PALU, KOMPAS.com - Kepala Polda Sulawesi Tengah Brigjen Pol Dewa Parsana mengalami kesulitan bahasa daerah saat menenangkan massa di Kabupaten Sigi yang terlibat bentrok, Senin.
Saat menghalau massa di Desa Binangga, imbauan Dewa Parsana tak digubris warga setempat. Bahkan, sejumlah warga terlihat semakin beringas sehingga sejumlah anggota polisi meminta Dewa Parsana untuk meninggalkan lokasi bentrok.
"Warga yang terlibat bentrok adalah warga Suku Kaili yang tinggal di lembah di Palu. Bahkan sebagian di antara mereka tidak mengerti Bahasa Indonesia," kata Dewa Parsana, Senin (20/8/2012).
Dewa Parsana juga tidak mengetahui bahasa Kaili, yang digunakan masyarakat setempat. Sejumlah polisi akhirnya menarik diri dan mendirikan pos-pos pengamanan untuk menghindari terjadinya konflik susulan.
Dewa Parsana mengimbau kepada masyarakat untuk tenang dan tidak terpancing emosi agar tidak menjadi korban bentrok.
Beberapa saat kemudian, Wakil Bupati Sigi, Livingstone Sango juga hadir untuk menenangkan warga desa yang terlibat bentrok.
Livingstone menyerahkan sepenuhnya pengamanan kepada kepolisian agar bentrok tidak meluas.
Bentrok di Kecamatan Marawola awalnya melibatkan warga Desa Padende dan Desa Binangga yang terjadi pada Senin dini hari.
Warga yang terlibat bentrok memprsenjatai dirinya dengan tombak, parang, panah, bom molotov, dan senjata api rakitan. Bentrok akhirnya meluas dan melibatkan sejumah warga desa tetangga untuk membantu rekannya.
Akibat bentrok itu, lima rumah warga dibakar massa, dan seorang meninggal dunia karena mengalami luka bacok di sekujur tubuhnya.
Saat ini terdapat 310 personel TNI dan Polri yang bersiaga di sekitar lokasi bentrok guna mengantisipasi bentrok susulan. Sejumlah konsentrasi massa saat ini masih terlihat di pinggir jalan Palu-Bangga.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang