Turki Usulkan Zona Aman

Kompas.com - 30/08/2012, 04:50 WIB

damaskus, rabu - Arus pengungsi Suriah dikhawatirkan mengancam stabilitas negara-negara tetangga. Turki, misalnya, mendesak PBB membangun suatu zona aman bagi para pengungsi itu di dalam wilayah Suriah.

Zona aman itu semacam zona penyangga dan berada di bawah perlindungan asing atau PBB, seperti diungkapkan Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davotoglu, Rabu (29/8), di Ankara. Para pengungsi diusulkan dirawat di zona itu demi mengurangi beban negara tetangga, termasuk Turki yang telah menampung 80.000 pengungsi.

Ankara punya pengalaman buruk terkait arus pengungsi serupa ketika lebih dari setengah juta warga Kurdi di Irak mengalir ke Turki seusai Perang Teluk 1991. Hingga kini, warga Kurdi yang mendiami Turki tenggara itu bahkan berjuang untuk memisahkan diri dari Ankara. Untuk alasan itu pula, kini Ankara tidak dengan mudah menerima 10.000 pengungsi baru masuk Turki.

Solusi terbaik untuk mengatasi pengungsi Suriah, kata Davotoglu, adalah membangun zona penyangga yang aman di dalam negeri mereka sendiri. ”Kami mengharapkan PBB terlibat pada usaha melindungi pengungsi di dalam wilayah Suriah dan jika mungkin juga melindungi mereka di kamp di sana,” kata Davotoglu dalam konferensi pers di Ankara.

Davotoglu mengatakan, Ankara telah membahas masalah itu dengan Komisi Tinggi Urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa- Bangsa (UNHCR) Antonio Guterres dan Kepala Bantuan PBB Valerie Amos. Ia menambahkan, dua pejabat itu bermaksud mengunjungi Turki lagi.

Davotoglu berbicara sebelum pergi ke New York untuk menghadiri pertemuan Dewan Keamanan PBB terkait Suriah, Kamis ini. PBB mengatakan, pengungsi yang lari ke Turki bisa mencapai 200.000 orang jika konflik Suriah memburuk. Pekan lalu Ankara mengatakan, mereka hanya mampu menangani maksimum 100.000 pengungsi.

Ditolak Assad

Presiden Suriah Bashar al- Assad yang tengah memerangi oposisi menolak usulan Turki itu. Menurut dia, pembangunan zona penyangga di dalam wilayah Suriah tidak realistis, dan situasi di negerinya sudah ”lebih baik”.

Meski situasi domestik sudah ”membaik”, Assad mengatakan, Suriah membutuhkan waktu lebih banyak untuk memenangi pertempuran melawan oposisi— yang ia sebut ”pemberontak” yang berusaha melawannya. Dia berbicara dalam wawancara dengan televisi Addounia Suriah, yang propemerintah, Rabu.

Presiden Assad juga ingin menanggapi rumor tentang keberadaannya sejak pengeboman di Damaskus, Juli. Waktu itu, empat jenderal di lingkaran dalam Assad tewas. Rumor yang beredar menyebutkan, Assad tidak berada di istana. Dalam wawancara dengan televisi itu, dia menegaskan, dia berbicara dari istana presiden di Damaskus.

”Saya percaya pembicaraan tentang zona penyangga tidak praktis,” kata Assad. ”Suriah terlibat dalam pertempuran regional dan global. Situasi saat ini praktis lebih baik, tetapi belum dituntaskan. Saya memberi tahu warga bahwa nasib Suriah ada di tangan mereka,” imbuhnya.

Pertempuran sengit terus terjadi di banyak tempat di Suriah. Pasukan oposisi, Rabu, mengaku menghancurkan lima helikopter milik rezim Assad di bandar udara militer Taftanaz, yang terletak di antara Aleppo dan Idlib.

Menurut Abu Mossab, pejuang oposisi yang terlibat dalam serangan itu, bandara ditembaki dua tank yang dapat direbut dari pasukan pemerintah.

(AFP/AP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau