JAKARTA, KOMPAS.com - Satu hari setelah perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1433 Hijriah, aktivitas para pemudik masih mewarnai Terminal Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Selasa (21/8/2012). Kebanyakan pemudik memilih pulang kampung setelah hari raya dengan alasan kondisi lalu lintas yang lengang.
Wahyu (42) contohnya. Bersama sang istri, warga Batu Ampar, Kramat Jati, Jakarta Timur tersebut tengah menunggu bus ekonomi AC jurusan Sumedang di ruang tunggu Terminal AKAP Kampung Rambutan. Menurutnya, pulang kampung pada H+1 memiliki kelebihan tersendiri, yaitu kenyamanan di atas bus.
"Ya supaya agak longgar aja jalanan. Jadi kitanya juga nyaman di bus," Ujar Wahyu kepada Kompas.com, Selasa siang.
Hal senada juga diungkapkan Sekar (23), warga Ciracas, Jakarta Timur. Ia dan lima orang sepupunya tampak turun dari mobil angkutan umum dalam kota dan mencari bus jurusan Tasikmalaya. Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai buruh konveksi tersebut mengaku kapok pulang kampung pada saat puncak arus mudik tahun lalu.
"Bayangin saja, saya yang biasanya ke kampung lima jam, hampir dua kali lipatnya. Nggak mau lah, mendingan setelah Lebaran aja. Apalagi, saya memang sudah janjian sama saudara lain," ujarnya.
Bagi pemudik lainnya, Doni Gobras (25), pulang kampung setelah Lebaran memang kerap dimaknai kehilangan momen untuk silaturahmi. Meski demikian, ia dan istrinya tetap memilih mudik setelah hari raya atas alasan kondisi pekerjaannya. Menurutnya, hal itu tak mengurangi makna silaturahmi kepada orang tua di kampung.
"Ya nggak lah, silaturahmi kan bisa kapan saja. Orang tua saya juga memahami kok. Kan yang penting kita sudah datang ke orang tua, minta maaf," ujar pria yang sehari-hari bekerja di pabrik salah satu minuman soda terkemuka tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang