Mudik lebaran

Cegah Kecelakaan, Tempat Istirahat Harus Diperbanyak

Kompas.com - 18/08/2012, 15:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Untuk mencegah kecelakaan lalu lintas selama arus mudik, pemerintah harus membuka ruang sebanyak mungkin untuk didirikan tempat perisitrahatan bagi pengemudi roda empat maupun roda dua. Jika diperbanyak, maka tiap tiga jam pengemudi bisa menggunakan kesempatan untuk beristirahat.

"Kalau banyak tempat peristirahatan, maka supir tiap tiga jam bisa berhenti di ruang-ruang istirahat itu," ujar Ketua Masyarakat Transportasi Transportasi Indonesia (MTI) Prof DR Danang Parikesit kepada Kompas, Sabtu (18/8/2012).

Menurut Danang, penyebab kecelakaan yang selama ini terjadi adalah karena pengemudi kelelahan setelah mengemudi berjam-jam untuk mudik ke kampung halamannya.

"Kalau pengemudi stop dan memanfaatkan waktu untuk beristirahat sampai 15-20 menit untuk makan minum atau tiduran saja, hal itu akan membuat pengemudi segar kembali, mengurnagi tekanan dan lebih waspada melanjutkan perjalanan," tambah Danang.

MTI, lanjutnya, berharap pemerintah tahun ini bisa menekan angka keclakaan di bawah 500 orang yang tewas. Tahun 2010 angka kecelakaan tercatat lebih dari 853 orang tewas. Tahun lalu turun menjadi 779. Hingga Sabtu siang ini, menurut data Mabes Polri, jumlah korban sudah mencapai 340 orang tewas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau