Persoalan papua

Otsus Perlu Peran Aktif Warga

Kompas.com - 28/08/2012, 16:08 WIB

TIMIKA, KOMPAS.com - Untuk mewujudkan pembangunan dan kesejahteraan di Papua, warga diharapkan mengambil peran aktif dalam semua proses pelaksanaan otonomi khusus. Apalagi, diakui selama ini implementasi ketentuan itu belum seperti yang diharapkan.

Hal itu kemukakan oleh Deputi I Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Judy Harianto, Selasa (28/8/2012) ini, dalam diskusi akbar yang digelar Forum Pemerhati Pembangunan Papua Tengah Provinsi Papua, di Timika.

Hadir dalam diskusi tersebut antara lain Ketua Kaukus Papua di DPR Paskalis Kosay, pengamat politik J Kristiadi, anggota Majelis Rakyat Papua Yoram Wambrauw, serta Koordinator Jaringan Damai Papua Neles Tebay.

Dalam kegiatan yang dihadiri ratusan peserta itu, Judy Harianto yang membacakan sambutan dari Menkopolkam Djoko Suyanto, mengatakan, pemerintah pusat tidak pernah berniat merekayasa atau membiarkan terjadinya kekerasan di Papua.

Sebaliknya, pemerintah beberapa kali mengedepankan pendekatan ekonomi, melalui berbagai kebijakan seperti Inpres 5 tahun 2007 tentang percepatan pembangunan Papua, serta Perpres Nomor 65 dan Nomor 66. Perpres itu berisi tentang langkah-langkah percepatan pembangunan Papua dan Papua Barat. serta unit pelaksana ketentuan itu yang dikenal dengan UP4B.

Menanggapi ajakan untuk berperan aktif itu, sejumlah peserta justru balik mengkritik pemerintah. Salah satu peserta, Hendrika Makai, mengatakan, hingga saat ini perhatian pemerintah terhadap pemajuan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan di Papua masih rendah.

Seorang perwakilan pengusaha asli Papua, Hendrik Werbapkay, mengatakan, selama ini pengusaha asli Papua selalu dinomorduakan.

"Kami hanya menjadi penonton saja. Dari 300 anggota asosiasi, hanya 5 hingga 10 persen saja yang mendapat bagian proyek. Itu terjadi, karena stigma pengusaha Papua tidak memiliki modal dan peralatan," ujar Hendrik.

"Kami tidak pernah diberi kesempatan, padahal ada kebijakan afirmatif untuk penguatan ekonomi masyarakat asli Papua. Otsus hanya dinikmati oleh pejabat dan kelompok-kelompok tertentu saja," kata Hendrik menambahkan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau