Pengungsi suriah

Kehidupan di Kamp Pengungsi Kilis

Kompas.com - 24/08/2012, 08:59 WIB

Oleh MUSTHAFA ABD RAHMAN

Gerbang kamp pengungsi Suriah di kota Kilis, Turki, ramai dilintasi orang yang keluar masuk. Sebagian dari mereka kemudian menaiki kendaraan dan pergi menuju kota. Sejumlah pengungsi lain hanya duduk santai di pinggir jalan raya. Pemandangan itu terlihat saat Kompas tiba di kamp itu, Selasa (21/8/2012).

Kamp pengungsi Kilis adalah kamp pengungsi terbesar di Turki, yang kini menampung sekitar 14.000 orang. Di dalam kamp ini terdapat sejumlah fasilitas, seperti supermarket, tempat bermain anak-anak, rumah sakit lapangan, dan ruang sekolah darurat.

Hampir setiap hari pengungsi baru datang ke kamp ini karena letaknya berbatasan langsung dengan Provinsi Aleppo, wilayah terpanas dalam konflik di Suriah saat ini.

Kilis yang hanya berpenduduk sekitar 30.000 jiwa berada di Provinsi Gaziantep. Kota ini terletak sekitar 180 kilometer dari kota Antakya.

Dari pintu gerbang kota Kilis, yang tak jauh dari gerbang masuk ke kamp pengungsi itu, dengan mata telanjang orang melihat kepulan asap hitam membubung tinggi di wilayah Suriah. Asap itu berasal dari gempuran artileri atau pesawat tempur pemerintah pada sasaran tertentu dalam wilayah Suriah itu. Kerap juga terlihat warga Suriah yang melintasi perbatasan untuk mengungsi ke Turki.

Di seberang pintu gerbang Kilis, melampaui batas Turki- Suriah, terlihat juga bukit Afrin. Di balik bukit itu terdapat kota Afrin, yang kini dikuasai Partai Uni Demokrasi yang berafiliasi ke suku Kurdi. Partai itu berkuasa setelah pasukan Suriah mundur dari kota itu.

Partai Uni Demokrasi diberitakan menjadi tempat berlindung bagi Partai Pekerja Kurdistan (PKK) pimpinan Abdullah Ocalan yang anti-Pemerintah Turki. Hal itu yang membuat Pemerintah Turki marah dan mengerahkan kekuatan militer di Provinsi Gaziantep untuk mengantisipasi kemungkinan ada gerakan PKK di Suriah Utara.

Lima bulan

Salah seorang penghuni kamp pengungsi Kilis, Samir al Abbas (33), mengatakan telah 5 bulan berada di Kilis. ”Saya sudah 14 bulan berada di Turki. Tetapi, baru 5 bulan ini menghuni kamp Kilis,” ungkapnya.

Abbas mengatakan, setiap pengungsi diberi kartu belanja untuk digunakan di supermarket di dalam kamp pengungsi. Setiap pengungsi mendapat jatah maksimal senilai 80 lira (sekitar Rp 44.000) per bulan atau 20 lira (sekitar Rp 11.000) tiap pekan. ”Dengan kartu itu, setiap pengungsi bisa belanja memenuhi kebutuhan sehari-hari di supermarket,” kata Abbas.

Emad (45), pengungsi lain, menerima kartu belanja yang sama. Namun, jatah 20 lira per pekan sangat kurang sehingga pengungsi harus mengatur hidup seirit mungkin. ”Biaya hidup di Turki jauh lebih mahal dari Suriah. Bagaimana bisa hidup dengan jatah 20 lira per pekan,” kata Emad.

Pria asal Latakia itu mengatakan, pengungsi yang masih punya sisa uang dari Suriah bisa belanja di pasar di luar kamp pengungsi. Emad mengaku sudah 16 bulan berada di Turki bersama istri dan lima anaknya.

”Saya bersama istri dan lima anak mengungsi ke Turki saat revolusi meletus, Maret 2011. Saya ini penentang rezim keluarga Assad sejak lama. Saya pernah dipenjara selama 12 tahun pada era Presiden Hafez al-Assad,” ujarnya.

Terdapat sembilan kamp pengungsi Suriah di Turki, antara lain, kamp Bohsin, Altinozu, Yaydalagi, dan Apaydin. Tercatat ada sekitar 73.000 pengungsi Suriah di Turki, dan bertambah sekitar 1.000 orang setiap hari.

Pemerintah Turki mulai kewalahan menampung pengungsi Suriah itu yang setiap hari terus mengalir bak air bah. Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu, awal pekan ini, menegaskan, Turki hanya akan mampu menampung maksimal 100.000 pengungsi.

Davutoglu mengusulkan agar PBB membangun zona penyangga di dalam wilayah Suriah untuk menampung pengungsi di zona tersebut. Jika hal itu tak dilakukan, Turki tidak akan lagi sanggup menampung pengungsi seiring meningkatnya pertempuran pasukan pemerintah dan oposisi di Suriah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau