Jalur Alternatif Masih Padat

Kompas.com - 20/08/2012, 21:06 WIB

CIREBON, KOMPAS.com- Pada hari kedua Lebaran, Senin (20/8/2012), arus mudik dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah, masih memadati jalur-jalur alternatif di Jawa Barat. Selain jalur alternatif Sadang- Kalijati-Kota Subang yang dipadati kendaraan roda empat, jalur alternatif Kadipaten-Majalengka-Sumber-Cirebon juga masih dipadati kendaraan pemudik hingga Senin malam.

Saat melintasi Kota Subang-Cikamurang, arus kendaraan pemudik memang tidak begitu padat. Namun sesampainya di Kadipaten, kemacetan mulai terasa. Ini disebabkan, Kadipaten menjadi titik pertemuan kendaraan dari arah Subang-Cikamurang-Kadipaten serta dari arah Bandung-Sumedang-Kadipaten.

Kemacetan semakin parah saat memasuki jalur alternatif Majalengka-Sumber-Cirebon. Kendaraan yang akan masuk pinto tol Ciperna  menuju Jawa Tengah terhadang kemacetan parah sejak Rajagaluh (Kabupaten Majalengka) hingga perempatan Cikalahang.

Kendaraan nyaris tidak bergerak. "Jarak lima kilometer harus ditempuh hampir dua jam. Padahal, biasanya tak sampai 15 menit," kata Arie Wibowo (24) yang sedang mengisi bahan bakar di SPBU sekitar Cikalahang.

Meski puluhan polisi sudah diterjunkan, kemacetan hingga Senin malam masih terjadi. Selain jalur yang sempit, adanya tempat wisata di sekitar Telaga Remis dan Cikalahang juga turut andil menyebabkan kemacetan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau