Marzuki Alie Minta Hargai Sisi Pribadi Dirinya

Kompas.com - 29/08/2012, 12:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pernyataan ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie mengenai memilih pemimpin yang seiman dalam acara halal bi halal bersama Nachrowi Ramli, calon wakil gubernur DKI Jakarta di Hotel Twin Plaza, Jakarta, Minggu (26/8/2012), menuai kritik dan kontradiksi di masyarakat. Marzuki Alie  juga menjadi bulan-bulanan pengguna internet melalui media sosial yang mempertanyakan kapasitasnya sebagai ketua DPR RI sehingga dinilai tidak pantas mengeluarkan pernyataan seperti itu.

Munculnya kritik dan kontradiksi atas pernyataannya yang juga menjadi bahan ceramah Marzuki dalam seminar "Kepemimpinan Menurut Islam" pada saat itu, dia sadari tidak sepenuhnya salah apabila dia berbicara dan bertindak selaku pejabat negara dan ketua DPR RI.

Hal tersebut diungkapkan Marzuki dalam artikelnya yang ditulisnya sendiri di media warga Kompasiana.com pada hari Rabu (29/8/2012). "Kritik dan berbagai pendapat tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya salah apabila konteks waktu dan tempat saya berbicara dan bertindak selaku Ketua DPR sebagai Pejabat Negara dan berdiri di atas semua golongan, etnis, suku, agama dan kepentingan," tulis Marzuki.

Namun, dia menegaskan bahwa pernyataannya tentang memilih pemimpin yang seiman bukan selaku pejabat dan ketua DPR RI, tapi dia sebagai sisi pribadi yang memiliki hak untuk berbicara dan mengeluarkan pendapat selayaknya warga negara Indonesia lainnya.

"Saya mempunyai sisi pribadi yang harusnya dihargai, yang tidak bisa dikaitkan dengan jabatan saya selaku Ketua DPR, (atau) pejabat negara. Itulah hak asasi setiap orang yang seharusnya tidak harus selalu dicampuradukkan antara kehidupan pribadi dengan posisi sebagai pejabat negara. Jangan hak asasi saya selalu dieliminasi dengan jabatan tersebut, namun juga perlu diperhatikan konteks dan waktunya," Tegasnya di Kompasiana.

Artikel Marzuki Alie di Kompasiana ini merupakan penjelasan atas pertanyaannya yang menuai kritik dan menjadi berita heboh yang menurutnya telah disalahartikan dan keluar konteks. Dia pun menyimpulkan, "keberagaman yang menjadi landasan berdirinya bangsa ini telah salah diartikan, seolah kebhinnekaan mengharamkan adanya dinamika dalam kehidupan beragama, agama dipersepsikan sebagai wilayah yang sangat pribadi, padahal ada kewajiban agama kepada pengikutnya untuk selalu memberikan pencerahan kepada ummatnya sesuai tuntunan agama dan kepercayaannya masing-masing, artinya ada wilayah eksklusif yang harus dihargai sebagai bentuk penghormatan kita kepada saudara-saudaranya yang berbeda agama dan keyakinan."

Dalam artikelnya itu, Marzuki banyak cerita soal pandangannya tentang kepemimpinan menurut Islam dan implementasi Bhinneka Tunggal Ika serta sikapnya dalam Pilkada DKI Jakarta selaku kader partai Demokrat yang mengusung pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur, Foke-Nara.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau