Yayah (37) histeris melihat jenazah Tarwasdi (41), sang suami, yang berlumuran darah di IGD Rumah Sakit Islam Jakarta, Pondok Kopi, Jakarta Timur, Kamis (16/8).
”Salah suami saya apa. Suami saya kok dibantai waktu cari anak dalam tawuran,” kata Yayah yang terus terisak.
Tidak terbayang kepergian sang suami tercinta asal Pekalongan, Jawa Tengah, itu begitu cepat. Suami dibantai dalam tawuran antarwarga berbeda RW di Jalan I Gusti Ngurah Rai, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, Selasa pukul 00.30.
Sebelum pecah tawuran, Tarwasdi berada di rumah di RT 18 RW 3 Kampung Pisangan Indah, Penggilingan. Ia menunggu putra sulungnya yang sudah dua hari belum pulang.
Malam itu, Tarwasdi dan Yayah baru pulang membeli baju baru untuk keempat anak mereka menyambut Lebaran. ”Enggak ada firasat yang aneh. Suami menunggu anak saya yang pertama kenapa belum pulang,” kata Yayah.
Namun, malam itu, Tarwasdi diliputi kecemasan. Ia mendengar ada anak tetangga yang berkelahi dengan orang RW lain dan berpotensi berkembang menjadi tawuran.
Kecemasan Tarwasdi terbukti. Buruh bangunan ini pun panik dan tanpa pikir panjang keluar dari rumah saat dikabari tetangga ada tawuran. Ia cemas jangan-jangan si anak sulung yang berusia 18 tahun itu ikut- ikutan. Di Jalan I Gusti Ngurah Rai benar ada tawuran. Yang terlibat, para remaja yang tak cuma bersenjata batu dan balok. Ada yang membawa parang.
Saat mencari-cari anaknya di tengah tawuran, Tarwasdi malah dicegat dan dibekap oleh sekelompok remaja. Ia disangka akan membekingi kelompok remaja RW 3 dalam tawuran.
Diduga, tanpa bisa membela diri, Tarwasdi dihabisi. Tawuran itu berhenti ketika kedua kelompok melihat ada korban. Tarwasdi roboh akibat luka bacok di tangan dan tubuh yang terus mengeluarkan darah.
Saat dibawa ke RSIJ, nyawa Tarwasdi tidak tertolong akibat perdarahan hebat. Dari RSIJ, jenazah korban dibawa ke RSCM untuk otopsi. Pada Selasa pukul 10.00, jenazah dipulangkan dan pada pukul 13.00 jenazah dimakamkan di TPU Penggilingan.
Kasie Humas Polsek Cakung Inspektur Dua Sutrisno mengatakan, lebih dari sepuluh saksi telah diperiksa. Namun, belum ada yang dijadikan tersangka. Petugas berjanji segera menangkap pelaku penganiayaan.
Tulang punggung
Saat ditemui lagi di rumah duka di gang yang sempit pada Jumat (17/8), Yayah masih berkabung. Ia coba dihibur oleh tetangga. Yayah berpikir bagaimana melanjutkan perekonomian keluarga setelah tulang punggung meninggal dunia. ”Saya ini cuma buruh cuci yang bayarannya untuk bantu suami.”
Yayah belum bisa berpikir bagaimana membiayai pendidikan satu anaknya yang SMP dan dua lagi yang masih di SD. Belum lagi keluarga masih dibebani cicilan utang pembelian sepeda motor Rp 530.000 per bulan. Cicilan tinggal delapan bulan dan telah jatuh tempo bulan Agustus pada Selasa itu.
”Selama ini cicilan motor saya yang nutup dari upah cuci gosok (seterika),” kata Yayah. Penghasilan Tarwasdi dari buruh hanya untuk makan keluarga dan biaya sekolah. Si anak sulung sudah setahun ini membantu dengan menjadi sopir atau kernet angkutan kota.
Yayah berharap petugas Polri segera menangkap dan menjatuhkan hukuman setimpal untuk pelaku. (Ambrosius Harto)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang