatang purba yang ditemukan di bumi Indonesia.

Anda bisa melihat binatang seperti gajah purba, badak purba, kerbau purba, sampai kuda nil purba. Seluruh fosil binatang purba ini diperoleh dari kawasan Pulau Jawa, Flores, Sulawesi, dan lainnya. Pun terdapat fosil molusca atau kerang-kerangan dari zaman purba. Uniknya, ukurannya sangat luar biasa besar.

Fosil badak purba yang ditampilkan itu merupakan nenek moyang badak Jawa yang sekarang masih ada di Ujung Kulon, Banten. Fosil tersebut diperkirakan berumur satu juta tahun. Di Jawa Tengah, ditemukan fosil kura-kura purba yang bentuknya raksasa dengan panjang mencapai dua meter. Umurnya pun sangat tua, yaitu 1,7 juta tahun.

Bagian menarik lainnya adalah replika fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia. Jika Anda memiliki anak yang duduk di bangku SMP ke atas, maka ini saat yang tepat untuk mengajaknya ke Museum Geologi.

Setelah mendapatkan pelajaran di sekolah mengenai manusia purba, anak Anda bisa melihat langsung wujud manusia purba di Museum Geologi. Salah satu yang tenar adalah manusia purba dari Sangiran.

Pengunjung bisa melihat sendiri Homo erectus dari Sangiran yang mengantarkan daerah Sangiran menjadi situs warisan dunia UNESCO di tahun 1996. Pengunjung juga bisa melihat fosil yang disebut-sebut sebagai “the missing link” dari Trinil, Jawa Timur, temuan Eugene Dubois.

Ruangan “Sejarah Kehidupan” memang diperuntukan untuk pengunjung yang ingin mengetahui perkembangan kehidupan dari satu periode masa ke masa berikutnya. Tentunya diawali dengan kehidupan di awal terbentuknya bumi sekitar 4,6 miliar tahun lalu.

Di ruangan “Geologi Indonesia” tak kalah menariknya. Di area ini, pengunjung dapat mempelajari proses terjadinya bumi dan alam semesta. Kemudian proses pembentukan kepulauan Indonesia. Selain itu, dibahas pula geologi pulau-pulau di Indonesia.

Jadi, pengunjung dapat mengetahui aktivitas gunug api, pengetahuan mengenai batuan dan mineral seperti kristal dan batu permata, serta aktivitas geologi di Indonesia. Jika Anda penggemar batu permata, maka satu kaca pamer besar akan menarik perhatian Anda.

Kristal dan batu permata dengan berbagai warna dan bentuk akan membuat Anda semakin berminat dengan bebatuan cantik itu. Salah satu koleksi yang menarik lainnya adalah batu-batu meteorit yang ditemukan di Indonesia maupun luar Indonesia.

Tepat di pintu masuk ke ruangan “Geologi Indonesia”, penunjung bisa melihat aneka koleksi meteorit atau benda-benda angkasa. Ada meteorit batu dan meteorit besi. Beberapa bahkan bisa Anda sentuh langsung dengan tangan.

Meteorit yang ukurannya lumayan besar adalah Meteorit Jatipengilon yang jatuh di Madiun, Jawa Timur. Meteorit lainnya adalah Meteorit Namibia yang jatuh di dataran benua Afrika.

Rencana Museum

Museum Geologi sendiri sudah ada sejak 16 Mei 1928. Walau begitu, koleksi yang mengisi museum sudah dikumpulkan sejak 1850. Di bagian depan museum, pengunjung dapat melihat foto-foto saat Presiden Soekarno mengunjungi museum tersebut.

Museum ini sebenarnya pernah mengalami renovasi di tahun 2000. Namun, beberapa data tidak mengalami pembaruan. Misalnya di bagian tsunami, peristiwa tsunami Aceh di tahun 2004 tak dibahas. Sebab data terakhir adalah tsunami di Flores di tahun 1992.

Begitu pula di bagian Gunung Api. Bencana letusan gunung berapi yang terjadi di era tahun 2000-an tak ada, misalnya saat Gunung Merapi meletus di tahun 2006 dan 2010. Serta peristiwa letusan gunung berapi lainnya.

Ruangan ketiga yaitu ruang “Sumber Daya Geologi” dikembangkan berkonsep ruangan digital. Pihak museum merancang ruangan tersebut sebagai “GeoDigi” yang menggabungkan geologi dan teknologi digital. Tujuannya adalah mengoptimalisasikan penggunaan teknologi digital ke dalam area pamer benda geologi.

Dengan kata lain, koleksi-koleksi museum tak bersifat statis, melainkan dibuat interaktif dengan pengunjung. Selain itu efek tata cahaya, tata suara, permainan interaktif digital, membuat ruangan tersebut menjadi dramatis, namun menyenangkan.

Sayangnya, saat Kompas.com melancong ke museum ini di awal Agustus 2012, peralatan digital di ruangan tersebut belum dapat berfungsi karena masih perlu disempurnakan. Selain itu, rencananya akan dibuka ruangan baru yaitu ruang “Geologi dan Kehidupan Manusia”.

Bagian lain yang menarik adalah area “Taman Siklus Batuan” dan “Penggalian Fosil Interaktif”. Kedua area ini berada di luar gedung museum, alias di ruang terbuka. Bagian “Taman Siklus Batuan” sebenarnya sudah jadi dan sudah bisa digunakan untuk mempelajari batuan.

Sementara “Penggalian Fosil Interaktif” masih belum bisa ditampilkan. Nantinya, pengunjung dapat melihat sendiri proses penggalian fosil. Jika Anda tidak belajar dan bekerja di bidang geologi, tentu sangat menarik melihat langsung proses tersebut, sebuah adegan yang biasanya hanya bisa dilihat di film layar lebar seperti Jurassic Park.

Pihak museum juga berencana untuk memberlakukan tiket masuk bagi pengunjung Museum Geologi. Sebelumnya, pengunjung yang datang bisa masuk dengan gratis. Namun, setelah Lebaran 2012, pengunjung akan dikenakan biaya masuk museum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau