Politisi Perlu Peduli Diabetes Melitus

Kompas.com - 29/08/2012, 08:58 WIB

Hillerod, Kompas - Perubahan pola makan, meningkatnya kesejahteraan masyarakat, dan makin banyaknya penduduk yang tinggal di perkotaan membuat jumlah pengidap diabetes melitus di dunia membengkak. Jika tak segera diatasi, diabetes akan menjadi beban kesehatan sekaligus beban pembangunan serius bagi semua negara.

”Para politisi harus segera memberi perhatian agar diabetes diantisipasi dan dicegah,” kata Lise Kingo, Executive Vice President and Chief of Staffs Novo Nordisk, di Hillerød, Denmark, Senin (27/8), sebagaimana dilaporkan wartawan Kompas M Zaid Wahyudi. Novo Nordisk adalah perusahaan farmasi global asal Denmark yang sebagian besar produknya terkait diabetes.

Tahun 2011 diperkirakan ada 366 juta pengidap diabetes. Jumlah ini naik 8,4 persen dibandingkan tahun 2007 sebanyak 151 juta orang. Jika tak segera dikendalikan, diproyeksikan akan ada 552 juta pengidap diabetes tahun 2030. Sebanyak 80 persen di antaranya di negara berkembang.

Faktor risiko yang memicu banyaknya pengidap diabetes antara lain umur lebih dari 45 tahun, kegemukan, perubahan gaya hidup, dan persoalan genetik.

Menurut Kingo, banyak pengidap diabetes tidak mendapat perawatan dengan baik, bahkan tidak terdeteksi. Dari semua pengidap, diperkirakan hanya separuh yang didiagnosis, dan seperempat yang bisa mengakses layanan kesehatan, 12 persen bisa mendapat perawatan memadai, serta hanya 6 persen yang hasil perawatannya optimal. Tahun lalu, kematian akibat diabetes mencapai 4,6 juta orang.

Lebih dari separuh pengidap diabetes juga mengidap berbagai penyakit penyerta, dari gangguan mata, ginjal, kaki diabetes (gangren) yang sering kali harus diamputasi, hingga gangguan jantung. Hal ini membuat biaya kesehatan sangat besar. Tahun 2011 saja, dunia mengeluarkan 465 miliar dollar AS (sekitar Rp 4,4 triliun). Artinya, 11 persen pengeluaran untuk kesehatan penduduk umur 20-79 tahun habis hanya untuk diabetes.

Indonesia terancam

Kondisi Indonesia sama. Atlas Diabetes edisi ke-5 yang disusun International Diabetes Foundation menyebutkan, jumlah pengidap diabetes di Indonesia usia 20-79 tahun pada 2011 mencapai 7,3 juta orang dan menduduki peringkat ke-10 negara dengan pengidap diabetes terbesar. Pada 2030 diperkirakan ada 11,8 juta pengidap diabetes dan menempatkan Indonesia di urutan ke-9.

Hal ini menjadi kekhawatiran Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), organisasi dokter konsultan endokrinologi metabolik dan diabetes. Menurut Dante Saksono Harbuwono, anggota Bidang Penelitian Perkeni, beberapa waktu lalu, di Jakarta, ”Lonjakan jumlah penderita diabetes sulit dihindarkan seiring rapatnya jejaring genetik pengidap akibat perkawinan.”

Diabetes diturunkan ke generasi berikutnya. Meski generasi mendatang mampu mengubah gaya hidup hingga menjadi lebih baik, dalam diri mereka terkandung gen diabetes.

Meski penyakit ini tidak bisa disembuhkan, diabetes bisa dikelola hingga para pengidap dapat hidup normal seperti orang sehat. Selain perawatan optimal dan mengikuti petunjuk dokter, deteksi dini jadi syarat utama.

Persoalan deteksi dini menjadi kendala di Indonesia. Menurut Dante, rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri secara berkala, terbatasnya akses kesehatan, serta banyaknya dokter di layanan kesehatan primer yang tidak memahami deteksi dini dan perawatan diabetes membuat banyak kasus diabetes ditemukan dalam fase lanjut.

Diabetes di Indonesia tidak menjadi monopoli kelompok menengah atas. Pengidap tak hanya didominasi kelompok lanjut usia, tetapi banyak juga anak muda. Tingginya obesitas pada kelompok ekonomi menengah bawah membuat mereka yang tinggal di perdesaan mengidap diabetes.

Ini akan memberi beban tersendiri bagi negara. Terlebih, kata Dante, pemerintah sedang menggarap jaminan kesehatan semesta yang akan diberlakukan pada 2014. Selama diabetes dan penyakit-penyakit lain tidak dikendalikan, berapa pun dana yang digelontorkan untuk mengobati masyarakat tidak akan cukup. Padahal, dana ini dapat digunakan di sektor lain untuk mendorong kesejahteraan masyarakat.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau