Setelah AS, Giliran Inggris Ancam Suriah

Kompas.com - 23/08/2012, 11:56 WIB

LONDON, KOMPAS.com - Pemerintah Inggris akhirnya mengikuti jejak Amerika Serikat dengan mengancam akan melakukan intervensi militer jika pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia untuk menghadapi pasukan pemberontak.

Ancaman Inggris itu dikeluarkan usai pembicaraan telepon antara Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Juru bicara kantor Perdana Menteri di Downing Street 10 mengatakan Cameron dan Obama sepakat bahwa ancaman pemerintah Suriah untuk menggunakan senjata kimia sudah tak bisa diterima.

Dalam pembicaraan itu terlibat juga Presiden Perancis Francois Hollande, ketiga pemimpin itu kemudian mendiskusikan upaya membangun dukungan yang sudah diberikan kepada pemberontak Suriah. Selain itu, ketiganya juga membahas bantuan untuk transisi pemerintahan setelah kejatuhan Presiden Bashar al-Assad yang menurut mereka tak bisa dihindari.

Masalah para pengungsi Suriah yang melarikan diri ke negara-negara tetangga juga menjadi pembahasan.

"Perdana Menteri juga menegaskan perlunya kerja sama dengan PBB dan komunitas internasional harus berupaya lebih keras demi membuka akses bantuan kemanusiaan lewat desakan PBB," kata juru bicara Kantor PM Inggris.

Mencari Alasan

Dalam tajuknya kantor berita China, Xinhua, menuding negara-negara Barat hanya mencari-cari alasan untuk melakukan intervensi militer ke Suriah. Xinhua juga mengkritik ancaman Presiden Obama dan mengatakan ancaman itu justru akan meningkatkan suhu konflik dan mengurangi peluang penyelesaian politik.

China mendesak dilaksanakannya gencatan senjata dan menegaskan mediasi yang disponsori PBB adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan konflik Suriah.

Sebagaimana Rusia, China adalah sekutu dekat Suriah. Dan kedua negara ini selalu menghalangi upaya PBB menjatuhkan sanki untuk suriah melalui mekanisme hak veto yang mereka miliki.

Sementara itu sumber di Kementerian Luar Negeri Rusia kepada harian Kommersant mengatakan Moskwa sangat yakin Suriah tak memiliki niat untuk menggunakan senjata kimianya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau