Mencari Anak dalam Tawuran, Tarwasdi Dibantai

Kompas.com - 18/08/2012, 08:09 WIB

Yayah (37) histeris melihat jenazah Tarwasdi (41), sang suami, yang berlumuran darah di IGD Rumah Sakit Islam Jakarta, Pondok Kopi, Jakarta Timur, Kamis (16/8).

”Salah suami saya apa. Suami saya kok dibantai waktu cari anak dalam tawuran,” kata Yayah yang terus terisak.

Tidak terbayang kepergian sang suami tercinta asal Pekalongan, Jawa Tengah, itu begitu cepat. Suami dibantai dalam tawuran antarwarga berbeda RW di Jalan I Gusti Ngurah Rai, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, Selasa pukul 00.30.

Sebelum pecah tawuran, Tarwasdi berada di rumah di RT 18 RW 3 Kampung Pisangan Indah, Penggilingan. Ia menunggu putra sulungnya yang sudah dua hari belum pulang.

Malam itu, Tarwasdi dan Yayah baru pulang membeli baju baru untuk keempat anak mereka menyambut Lebaran. ”Enggak ada firasat yang aneh. Suami menunggu anak saya yang pertama kenapa belum pulang,” kata Yayah.

Namun, malam itu, Tarwasdi diliputi kecemasan. Ia mendengar ada anak tetangga yang berkelahi dengan orang RW lain dan berpotensi berkembang menjadi tawuran.

Kecemasan Tarwasdi terbukti. Buruh bangunan ini pun panik dan tanpa pikir panjang keluar dari rumah saat dikabari tetangga ada tawuran. Ia cemas jangan-jangan si anak sulung yang berusia 18 tahun itu ikut- ikutan. Di Jalan I Gusti Ngurah Rai benar ada tawuran. Yang terlibat, para remaja yang tak cuma bersenjata batu dan balok. Ada yang membawa parang.

Saat mencari-cari anaknya di tengah tawuran, Tarwasdi malah dicegat dan dibekap oleh sekelompok remaja. Ia disangka akan membekingi kelompok remaja RW 3 dalam tawuran.

Diduga, tanpa bisa membela diri, Tarwasdi dihabisi. Tawuran itu berhenti ketika kedua kelompok melihat ada korban. Tarwasdi roboh akibat luka bacok di tangan dan tubuh yang terus mengeluarkan darah.

Saat dibawa ke RSIJ, nyawa Tarwasdi tidak tertolong akibat perdarahan hebat. Dari RSIJ, jenazah korban dibawa ke RSCM untuk otopsi. Pada Selasa pukul 10.00, jenazah dipulangkan dan pada pukul 13.00 jenazah dimakamkan di TPU Penggilingan.

Kasie Humas Polsek Cakung Inspektur Dua Sutrisno mengatakan, lebih dari sepuluh saksi telah diperiksa. Namun, belum ada yang dijadikan tersangka. Petugas berjanji segera menangkap pelaku penganiayaan.

Tulang punggung

Saat ditemui lagi di rumah duka di gang yang sempit pada Jumat (17/8), Yayah masih berkabung. Ia coba dihibur oleh tetangga. Yayah berpikir bagaimana melanjutkan perekonomian keluarga setelah tulang punggung meninggal dunia. ”Saya ini cuma buruh cuci yang bayarannya untuk bantu suami.”

Yayah belum bisa berpikir bagaimana membiayai pendidikan satu anaknya yang SMP dan dua lagi yang masih di SD. Belum lagi keluarga masih dibebani cicilan utang pembelian sepeda motor Rp 530.000 per bulan. Cicilan tinggal delapan bulan dan telah jatuh tempo bulan Agustus pada Selasa itu.

”Selama ini cicilan motor saya yang nutup dari upah cuci gosok (seterika),” kata Yayah. Penghasilan Tarwasdi dari buruh hanya untuk makan keluarga dan biaya sekolah. Si anak sulung sudah setahun ini membantu dengan menjadi sopir atau kernet angkutan kota.

Yayah berharap petugas Polri segera menangkap dan menjatuhkan hukuman setimpal untuk pelaku. (Ambrosius Harto)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau