JAKARTA, KOMPAS.com - Tak dipungkiri, manusia hidup bergantung dari sesuatu yang berada di luar dirinya. Terlebih alam, termasuk air yang menjadi salah satu contoh. Manusia menapaki kehidupan muskil tanpa air. Tubuh manusia pun lebih banyak kadar air. Bahkan, profesi sebagian besar orang berkaitan dengan air, sebut saja petambak.
Petambak udang dan bandeng di daerah Marunda Baru, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara saat ini diterpa musim kemarau dan kekeringan. Sudah otomatis pendapatan mereka terganggu. Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, hampir sepenuh kolam tambak mengalami kekeringan air. Hal demikian dibenarkan Tasan (47) alias Alex yang berprofesi sebagai pekerja serabutan. Ia kerap mendapat panggilan untuk membantu menguras kolam tambak. Menurut dia, kekeringan sudah terjadi sekurangnya tiga bulan lalu.
Tambak bisa dibedakan menjadi dua. Pertama, tambak darat dan tambak menengah (atau tampak yang dekat dengan sungai). Yang membedakan tambak darat jauh dari perairan. Sementara, kolam tersebut berasal dari air yang diisi dari sungai melalui saluran yang telah disediakan.
"Empang darat kalau kemarau tidak bisa diisi bibit udang atau bandeng. Karena kering tidak ada airnya.Sehingga penghasilan juga tidak ada. Tapi hampir seluruh wilayah di sini mengalami kekeringan," kata Tasan, Kamis (30/8/2012) siang.
Akibat kemarau, Tasan yang biasa melayani panggilan panen atau menguras tambak beralih profesi demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kini dia sedang mengerjakan pesanan membuat kursi bengkel. Kadang untuk memperoleh uang dia juga melakukan pekerjaan apapun secara serabutan.
Tasan mendapatkan upah dari menguras tambak saat panen dalam satu kolam dibayar minimal Rp 40.000 sampai dengan Rp 60.000. Tergantung dari keuntungan. Apabila pemilik tambak sedang berbaik hati dia biasa menerima hingga Rp 100.000 per menguras satu kolam.
"Kalau upah sih tergantung. Terkadang kalau pemilik tambak panennya sedang bagus saya bisa dapat Rp 100.000," ujarnya.
Sementara, Sutini, seorang petambak yang mengaku memiliki empat kolam tambak ini, merasa kesulitan dengan musim kemarau ini. Menurut dia, kekeringan sudah terjadi selama sekitar tiga bulan belakangan ini. Biasanya dia menanam tambak yang terdiri dari udang dan bandeng, sebanyak 10.000 bibit udang dan 1.000 bandeng.
"Kalau yang jauh-jauh kali, pasti kering. Sebelum bulan Ramadan sudah tidak ada hujan. Memang cuaca sulit diprediksi, tak menentu. Yang kenceng paling angin. Kalau kering mau di tanah juga bibit mati semua," katanya.
Kedalaman tambak berkisar sedalam dua meter. Ketika kering air hanya tersisa 10-20 sentimenter.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang