PONTIANAK, KOMPAS
Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalbar AR Muzammil, Minggu (26/8), di Pontianak, pengaturan kampanye berbentuk rapat umum diharapkan bisa membuat suasana kondusif. ”Yang rumit pengaturannya adalah saat rapat umum atau pengerahan massa. Metode zonasi ini tidak memungkinkan terjadi pertemuan antar-pendukung calon di satu wilayah yang sama karena setiap pasangan calon berkampanye di zona yang ditentukan,” ujarnya. Semua kota dan kabupaten di Kalbar dimasukkan dalam keempat zona kampanye itu.
Kampanye berlangsung pada 3-16 September 2012. Setiap pasangan calon gubernur-wakil gubernur akan melakukan kampanye di satu zona selama tiga hari berturut-turut, baru pindah ke zona lain. Pemungutan suara dilaksanakan pada 20 September 2012. Pilkada Kalbar diikuti empat pasangan calon, yakni Cornelis-Christiandy Sanjaya (petahana), Armyn Alianyang-Fathan A Rasyid, Morkes Effendi-Burhanuddin A Rasyid, dan Abang Tambul Husin-Barnabas Simin.
Dosen Ilmu Politik dari Universitas Tanjungpura, Pontianak, Gusti Suriansyah, berharap masa kampanye benar-benar menjadi ajang komunikasi antara pasangan calon dan pemilihnya. ”Saat ini Kalbar menghadapi masalah dalam indeks pembangunan manusia. Calon semestinya mengomunikasikan kondisi ini kepada calon pemilih, sekaligus dengan menawarkan program prioritas yang akan dilakukan seandainya terpilih,” ujarnya.
Menurut Gusti, obral janji justru akan kontraproduktif. ”Calon akan kesulitan memenuhi janji yang diobral saat kampanye. Padahal, masyarakat bisa saja mencatat janji mereka. Program prioritas semestinya terukur pencapaiannya sehingga lebih mudah dipahami rakyat,” katanya.
Dari Kupang, Juru Bicara KPU Nusa Tenggara Timur (NTT) Djidon Dehan menuturkan, Pilkada NTT pada 2013 memerlukan dana Rp 150 miliar. Pada Oktober 2012, tahap pelaksanaan pilkada dimulai. Selain gubernur juga diadakan pilkada di Kabupaten
Pilkada NTT akan digelar pada 18 Maret 2013. Calon belum mulai muncul secara terbuka.