Penawaran saham perdana atau IPO ini menambah ketegangan antara kelompok suporter setia MU, Manchester United Supporters Trust, dan pemilik klub, keluarga Glazer. IPO ini tidak menghapus utang MU yang mencapai 437 juta pounds, sekitar Rp 6,5 triliun, per 30 Juni. IPO dinilai hanya untuk memperkaya keluarga Glazer.
Hasil IPO tak sepenuhnya untuk melunasi utang klub karena 50 persen masuk rekening Glazer. Pesimisme bahwa keuangan klub akan segera sehat setelah IPO berlangsung tidak mereda meski miliarder George Soros menjadi salah satu investor MU.
Soros, yang menurut majalah Forbes memiliki kekayaan hingga 20 juta dollar AS, membeli 3,1 juta lembar saham atau sekitar 7,85 persen saham kelas A. Nilai investasi Soros mencapai 44 juta dollar AS. Kepemilikan saham George Soros di MU sekitar 1,9 persen dari total saham klub.
Soros hanya memiliki saham kelas A yang kekuatan voting-nya jauh di bawah kelas B yang sepenuhnya dimiliki keluarga Glazer. Saham kelas B memiliki kekuatan 10 kali hak voting ketimbang kelas A. Artinya, IPO tidak mengurangi kekuasaan Glazer di MU.
IPO yang dibuka mulai 10 Agustus itu mengecewakan. Harga saham hanya 14 dollar AS, di bawah target penjualan 16-20 dollar AS per saham. Harga saham turun menjadi 13,06 dollar AS pada penutupan Senin pekan ini atau 6,7 persen di bawah harga IPO.
Klub berusia 134 tahun dengan segudang prestasi itu memperoleh tambahan dana 233 juta dollar AS, sekitar Rp 2,2 triliun, dari IPO. Namun, hanya setengah dari dana itu yang digunakan untuk melunasi utang MU.
MU terlilit utang sejak dibeli keluarga Glazer pada 2005 dengan nilai 1,47 miliar dollar AS. Sebelum dibeli keluarga Glazer, MU tidak memiliki utang.
Utang klub yang sangat besar seperti gol bunuh diri. Klub paling sukses di Liga Primer ini terancam pailit jika situasi keuangan memburuk. IPO ini merupakan salah satu langkah untuk menutup utang klub. Namun, proses IPO ternyata meleset dari analisis. Glazer kembali melakukan gol bunuh diri.
Menurut sejumlah analis pasar modal dan IPO, penjualan saham industri olahraga sangat jarang yang sukses. Bisnis ini memiliki risiko sangat tinggi karena pemasukan sangat tergantung pada prestasi di lapangan. Jika performa klub turun, diperlukan suntikan dana besar untuk mengangkat prestasi, salah satunya dengan membeli pemain-pemain bintang.
”Sulit untuk menjelaskan bagaimana meraih pemasukan berlipat bagi perusahaan yang harus membelanjakan banyak uang untuk mencapai sukses. Walau performa mereka bagus, biayanya terlalu mahal,” tutur Ken Perkins, analis pada Morningstar.
Dalam situasi prospek investasi yang kurang menarik itu, George Soros sepertinya mengincar sisi positif yang dimiliki MU. Klub tersebut memiliki pasar internasional besar, diklaim mencapai 659 juta penggemar di seluruh dunia.
Tahun lalu, lebih dari 5 juta cendera mata dari berbagai jenis terjual, termasuk 2 juta kostum MU. Kemampuan MU merangkul sponsor juga menarik, seperti kontrak 559 juta dollar AS dengan General Motor mulai 2014. Begitu pula dengan hak siar MU yang sangat besar. Musim kompetisi 2010/2011, pemasukan dari hak siar mencapai 132,2 juta pounds, setara Rp 1,2 triliun.
”Hak siar domestik ditargetkan meningkat 70 persen pada musim kompetisi 2013/2014. Sementara hak siar internasional yang akan diumumkan akhir Oktober atau awal November juga diharapkan meningkat pesat,” kata Philip Hall, mitra pada bank investasi New York Inner Circle Sport.