Kebakaran Perlu Diantisipasi

Kompas.com - 23/08/2012, 01:43 WIB

Jakarta, Kompas - Bencana kebakaran di DKI Jakarta yang juga ibu kota RI seakan tidak bisa diatasi. Setiap hari kebakaran terus terjadi dan memiskinkan ribuan warga dalam sekejap. Pemerintah perlu segera mengatasi persoalan ini, terlebih kemarau diprediksi lebih panjang.

Hari Rabu (22/8) kebakaran menghanguskan permukiman warga di dua lokasi di Jakarta. Sebagian besar penghuni rumah sedang mudik Lebaran.

Tak kurang dari 300 rumah petak di Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, hangus terbakar. Sementara di Cideng, Jakarta Pusat, empat rumah warga terbakar.

Sehari sebelumnya, Selasa, api juga menghanguskan 150 bangunan di Jalan Pahlawan Revolusi, Gang Gotong Royong, RT 02 RW 02 Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Padahal, pemulihan kawasan kebakaran di wilayah-wilayah lain belum teratasi. Sebanyak 269 rumah yang dihuni 1.350 jiwa di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, misalnya, habis terbakar pada 28 Juli dan sampai kini belum dibangun kembali.

Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, dalam tahun ini, hingga 7 Agustus 2012 tercatat 562 kasus kebakaran dengan korban 13.713 orang.

Kemarau lebih panjang

Potensi kebakaran bisa lebih besar lagi karena kemungkinan besar kemarau berlangsung lebih panjang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau tahun ini bisa mundur paling lama satu bulan dari pola normal.

”Daerah yang diprediksi mengalami kemarau mundur di wilayah Sumatera bagian selatan ke arah Jawa hingga Nusa Tenggara Timur. Waspadai kebakaran dan lakukan penghematan air,” kata Deputi Klimatologi pada BMKG Widada Sulistya ketika dihubungi di Semarang.

Widada mengatakan, fenomena El Nino lemah terjadi sejak pertengahan tahun ini dan diperkirakan bertahan sampai akhir tahun ini. ”Musim kemarau menjadi lebih lama, maksimal sampai satu bulan,” ujarnya.

Gubernur tunggu laporan

Menanggapi tingginya kasus kebakaran yang terjadi, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang ditemui saat mengunjungi Rumah Sakit Umum Daerah Koja mengatakan, pihaknya masih menunggu laporan wali kota setempat dan kepolisian.

”Polisi sedang melakukan investigasi. Kami menunggu hasilnya. Tetapi, yang pasti, kami langsung merespons kebutuhan warga dengan menyediakan dapur umum dan tenda pengungsian,” katanya.

Namun, seperti sejumlah kebakaran yang terjadi sebelumnya, lanjut Fauzi, umumnya kebakaran disebabkan oleh korsleting (hubungan pendek arus listrik). Oleh karena itu, dia mengimbau warga perlu meningkatkan kesadaran menggunakan peralatan listrik yang aman.

Kebakaran di Kapuk Muara tepatnya terjadi di permukiman padat penduduk Kampung Rawa Indah yang berdiri di belakang bangunan sejumlah pabrik.

Menurut pengakuan sejumlah warga, kebakaran diduga disebabkan kompor gas milik salah seorang warga.

Dalam waktu singkat, api yang muncul sekitar pukul 09.30 itu melalap 300 rumah petak di permukiman tersebut. Angin kencang juga menyebabkan api cepat menyebar. Terlebih sebagian besar warga sedang mudik sehingga hanya sebagian kecil warga yang membantu memadamkan api.

”Kami sempat kewalahan untuk memadamkan api,” kata Udin, wakil ketua RT setempat.

Menurut Udin, sejak area Kampung Rawa Indah mengalami kebakaran pada 2010, warga sudah secara swadaya menyediakan tiga pompa air. Namun, upaya itu belum memadai.

Warga duga penggusuran

Terkait kebakaran kali ini, menurut Udin, warga menduga ada kaitan dengan isu penggusuran permukiman. Isu itu muncul karena sebelum bulan puasa, dua pengusaha mengklaim area tersebut.

Menurut Suwarno (48), warga lain, sebagian besar warga Kampung Rawa Indah adalah warga gusuran dari Kali Kapuk Muara tahun 2000.

”Saat itu, pemerintah memperbolehkan kami menempati lahan tidur karena bantaran kali mau dihijaukan. Atas dasar itu, kami menempati area rawa di Rawa Indah ini,” katanya.

Kecurigaan serupa muncul pada korban kebakaran empat rumah di RT 04 RW 07 Kelurahan Cideng, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, yang terjadi sekitar pukul 04.00.

Api diduga muncul akibat korsleting di sebuah warteg yang kosong ditinggal mudik pemiliknya. Bangunan yang terbakar sebagian terbuat dari kayu.

”Api cepat membesar dan merembet ke sekitarnya,” kata Teguh, seorang korban.

Lokasi kebakaran ini terletak di pinggir rel dan pinggir sungai. Kebakaran juga pernah terjadi lima tahun lalu. Menurut warga, berkali-kali muncul isu bahwa rumah itu juga akan digusur. Namun, hingga kini mereka masih diperbolehkan menempati rumah di lokasi tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta Paimin Napitupulu menyatakan, sebagian besar kebakaran di Jakarta terjadi karena kesalahan manusia.

Ia pun enggan mengaitkan dugaan kebakaran dengan isu penggusuran atau hal lain. ”Tugas kami hanya memadamkan dan membantu polisi mencari dugaan sementara penyebab kebakaran,” ujar Paimin.

Memiskinkan

Terlepas dari apa penyebab kebakaran, yang pasti bencana tersebut memiskinkan warga dalam sekejap.

Ningsih (40) yang sedang mudik di Kresek, Tangerang, Banten, misalnya, langsung lemas ketika menerima kabar bahwa rumahnya, berikut 20 rumah petak yang ia kontrakkan di Kelurahan Kapuk Muara, ludes.

”Tidak punya apa-apa lagi. Uang simpanan Rp 2 juta sudah habis untuk Lebaran,” ujarnya sembari memperlihatkan isi dompetnya yang menyisakan Rp 20.000.

Kondisi serupa dialami korban kebakaran di Pondok Bambu. Mereka pun langsung kehilangan segala penunjang hidup, mulai dari tempat tinggal, usaha, hingga alat-alat keperluan hidup.

”Semuanya habis, mulai dari bengkel, bahan baku, surat-surat berharga, sampai mesin produksi,” kata Sri (25), salah seorang korban.

(ART/MDN/NAW/CHE/ENG/BRO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau