Dinamika kandidat

Mencari Dukungan dan Suara Lewat Media

Kompas.com - 22/08/2012, 02:04 WIB

Prabowo Subianto, Minggu (19/8), berjalan meninggalkan Istana Negara menuju halaman samping bangunan bersejarah tersebut. Bersama para pejabat dan sejumlah pemimpin teras sejumlah partai politik, ia baru saja selesai bersilaturahim dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarga dalam rangka Idul Fitri 1433 Hijriah.

Pertanyaan diajukan kepada Prabowo yang memakai setelan jas abu-abu, berbeda dengan pencitraannya di media. ”Bapak akhir-akhir ini selalu populer dalam survei. Tanggapan Bapak?” tanya wartawan. Prabowo terdiam lalu menjawab, ”Kalau didukung pers, pasti menang,” ujar Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerindra itu sambil memegang pundak wartawan yang bertanya.

Dalam sejumlah survei beberapa bulan terakhir, elektabilitas Prabowo tertinggi dibanding beberapa tokoh lain. Jika ”dirawat”, elektabilitas ini menjadi modal penting bagi Prabowo untuk Pemilihan Umum Presiden 2014. Prabowo sadar betul, merawat dan menambah elektabilitas bergantung pada media.

Saiful Mujani dan R William Liddle menulis, hasil survei yang digelar tak lama setelah Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009 menunjukkan, kampanye di media, khususnya di televisi, menjadi kekuatan besar yang memengaruhi pemilih (Voters and The New Indonesian Democracy, Problems of Democratisation in Indonesia, 2010).

Dalam survei itu, responden diminta menyebut nama partai dan pasangan kandidat presiden/wakil presiden yang informasi kampanye serta iklannya paling sering dilihat di televisi, dibaca di surat kabar, dan didengar di radio. Partai Demokrat, Gerindra, dan Golkar adalah tiga partai yang paling banyak disebut. Pada Pilpres 2009, pasangan Yudhoyono-Boediono paling banyak informasi serta iklan kampanyenya ketimbang pasangan kandidat lain.

Tak mengherankan, periode Januari-Maret 2009, pengeluaran Demokrat untuk iklan di televisi paling besar (Rp 51 miliar), disusul Golkar (Rp 48 miliar), dan Gerindra (Rp 45 miliar). Demokrat dan pasangan Yudhoyono-Boediono menang. Gerindra yang merupakan partai baru meraih 26 kursi.

Peran media sangat penting dalam politik. Manuel Castells menyatakan, semua pesan, semua organisasi, dan para pemimpin yang tidak hadir dalam media tidak akan eksis di benak rakyat. Hanya mereka yang mampu menyebarluaskan pesan kepada masyarakat luas memiliki peluang memengaruhi keputusan warga, yang akhirnya mengantar mereka untuk berkuasa atau tetap berkuasa (Communication Power, 2009).

Castell menyebut, media merupakan sarana efektif dalam komunikasi sosial, sebuah bentuk komunikasi yang berguna dalam mengonstruksikan makna di benak manusia. Bahkan, ada pendapat ekstrem yang menyebutkan, urusan politik sebenarnya semata-mata urusan politik media.

Menghadapi media

Kesadaran akan peran media itu yang tampaknya mengantar Prabowo menghadapi dan melayani semua pertanyaan wartawan sejumlah media di Singapura seusai memenuhi undangan kuliah umum di Rajaratnam School of International Studies (RSIS) awal Agustus lalu. Kesempatan itu juga dipakai Prabowo untuk memperkenalkan dirinya yang tidak populer di mata publik Singapura. Paling tidak, demikian penilaian Zakir Hussain, wartawan Straits Time Singapore.

Wartawan Singapura menaruh perhatian pada Prabowo karena naiknya popularitasnya di berbagai survei di Indonesia. ”Kami wartawan, kami menuju ke mana masyarakat melihat,” kata Jonathan Thatcher, perwakilan Reuters di Singapura.

Wartawan NHK Jepang bertanya tentang pidato tanpa teks Prabowo dan perjalanan yang membuat Prabowo terjun ke politik. Prabowo menjawab, ia menyiapkan teks, tetapi memilih tidak memakainya saat pidato. Soal terjunnya ke dunia politik, Prabowo bercerita tentang keluarganya yang ikut perang kemerdekaan dan keinginannya membuat Indonesia punya harga diri di mata dunia.

Wartawan Straits Times mempertanyakan peran Prabowo tahun 1998. Prabowo mengaku sering mendapat pertanyaan itu. Prabowo mengerti, ada pembunuhan karakter dalam politik. Ia mengaku konstitusionalis karena sebagai tentara disumpah menjunjung UUD 1945. Ia juga mengaku berkomitmen pada demokrasi. ”Tahun 1998 saya dituduh mau kudeta. Dalam keadaan menguasai setengah dari Angkatan Darat, saya turun,” ujarnya.

Dalam pengantar kuliah umum, Dekan RSIS Barry Desker mengatakan, seri kuliah umum di RSIS akan mengundang semua calon pemimpin Indonesia. Desker menyebut Prabowo sebagai mantan Komandan Kopassus. Lewat Nusantara Group, Prabowo berbisnis di bidang energi dan perikanan. Salah satu tambang Prabowo ada di Kazakhstan.

Latar belakang itu ditekankan dan perlu diketahui publik.

(Edna C Pattisina/A Tomy Trinugroho)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau