Faktor Kendala Kesuksesan Wajar 9 Tahun

Kompas.com - 27/08/2012, 14:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengaku program wajib belajar 9 tahun masih menyisakan kendala, terutama dalam hal pencapaian peningkatan kualitas pendidikan dasar. Dirjen Pendidikan Dasar Kemendikbud Suyanto mengatakan, memang penuntasan wajar 9 tahun secara kuantitas tinggal tersisa 2 persen lagi, namun pencapaiannya secara kualitas masih dihadang sejumlah kendala.

"Penyebab terkendalanya wajar 9 Tahun ini, faktor paling banyak yang terjadi adalah akibat kendala ekonomis. Pendapatan rendah di dalam keluarga di pedalaman juga membentuk budaya yang tidak baik, sehingga sebagian mereka masih menganggap sekolah itu nggak penting," terangnya di gedung Kemendikbud, Senin (27/8/2012) siang.

Selain itu, Suyanto menyebutkan faktor geografis, dan infrastruktur sekolah juga menentukan sulitnya menyelesaikan program sekolah lanjutan. Di daerah pedalaman, masih banyak orangtua yang berpikir untuk menjadikan anak sebagai sumber ekonomi keluarga.

"Jadi komitmen belajar di daerah itu kurang," katanya.

Pemerintah, lanjutnya, akan berusaha lebih keras menjalankan program tersebut agar keberlanjutan pendidikan di tengah masyarakat terus meningkat, termasuk menggalakkan upaya ini di daerah pedalaman. Misalnya, dengan mendirikan sarana dan prasarana seperti sekolah berasrama dan pembangunan SD/SMP Satu Atap di sejumlah daerah, seperti Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur.

"Sesuai rencana, kita tetap akan berusaha mengajak masyarakat untuk mau bekerjasama. Karena yang tersisa ini tinggal yang hard rock-nya. Paling sulit untuk diajak pergi ke sekolah," tuturnya.

"Kita menjalankan ada semacam penjelasan dan gerakan sosial melalui PKK, Organisasi Wanita, Mualimat dan Assyiyah, dan Sarjana masuk desa juga ada, serta di pedalaman, asrama-asrama pendidikan tetap didirikan. Kita juga memberikan bantuan subsidi terhadap siswa, diluar dana BOS yang ada, pokoknya gimana caranya mereka tetap bisa pergi ke sekolah," tambahnya lagi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau