Pemerintah Proyeksikan Subsidi Listrik Bengkak Rp 12 T

Kompas.com - 28/08/2012, 20:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jendral Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman memproyeksikan, bila kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 15-16 persen tidak disetujui legislatif, maka subsidi listrik bakal membengkak Rp 12 triliun jadi Rp 92 triliun. Saat ini, pihaknya tengah lakukan pembahasan dengan Komisi VII DPR RI.

"Subisdi untuk 2013 kan sekitar Rp 80 triliun, tapi untuk itu perlu dinaikkan TDL. Supaya tidak terlalu berat kenaikannya per triwulanan. Kalau tidak dinaikkan (disetujui DPR) berarti untuk Rp 80 triliun tambah Rp 12 triliun, sekitar Rp 92 triliun," kata Jarman di kantor Kementeriannya, Jakarta, Selasa (28/8/2012).

Pasalnya, subsidi listrik pada 2013 hanya dialokasikan Rp 80 triliun. Subsidi itupun disokong oleh cadangan fiskal sebesar Rp 6,5 triliun. Padahal, subsidi listrik tahun 2012 sebesar Rp 64,9 triliun ditambah cadangan fiskal yang lebih besar, yakni Rp 27,9 triliun.

"Dengan adanya kenaikan PLN akan diuntungkan dan dapat lebih sehat dari sisi keuangan. PLN mendapatkan revenue lebih besar dibandingkan subsidi yang diterima," tuturnya.

Jarman menjelaskan, 15-16 persen kenaikan TDL pada 2013 yang diusulkan tidak sekaligus diterapkan, namun dicicil. Kemungkinan akan dibagi per tiga bulan sekali.

"Kita yang jelas akan usulkan bahwa tiap triwulanan kita akan naik. Sekitar 4 persen-an atau 4,3 persen-an lah," ungkapnya.

Sementara itu, Menteri ESDM Jero Wacik mangatakan, pihaknya tengah mengajukan opsi baru sebagai masukan ke DPR. Bukan lagi per tiga bulan, namun per empat bulan sekali. Sehingga kenaikan TDL tidak terlalu dirasakan masyarakat bila dihitung per bulan yang hanya sekitar 1 persen.

"15-16 Persen kami mengusulkan dicicill tidak sekaligus. Rencananya perkuartal, biar tidak terasa. Kalau terus naik 1 persen kira-kira perbulan untuk membantu negeri kita. Orang yang membayar listrik Rp 200.000, naik Rp 2.000 per bulan pasti mampu, demi mengurangi subsidi," ungkap Jero.

Kini, pihaknya tengah mencari waktu mengajukan opsi tersebut ke pihak DPR.

"Kita sedang mencari waktu dengan DPR. Lagi kita hitung, beginikan nggak bisa begitu saja harus kita bicarakan dengan DPR, DPR kan yang mewakili rakyat," tutur Jero Wacik.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau