Sekretaris Komite Ekonomi Nasional Aviliani, di Jakarta, Minggu (26/8), menegaskan, rapat kabinet mengundang Komite Ekonomi Nasional (KEN) yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat, sepakat bahwa resesi ekonomi dunia bakal panjang. Karena itu, penguatan ekonomi domestik menjadi fokus utama guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Dalam pertemuan tersebut, Aviliani menambahkan, pemerintah menyebutkan target ekonomi dalam dua tahun ke depan. Target itu meliputi pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, pengangguran di bawah 6 persen, kemiskinan di bawah 10 persen, dan inflasi di bawah 6 persen. Untuk pangan dan energi, pemerintah menargetkan pasokan cukup dengan harga terjangkau.
Neraca perdagangan, cadangan devisa, dan ketahanan pangan, menurut Aviliani, menjadi penting dicermati dalam upaya mencapai target tersebut. Ketiga variabel itu memiliki relevansi besar pada nilai tukar rupiah dan inflasi yang akhirnya berimplikasi luas pada perekonomian.
Neraca perdagangan mengalami defisit pada April, Mei, dan Juli. Masing-masing 641 juta dollar AS, 486 juta dollar AS, dan 1,32 miliar dollar AS. Defisit Juli adalah rekor defisit perdagangan terburuk dalam perekonomian Indonesia, yang selama beberapa tahun terakhir selalu surplus antara 1,5 miliar dollar AS hingga 2 miliar dollar AS per bulan.
Sementara cadangan devisa, menurut Aviliani, harus dijaga di atas 100 miliar dollar AS. Saat ini, cadangan devisa sekitar 106,5 miliar dollar AS. Time deposit yang diberlakukan Bank Indonesia dalam hal ini menjadi sangat penting perannya.
”Yang harus hati-hati adalah harga pangan yang cenderung meningkat karena suplai terbatas. Fungsi Bulog harus secepatnya dikembalikan. Dalam jangka pendek, perpresnya akan dikeluarkan,” kata Aviliani.
Kepala Pusat Studi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta A Tony Prasetiantono, Minggu, menegaskan, pilihan menaikkan tarif tenaga listrik dan kemungkinan harga bahan bakar minyak akan direalisasikan paling cepat tahun 2013. Selain harga sudah tinggi, risiko politik juga menjadi pertimbangan utama pemerintah.
”Tampaknya pemerintah baru akan menaikkan harga BBM tahun depan. Karena tahun ini tidak ada landasan hukumnya. DPR pasti tidak setuju. Kenaikan harga BBM tahun 2013 paling tepat karena tahun 2014 lebih berisiko secara politik, ada pemilu,” kata Tony.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seusai rapat bidang ekonomi di Bogor menyatakan, langkah tidak populer mungkin saja dipilih di tengah tekanan akibat krisis perekonomian global. Pemerintah tetap berupaya agar investasi terus terjadi di Indonesia, ekspor tidak anjlok drastis, impor terkelola dengan baik, serta porsi belanja modal dan dana infrastruktur dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013-2014 meningkat.
Tony mengungkapkan, saat ini harga minyak dunia sudah relatif tinggi. Harga minyak dunia kini berkisar 96 dollar AS hingga 115 dollar AS per barrel. Ia tidak yakin harga minyak masih akan melonjak lebih tinggi lagi.
Sebelumnya pemerintah mengusulkan menekan beban subsidi listrik, kemungkinan penyesuaian tarif tenaga listrik secara otomatis secara kuartalan. Menurut Menteri Keuangan Agus Martowardojo, diusulkan besaran kenaikan tarif listrik sebesar 3-4 persen per kuartal.
Menurut Presiden Yudhoyono, penyesuaian otomatis secara berkala diterapkan oleh banyak negara, antara lain karena beban bagi konsumen terasa lebih ringan dibandingkan penyesuaian dilakukan setiap satu tahun atau lebih.