Gempa bumi

5 Warga Tewas dan 5 Desa Terisolasi

Kompas.com - 21/08/2012, 01:45 WIB

Sigi, Kompas - Hingga Senin (20/8), lima warga di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dilaporkan tewas akibat gempa yang terjadi Sabtu lalu. Puluhan warga lainnya masih dirawat akibat luka berat dan ringan.

Gempa juga menimbulkan longsor yang menyebabkan lima desa di Kecamatan Lindu hingga Senin masih terisolasi. Ada 61 titik longsor di sepanjang 7 kilometer yang menutup badan jalan menuju Lindu.

Menurut data Posko Bencana Alam Desa Salua, Kecamatan Kulawi, yang dilansir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sigi, warga yang tewas dari Kecamatan Lindu adalah Ida (47), Marlin (14), Bunga (65), dan bayi berusia 3,5 bulan yang belum diketahui namanya serta dari Desa Salua, Kecamatan Kulawi, bernama Ronald Rico (19).

Selain itu, sebanyak 43 warga juga mengalami luka-luka. Sebagian warga yang luka dirawat di sejumlah rumah sakit di Palu dan di rumah masing-masing. Rumah yang rusak berat 39 unit, rusak sedang 192 unit, dan rusak ringan 309 unit. ”Sementara kami mengungsi di rumah keluarga. Rumah kami rata dengan tanah. Tidak ada barang yang bisa diselamatkan,” kata Syaharuddin (27), warga Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa.

Gempa berkekuatan 6,2 skala Richter di Sigi itu terjadi Sabtu pukul 17.41 Wita. Gempa berada di kedalaman 10 kilometer dengan episentrum sekitar 42 kilometer arah tenggara Kota Palu. Gempa juga dirasakan di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Parigi Moutong. Wilayah yang paling merasakan dampak gempa adalah Kecamatan Lindu, Kulawi, dan Gumbasa yang terletak di perbukitan. Ketiga kecamatan itu juga masuk ke dalam daerah yang dilalui sesar aktif Palu-Koro yang membentang dari Teluk Palu hingga Teluk Bone.

Gempa pada Sabtu malam juga terjadi di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. Gempa berkekuatan 5,8 skala Richter itu, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berpusat di Pulau Halmahera, sekitar 43 kilometer timur laut Morotai dengan kedalaman 10 kilometer.

Jalu, warga di Morotai, mengatakan, gempa tengah malam itu menimbulkan kepanikan warga. Namun, tak ada korban dan bangunan yang rusak di pulau itu.

Hari Minggu dan Senin BMKG juga melaporkan terjadi gempa di wilayah Aceh.

Tertutup material

Pantauan di Sigi menunjukkan material longsoran berupa batu, tanah, pohon besar, dan tiang listrik menutup badan jalan di Kecamatan Gumbasa dan Kulawi di Desa Salua. Jalur itu pun tertutup meski hari Senin sudah bisa dilalui. Namun, lima desa di Kecamatan Lindu hingga Senin masih terisolasi, termasuk kawasan Taman Nasional Lore Lindu. ”Kami upayakan segera membersihkan longsoran agar petugas dan bantuan bisa dikirimkan ke lokasi bencana. Beberapa petugas kesehatan masuk dengan jalan kaki,” kata Rezmin Lase, Kepala BPBD Sigi.

Bencana menjelang Lebaran itu membuat sejumlah warga menangis. Bahkan, sebagian warga pingsan seusai menjalankan shalat Id.

Sesar Palu-Koro

Di Jakarta, Senin, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano, menjelaskan, gempa di Sigi terjadi di bagian sesar Palu-Koro dengan sesar geser ke kiri. Di daerah itu juga terdapat sesar Sausu.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif, Senin, mengunjungi lokasi gempa di Tuva, Kecamatan Gumbasa, Sigi. BNPB juga memberikan bantuan Rp 200 juta. (REN/ISW/NAW/TRA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau