KontraS: Pemerintah Tak Serius Atasi Konflik di Sampang

Kompas.com - 27/08/2012, 13:31 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com -- Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya menilai, peristiwa penyerangan terhadap komunitas Islam Syiah di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Minggu (26/8/2012) siang kemarin adalah bukti pemerintah belum serius melakukan resolusi konflik pada kasus Syiah-Sunni.

Menurut Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya, Andy Irfan, peristiwa kemarin pasti dapat dicegah apabila pemerintah memiliki komitmen serius dalam mengupayakan resolusi konflik dalam kasus ini. Namun berdasarkan rangkaian peristiwa yang terjadi, sangat tampak bahwa pemerintah belum memiliki komitmen mengenai hal itu.

"Peristiwa ini adalah bukti kelalaian dari pemerintah dan polisi," katanya, Senin (27/8/2012). Padahal, pihaknya telah menyerukan kepada pemerintah dan polisi agar segera melakukan langkah evaluatif dan antisipatif dalam menjaga kemananan dan ketertiban masyarakat di wilayah Sampang pasca-penyerangan dan pembakaran Desember tahun lalu.

"Namun baik pemerintah dan polisi sepertinya mengabaikan hal ini," terangnya.

Karena itu, pihaknya menyerukan agar pemerintah segera melakukan langkah konkret dengan mengumpulkan semua pihak termasuk tokoh agama Islam dari kalangan Nahdhatul Ulama (NU) untuk mencari solusi penanganan kasus yang mencoreng prinsip keberagaman ini.

"Mereka harus terlibat aktif untuk menyerukan perdamaian dan mendorong resolusi konflik dalam peristiwa ini," tambahnya.

Dan yang paling penting, kata Andy, pemerintah juga melibatkan perwakilan korban untuk merumuskan penanganan dan perlindungan kepada korban. Sebab, keterlibatan perwakilan korban sangat penting untuk menjamin akuntabilitas dalam penanganan kasus yang melanggar HAM itu.

Kelompok Islam Syiah di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang diserang warga Sunni pada Minggu (26/8/2012) siang. Enam orang menjadi korban, satu diantaranya tewas bernama Muhammad Husin alias Pak Hammamah (50).

Tidak hanya memakan korban jiwa, penyerangan juga menyebabkan rumah-rumah pengikut Islam Syiah di dua desa, yakni di Desa Karang Gayam dan Desa Bluuran, Kecamatan Omben, Sampang, terbakar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau