Resesi Ekonomi Akan Panjang

Kompas.com - 27/08/2012, 05:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Resesi ekonomi dunia bakal panjang. Neraca perdagangan, cadangan devisa, dan stabilitas harga pangan menjadi variabel sensitif dan krusial yang harus terus dicermati dan diusahakan agar relevansinya yang besar terhadap nilai tukar rupiah dan inflasi bersifat positif.

Sekretaris Komite Ekonomi Nasional Aviliani, di Jakarta, Minggu (26/8), menegaskan, rapat kabinet mengundang Komite Ekonomi Nasional (KEN) yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat, sepakat bahwa resesi ekonomi dunia bakal panjang. Karena itu, penguatan ekonomi domestik menjadi fokus utama guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Dalam pertemuan tersebut, Aviliani menambahkan, pemerintah menyebutkan target ekonomi dalam dua tahun ke depan. Target itu meliputi pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, pengangguran di bawah 6 persen, kemiskinan di bawah 10 persen, dan inflasi di bawah 6 persen. Untuk pangan dan energi, pemerintah menargetkan pasokan cukup dengan harga terjangkau.

Neraca perdagangan, cadangan devisa, dan ketahanan pangan, menurut Aviliani, menjadi penting dicermati dalam upaya mencapai target tersebut. Ketiga variabel itu memiliki relevansi besar pada nilai tukar rupiah dan inflasi yang akhirnya berimplikasi luas pada perekonomian.

Neraca perdagangan mengalami defisit pada April, Mei, dan Juli. Masing-masing 641 juta dollar AS, 486 juta dollar AS, dan 1,32 miliar dollar AS. Defisit Juli adalah rekor defisit perdagangan terburuk dalam perekonomian Indonesia, yang selama beberapa tahun terakhir selalu surplus antara 1,5 miliar dollar AS hingga 2 miliar dollar AS per bulan.

Sementara cadangan devisa, menurut Aviliani, harus dijaga di atas 100 miliar dollar AS. Saat ini, cadangan devisa sekitar 106,5 miliar dollar AS. Time deposit yang diberlakukan Bank Indonesia dalam hal ini menjadi sangat penting perannya.

”Yang harus hati-hati adalah harga pangan yang cenderung meningkat karena suplai terbatas. Fungsi Bulog harus secepatnya dikembalikan. Dalam jangka pendek, perpresnya akan dikeluarkan,” kata Aviliani.

Opsi kenaikan BBM

Kepala Pusat Studi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta A Tony Prasetiantono, Minggu, menegaskan, pilihan menaikkan tarif tenaga listrik dan kemungkinan harga bahan bakar minyak akan direalisasikan paling cepat tahun 2013. Selain harga sudah tinggi, risiko politik juga menjadi pertimbangan utama pemerintah.

”Tampaknya pemerintah baru akan menaikkan harga BBM tahun depan. Karena tahun ini tidak ada landasan hukumnya. DPR pasti tidak setuju. Kenaikan harga BBM tahun 2013 paling tepat karena tahun 2014 lebih berisiko secara politik, ada pemilu,” kata Tony.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seusai rapat bidang ekonomi di Bogor menyatakan, langkah tidak populer mungkin saja dipilih di tengah tekanan akibat krisis perekonomian global. Pemerintah tetap berupaya agar investasi terus terjadi di Indonesia, ekspor tidak anjlok drastis, impor terkelola dengan baik, serta porsi belanja modal dan dana infrastruktur dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013-2014 meningkat.

Tony mengungkapkan, saat ini harga minyak dunia sudah relatif tinggi. Harga minyak dunia kini berkisar 96 dollar AS hingga 115 dollar AS per barrel. Ia tidak yakin harga minyak masih akan melonjak lebih tinggi lagi.

Sebelumnya pemerintah mengusulkan menekan beban subsidi listrik, kemungkinan penyesuaian tarif tenaga listrik secara otomatis secara kuartalan. Menurut Menteri Keuangan Agus Martowardojo, diusulkan besaran kenaikan tarif listrik sebesar 3-4 persen per kuartal.

Menurut Presiden Yudhoyono, penyesuaian otomatis secara berkala diterapkan oleh banyak negara, antara lain karena beban bagi konsumen terasa lebih ringan dibandingkan penyesuaian dilakukan setiap satu tahun atau lebih. (LAS/BEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau