Kemarau Menerpa Patambak Marunda Baru

Kompas.com - 30/08/2012, 15:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Tak dipungkiri, manusia hidup bergantung dari sesuatu yang berada di luar dirinya. Terlebih alam, termasuk air yang menjadi salah satu contoh. Manusia menapaki kehidupan muskil tanpa air. Tubuh manusia pun lebih banyak kadar air. Bahkan, profesi sebagian besar orang berkaitan dengan air, sebut saja petambak.

Petambak udang dan bandeng di daerah Marunda Baru, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara saat ini diterpa musim kemarau dan kekeringan. Sudah otomatis pendapatan mereka terganggu. Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, hampir sepenuh kolam tambak mengalami kekeringan air. Hal demikian dibenarkan Tasan (47) alias Alex yang berprofesi sebagai pekerja serabutan. Ia kerap mendapat panggilan untuk membantu menguras kolam tambak. Menurut dia, kekeringan sudah terjadi sekurangnya tiga bulan lalu.

Tambak bisa dibedakan menjadi dua. Pertama, tambak darat dan tambak menengah (atau tampak yang dekat dengan sungai). Yang membedakan tambak darat jauh dari perairan. Sementara, kolam tersebut berasal dari air yang diisi dari sungai melalui saluran yang telah disediakan.

"Empang darat kalau kemarau tidak bisa diisi bibit udang atau bandeng. Karena kering tidak ada airnya.Sehingga penghasilan juga tidak ada. Tapi hampir seluruh wilayah di sini mengalami kekeringan," kata Tasan, Kamis (30/8/2012) siang.

Akibat kemarau, Tasan yang biasa melayani panggilan panen atau menguras tambak beralih profesi demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kini dia sedang mengerjakan pesanan membuat kursi bengkel. Kadang untuk memperoleh uang dia juga melakukan pekerjaan apapun secara serabutan.

Tasan mendapatkan upah dari menguras tambak saat panen dalam satu kolam dibayar minimal Rp 40.000 sampai dengan Rp 60.000. Tergantung dari keuntungan. Apabila pemilik tambak sedang berbaik hati dia biasa menerima hingga Rp 100.000 per menguras satu kolam.

"Kalau upah sih tergantung. Terkadang kalau pemilik tambak panennya sedang bagus saya bisa dapat Rp 100.000," ujarnya.

Sementara, Sutini, seorang petambak yang mengaku memiliki empat kolam tambak ini, merasa kesulitan dengan musim kemarau ini. Menurut dia, kekeringan sudah terjadi selama sekitar tiga bulan belakangan ini. Biasanya dia menanam tambak yang terdiri dari udang dan bandeng, sebanyak 10.000 bibit udang dan 1.000 bandeng.

"Kalau yang jauh-jauh kali, pasti kering. Sebelum bulan Ramadan sudah tidak ada hujan. Memang cuaca sulit diprediksi, tak menentu. Yang kenceng paling angin. Kalau kering mau di tanah juga bibit mati semua," katanya.

Kedalaman tambak berkisar sedalam dua meter. Ketika kering air hanya tersisa 10-20 sentimenter.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau