Kebakaran lahan

Di Riau dan Palangkaraya Akan Disemai Hujan Buatan

Kompas.com - 25/08/2012, 02:29 WIB

Jakarta, Kompas - Pembuatan hujan buatan untuk memadamkan serta mengantisipasi kebakaran hutan dan gambut pekan ini dikonsentrasikan di Riau dan Kalimantan Tengah. Bantuan TNI juga dimungkinkan untuk menangani kebakaran di daerah lain.

Di Riau, pembuatan hujan buatan untuk mengamankan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII, 9 September 2012. Hujan buatan pada 12-16 Agustus lalu mampu menekan titik api.

”Setelah kami tinggal libur Lebaran, muncul lagi titik api di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Besok (Sabtu) kami on lagi,” ujar Heru Widodo, Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jumat (24/8), di Jakarta.

Di Riau dan sekitarnya saat ini masih tersedia awan kumulonimbus sebagai syarat pembentukan hujan buatan. Pembasahan diintensifkan dengan bantuan helicopter bumby bucket (wadah air) Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada 27-28 Agustus.

Pekan ini juga dikirimkan pesawat pembuat hujan buatan untuk mengisi Waduk Koto Panjang dan Singkarak, Sumatera Barat. Ini untuk menggerakkan turbin PLTA yang suplai listriknya dibutuhkan untuk PON.

Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, beberapa hari ini kabut asap mulai muncul. Namun, belum diketahui sumber asap tersebut.

Komandan Tim Manggala Agni Wilayah III Banjar Zulkarnaen membenarkan munculnya kabut asap itu. Kabut asap terlihat di beberapa titik, terutama pada pagi hari, seperti di Kecamatan Gambut dan Landasan Ulin, Banjar.

”Benar bahwa kabut asap mulai terasa. Sejauh ini, kami masih mencari sumber asap. Kami sudah menghubungi petugas di beberapa titik, tetapi belum ada kepastian asal asap,” katanya.

Sementara itu, kebakaran belasan hektar lahan gambut terpantau di dua lokasi di Sungai Raya, Kalimantan Barat. Potensi kebakaran masih tinggi karena lahan gambut mudah terbakar saat kemarau. ”Pemadaman sulit karena sumber air di sekitar lokasi amat terbatas,” kata Budi, anggota pemadam kebakaran dari Yayasan Bhakti Raya.

Sejak 14 Agustus terpantau 1.129 titik api di Kalimantan Barat. Dari cek acak di lapangan, titik api berasal dari pembakaran lahan. (ICH/WER/AHA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau