Teror di solo

Spekulasi Politik Pun Berkembang

Kompas.com - 21/08/2012, 03:02 WIB

Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 01.30, Minggu (19/8). Gema takbiran masih berkumandang ketika Wali Kota Solo Joko Widodo tiba di Pos Pengamanan Lebaran di kawasan Gladak, beberapa saat setelah pos itu dilempari granat oleh orang tidak dikenal.

Malam itu, Wali Kota yang akrab disapa Jokowi ini langsung menemui Kepala Kepolisian Resor Kota (Polresta) Solo Komisaris Besar Asdjimain, yang tengah mengawasi pemeriksaan tim laboratorium forensik di pos tersebut.

Usai berbincang dengan Kepala Polresta, Jokowi sempat duduk diam di salah satu sisi bundaran air mancur Gladak. Dia kemudian berpindah duduk di atas sepeda motor milik warga Solo yang diparkir di kawasan tersebut.

”Ada kelompok-kelompok yang belum jelas yang ingin buat keresahan di Solo. Saya minta masyarakat Kota Solo tidak terpengaruh, tetap berlebaran,” ungkap Jokowi ketika didekati wartawan.

Lalu ketika wartawan bertanya apakah teror beruntun yang terjadi di dua Pos Pengamanan Lebaran di Kota Solo ada kaitan dengan Pilkada DKI Jakarta-di mana Jokowi sebagai salah satu calon gubernur yang tengah bertarung memperebutkan kursi nomor 1 di Jakarta? Jokowi menegaskan, ”Jangan berprasangka”.

Saat Jokowi mengungkapkan hal tersebut, puluhan warga Solo yang kebetulan berada di samping Jokowi langsung meneriakkan beberapa pernyataan. ”Jangan takut Pak, Jakarta menunggu Pak Jokowi. Walaupun diteror di Solo, tetap maju Pak Jokowi,” teriak sejumlah warga memberi dukungan, yang disambut senyuman oleh Jokowi.

Dua teror yang berturut-turut terjadi di Kota Solo memang mengundang pertanyaan. Teror pertama dua hari menjelang Lebaran, tepatnya, Jumat (17/8) dini hari, saat Pos Pengamanan Lebaran di Gemblegan, Kecamatan Serengan, diserang penembak tak dikenal. Dua polisi terluka. Bahkan, salah seorang polisi harus menjalani operasi pengangkatan proyektil yang bersarang di pinggang kirinya.

Belum sempat terungkap siapa pelaku serta motif penembakan tersebut, malam berikutnya, Sabtu (18/8), Pos Pengamanan Lebaran di kawasan Gladak, yang hanya sekitar 200 meter dari Kantor Pemerintah Kota Solo, juga diteror. Ledakan granat di pos tersebut mengusik warga Solo yang tengah takbiran. Tidak ada korban jiwa maupun kerusakan berarti dalam peristiwa ini.

Pihak kepolisian berjanji akan terus mengusut kedua peristiwa tersebut. ”Kami terus menyelidiki kedua kasus ini,” ujar Asdjimain, Senin (20/8).

Tak terpengaruh

Dari peristiwa teror di Pos Pengamanan Lebaran tersebut memang sempat mengundang perhatian masyarakat Kota Solo. Bahkan, malam saat granat meledak di kawasan Gladak, ratusan warga mendatangi tempat itu. Namun, apakah warga Kota Solo gentar dengan peristiwa tersebut?

”Pelakunya itu, kan, cuma mau nakut-nakuti saja,” ungkap Joko, warga Solo yang malam itu mendatangi kawasan Gladak sesaat setelah ledakan granat di Pos Pengamanan Lebaran.

Bahkan Ketua DPRD Kota Solo YF Sukasno meyakini kedua peristiwa tersebut takkan memengaruhi warga Solo. ”Masyarakat sudah dewasa, aktivitas masyarakat biasa-biasa saja. Itu urusan pihak berwajib, tidak ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan, walaupun demikian kita harus tetap waspada,” paparnya.

Bukti masyarakat Kota Solo tidak terpengaruh, antara lain bisa dilihat dari aktivitas masyarakat yang berjalan seperti biasa. Selain shalat Idul Fitri berjalan lancar, tempat-tempat umum tetap ramai dikunjungi, pascateror di dua Pos Pengamanan Lebaran tersebut Kota Solo tetap tidak berubah.

Dari pengamatan, pusat perbelanjaan dan tempat wisata tetap penuh pengunjung. Bahkan, pedagang-pedagang kaki lima seperti nasi liwet dan minuman susu segar tetap buka hingga tengah malam.

Hotel-hotel di Kota Solo juga tetap penuh, dan sama sekali tidak terpengaruh dengan peristiwa yang terjadi sebelum Lebaran. ”Sama sekali tidak ada pengaruh. Sampai saat ini kamar-kamar di hotel kami tetap fully booked,” ungkap Public Relations Manager The Sunan Hotel Solo, Retno Wulandari.

Harus ungkap pelaku

Pakar hukum dari Universitas Sebelas Maret Solo, Muhammad Jamin, menegaskan, polisi harus segera mengungkap teror yang terjadi beruntun di Pos Pengamanan Lebaran, yang notabene dijaga polisi. ”Akan menjadi pertanyaan besar kalau polisi tidak segera mengungkap kasus tersebut. Selama ini polisi cukup piawai mengungkap kasus teroris,” ujarnya.

Kendati dua peristiwa tersebut terjadi Pos Pengamanan Lebaran, menurut Jamin, kejadian tersebut bisa memunculkan asumsi, dugaan, atau spekulasi yang dikaitkan dengan kondisi politik saat ini, yakni keberadaan Jokowi sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

”Kalau ditarik dari momentum saat ini, kejadian tersebut bisa saja memunculkan dugaan bahwa itu adalah pekerjaan pihak tertentu yang ingin menjatuhkan kredibilitas dan citra Jokowi yang selama ini membuat Kota Solo tenteram,” tegas Jamin.

Pada sisi lain, lanjut dia, jika dilihat dari konteks geopolitik Kota Solo, potensi kelompok radikal yang selama ini dicurigai gerakan terorisme tidak menutup kemungkinan ditarik benang merah ke arah sana.

”Tapi yang terpenting adalah tugas dan tanggung jawab polisi untuk bisa menjelaskan dua kasus beruntun tersebut secara terbuka dan transparan. Apalagi hal ini menyangkut polisi sendiri yang jadi korban penyerangan,” tegas Jamin.

Ya, masyarakat menanti hasil kerja polisi untuk mengungkap secara jelas, siapa sebenarnya dibalik teror-teror tersebut, dan apa motifnya.

(Sonya Hellen Sinombor)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau