Pengungsi Meratapi Bulan Ramadhan dan Idul Fitri

Kompas.com - 18/08/2012, 06:41 WIB
Oleh: Musthafa Abd Rahman


Dua sosok, yang satu tua, lainnya muda, dengan pakaian seadanya berjalan bergegas di depan kamp pengungsi Suriah di Altinozu, 40 kilometer arah timur kota Antakya, Turki, Selasa (14/8).

Kepada Kompas, mereka mengaku sebagai para pengungsi dari Suriah. Mereka sengaja berjalan agak cepat untuk mengambil jatah dua potong roti di kamp pengungsi Altinozu untuk hidangan buka puasa.

Keduanya bernama Omar (42) dan Hikmah (16). Mereka berdua berasal dari Provinsi Idlib, Suriah, dan berada di Altinozu sejak awal Agustus.

”Setiap hari saya harus berjalan dari rumah sewa ke kamp pengungsi Altinozu untuk mengambil jatah. Hanya dua potong roti per hari bagi setiap pengungsi yang terdaftar di kamp Altinozu,” ungkap Omar.

Pengakuan Omar merefleksikan keadaan para pengungsi Suriah di Turki ataupun di negara lain. Cerita tentang derita pengungsi, baik secara fisik maupun psikologis. Bulan suci Ramadhan bagi mereka tampak berlalu begitu saja tanpa keistimewaan, dan raut wajah mereka pun tak memancarkan kebahagiaan menjelang Idul Fitri.

Menurut Omar, bagaimana bisa menikmati bulan suci Ramadhan jika setiap lima pengungsi mendapat jatah beras atau gandum kurang dari satu kilogram per hari. Ia juga mengeluhkan kiriman sayur-sayuran dan buah-buahan untuk pengungsi yang kerap sudah rusak.

”Biasanya buah-buahan yang dikirim ke sini berupa pisang dan semangka. Namun, sering kali sudah busuk sehingga tak bisa dimakan,” kata Omar.

Pengungsi Suriah lain, Majid Mahmud (40), mengakui perasaan batin yang sulit pada bulan suci Ramadhan tahun ini. Hidup di pengungsian saat bulan Ramadhan tetaplah menyiksa karena selalu ingat pada bulan Ramadhan ketika di kampung sendiri.

Ia mengungkapkan, jaminan makanan memang cukup tersedia di kamp pengungsi meskipun seadanya. Hanya jadwal pembagian jatah makanan itu berbeda antara sebelum dan pada saat bulan Ramadhan. ”Sebelum Ramadhan, jadwal makan tiga kali, yakni pagi, siang, dan malam. Pada saat Ramadhan diubah menjadi saat buka puasa dan sahur,” tutur Mahmud.

Tanpa persiapan

Omar mengaku sama sekali tak memikirkan persiapan Idul Fitri. ”Tidak terpikir membeli sesuatu pada Idul Fitri, apalagi beli pakaian baru untuk anak- anak. Saya tidak punya uang untuk membeli sesuatu,” kata Omar, yang menempati rumah sewa sederhana bersama anak dan istrinya di Altinozu.

Ia mengaku terpaksa keluar dari kamp Altinozu dan menyewa rumah sederhana seharga 200 lira Turki (sekitar Rp 1 juta) per bulan demi keluarganya. Menurut dia, ada 500 keluarga Suriah yang menyewa rumah di Altinozu tanpa mendapat bantuan apa pun dari manajemen kamp pengungsi Altinozu.

Mahmud juga menyatakan tidak melakukan persiapan apa- apa menyambut Idul Fitri karena tidak punya uang.

”Kami di sini hidup dari bantuan. Bagaimana bisa membeli sesuatu untuk Idul Fitri?” tambah Mahmud.

Omar dan Mahmud sama- sama mengutarakan keinginan mereka untuk segera pulang ke Suriah.

Kehidupan di kamp pengungsi Altinozu dan juga kamp pengungsi lain di Turki tampak eksklusif karena Pemerintah Turki memberlakukan aturan yang cukup ketat. Semua kamp pengungsi dijaga ketat oleh tentara Turki, yang mungkin khawatir disusupi loyalis rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Ketika Kompas mencoba masuk kamp pengungsi Altinozu, tiba-tiba dicegat petugas satpam kamp pengungsi karena tidak memiliki izin masuk dari otoritas Turki. Pemerintah Turki memberlakukan larangan orang luar masuk kamp pengungsi, kecuali mendapat izin khusus dari otoritas terkait.

Menurut Mahmud, kamp pengungsi memberlakukan jam keluar kamp untuk penghuni, yaitu dari pukul 07.00 hingga 22.00 setiap hari. Pada masa itu, para penghuni kamp dipersilakan keluar jika ingin ke pasar atau toko untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Biasanya pertemuan penghuni kamp pengungsi dengan orang luar dilakukan di luar kamp pada jam- jam tersebut.

Kamp pengungsi Altinozu adalah satu dari sekian banyak kamp pengungsi Suriah di Turki. Kamp yang dibangun Pemerintah Turki pada Juni 2011 itu menampung sekitar 1.800 pengungsi Suriah.

Selain kamp Altinozu, di Turki terdapat kamp pengungsi lain di Apaydin, kamp Bohsin, kamp Yaydalagi, dan kamp Kilis. Menurut catatan resmi Pemerintah Turki, terdapat sekitar 59.000 pengungsi Suriah di Turki saat ini. Namun, menurut rumor yang beredar di kalangan warga Turki, pengungsi Suriah bisa mencapai lebih dari 100.000 orang karena banyak pengungsi yang tidak terdaftar.

Kamp pengungsi di Turki lebih banyak dihuni penghuni kelas bawah. Adapun pengungsi kelas menengah dan kaya memilih sewa rumah di kota Reyhanli, Kilis, Antakya, dan kota- kota lain.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau