Presiden "Paranoid" Vonis Mati 47 Orang

Kompas.com - 25/08/2012, 10:35 WIB

BANJUL, KOMPAS.com - Presiden Gambia, Yahya Jammeh berjanji akan mengeksekusi tuntas 47 terpidana mati pada pertengahan September 2012 ini. Sembilan di antaranya telah dieksekusi pada satu tempat rahasia Kamis (23/8/2012) tengah malam.

Kantor berita AFP, Sabtu (25/8/2012) pagi melaporkan, sebagian besar terpidana mati adalah pejabat tinggi, perwira polisi atau militer, dan rakyat sipil. Mereka didakwa melakukan rencana kudeta dan dan dicap pengkhianat.

Tahun lalu delapan petinggi militer, termasuk mantan tentara dan kepala intelijen dan mantan wakil kepala  kepolisian, dihukum mati karena tuduhan pengkhianatan. Jammeh sendiri seorang mantan perwira militer yang merebut kekuasaan melalui kudeta tahun 1994.

Banyak pejabat tinggi telah terjerat tuduhan makar, sering berhubungan dengan rencana kudeta. Para pengamat mengatakan, tindakan presiden itu adalah satu tanda paranoid berlebihan. Dia memenangkan lagi masa jabatan keempat sebagai presiden pada bulan November 2011.

Paule Rigaud, Wakil Direktur Amnesty International Afrika mengecam Jammeh itu. Dia mendesaknya untuk menghentikan eksekusi terhadap puluhan lainnya . Eksekusi terhadap sembilan orang itu diharapkan yang terakhir.

Jammeh adalah salah satu kepala negara di Afrika Barat yang banyak dikecam aktivis hak asasi manusia internasional, karena kejahatan terhadap kemanusiaan. Dia acap melakukan pelanggaran HAM berat.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau