Titik Nadir Prestasi Bulu Tangkis

Kompas.com - 31/08/2012, 06:18 WIB

Olimpiade London 2012 menjadi titik nadir keterpurukan prestasi bulu tangkis Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah diselenggarakannya olahraga ini di olimpiade sejak 1992, Indonesia gagal merebut emas. Bahkan, gagal meraih satu keping medali pun.

ib kian bertambah setelah pemain ganda putri Greysia Polii/Meiliana Jauhari terlibat skandal untuk mengatur hasil pertandingan saat melawan pasangan Korea Selatan, Ha Jung-eun/Kim Min-jung, di laga terakhir grup C.

Kedua pasangan yang sudah pasti lolos ke perempat final sama-sama tidak mau mencari kemenangan untuk menghindari pertemuan dengan pasangan nomor satu dunia China, Yu Yang/Wang Xiaoli. Pasangan China ini pun akhirnya juga diketahui sengaja mengalah di laga terakhirnya agar terhindar perjumpaan dengan kompatriotnya di babak semifinal.

Siapa yang salah? Mengapa ini semua bisa terjadi? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus dijawab Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI).

Secara kebetulan, tahun ini merupakan masa terakhir kepengurusan PBSI yang dipimpin Ketua Umum Djoko Santoso. Mantan Panglima TNI ini harus menyampaikan pertanggungjawaban pada Musyawarah Nasional (Munas) yang rencananya digelar tanggal 20-22 September 2012 di Yogyakarta.

Munas di Yogyakarta akan menjadi momen penting. Sebab, selain pertanggungjawaban pengurus lama, pada acara ini nantinya akan dipilih dan diputuskan pengurus baru.

Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari Djoko untuk tidak mencalonkan diri lagi pada Munas mendatang. Sebelumnya, Djoko hanya mengatakan, dirinya siap menjalankan amanat lagi jika memang diminta.

Sesuai mekanisme Munas PB PBSI, penentuan ketua umum didasarkan pengambilan suara terbanyak. Dalam Munas ini hanya ada 33 suara yang haknya diberikan kepada setiap pengurus provinsi. Sementara satu suara lagi diberikan kepada pengurus lama.

”Munas di Yogyakarta akan sangat menentukan nasib bulu tangkis ke depan. Karena itu, pengurus provinsi harus benar-benar berpikir jernih memilih pemimpin PBSI ke depan,” kata mantan Ketua Umum PB PBSI periode 1993-1997, Suryadi, yang ditemui di Jakarta, Kamis (30/8).

Suryadi menuturkan, tantangan PB PBSI ke depan akan semakin berat. Karena itu, dibutuhkan pemimpin yang lebih tegas dan taktis. ”Pemimpin yang baik adalah orang yang bisa melihat kondisi lingkungannya dengan baik. Dia mau melihat orang-orang yang dipimpinnya sehingga dia tahu benar kondisi sebenarnya,” tutur Suryadi.

Selain itu, pemimpin juga wajib mendengar kritikan atau saran, baik dari lingkungan yang dipimpinnya maupun dari pihak luar yang menaruh perhatian. Kritik ini penting demi perbaikan.

”Pemimpin juga harus konsisten dan berkomitmen dengan ucapannya. Dia harus bisa mengucapkan keadilan. Yang tak kalah penting, pemimpin juga harus mau mencium hal yang baik atau yang buruk tentang lingkungannya,” ujar Suryadi.

Soal prestasi bulu tangkis sekarang, Suryadi mengatakan, hasil ini menjadi tolok ukur kinerja pengurus. ”Jadi, tidak perlu saya sebutkan pengurus ini gagal atau berhasil. Silakan Anda sendiri yang melihat pencapaian yang didapat dari target dan program kerja yang dicanangkan,” kata Suryadi.

Fakta yang ada, sejak PB PBSI dipimpin Djoko Santoso, prestasi bulu tangkis kita belum beranjak dari bayang-bayang China. Di ajang turnamen beregu, Indonesia tidak pernah lagi menjuarai Piala Thomas dan Uber ataupun Piala Sudirman. Di Piala Thomas 2012, catatan tim bulu tangkis putra tergolong kelam karena untuk pertama kalinya gagal menembus babak semifinal.

Di turnamen perorangan, prestasi pemain Indonesia juga pasang surut. Di sektor tunggal putri bahkan tidak pernah ada lagi pemain yang mampu juara di turnamen super series. Raihan prestasi terbaik hanya didapat pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang menjuarai turnamen All England awal tahun ini.

Di ajang multievent, Indonesia memang masih yang terbaik di SEA Games. PBSI pun tertolong dengan pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan yang juara di Asian Games 2010. Namun, di olimpiade, Indonesia gagal mempertahankan tradisi medali emas, bahkan tak mampu mendapat satu medali.

Terpuruknya prestasi bulu tangkis Indonesia mendorong beberapa mantan pemain nasional untuk menyampaikan petisi perbaikan kepada pengurus PBSI seusai kegagalan tim Thomas dan Uber 2012 di Wuhan.

Intinya, mereka meminta perbaikan, baik dalam hal pembinaan pemain, sistem kepelatihan, maupun pada hal yang paling dasar, keprofesionalan pengurus.

”Harus berbenah!” ujar Retno Kustiyah, pelatih klub Jaya Raya sekaligus mantan pemain nasional. Menurut Retno, saat ini merupakan puncak keterpurukan prestasi bulu tangkis nasional yang pada tahun-tahun terakhir ini sudah menurun.

Retno kemudian membandingkan dengan model pembinaan bulu tangkis dahulu dengan sekarang yang masih relevan. Pada 1990-an, setiap pelatih memiliki program terencana bagi para atlet. Dalam setahun kalender turnamen, seorang pelatih bisa merencanakan keikutsertaan atlet dalam turnamen.

Perencanaan matang itu diikuti pula dengan pemantauan kekuatan dari negara luar. Itu bisa terjadi karena pengurus, khususnya ketua bidang pembinaan prestasi, ada dan secara detail menyiapkan pelatihan dan perencanaan turnamen.

”Indonesia dahulu bisa melakukan itu, salah satunya karena jumlah pemain juga banyak. Di sini berarti pemandu bakat yang menyiapkan talenta-talenta baru mesti aktif,” ujar mantan pemain nasional Imelda Wiguna.

Adanya banyak pemain memudahkan pelatih menyiapkan pengiriman-pengiriman berdasarkan kemampuan. Langkah untuk mematangkan pemain dengan target jelas.

”Sekarang ini target tidak jelas dan atlet tidak pernah memiliki tanggung jawab untuk mencapai target itu,” ungkap pelatih pemain tunggal putra Taufik Hidayat, Mulyo Handoyo.

Seharusnya, sejak awal PB PBSI sudah menyiapkan pengiriman atlet dengan target. Kalau atlet tidak bisa memenuhi target, akan ada konsekuensi.

Namun, ujar Imelda, masalah target itu kembali lagi kepada pemain. Kualitas pemain itu juga ditentukan sejak awal saat perekrutan. Seperti yang sudah dilakukan, pemandu bakat idealnya bekerja sama dengan klub-klub selaku penyedia atlet. Perekrutan dengan cara yang lebih ketat dan tidak menerima ”titipan” itu juga penting.

PB PBSI juga semestinya menerapkan pola pelatihan yang berbeda bagi yunior dan senior. Jika pemain senior diperbanyak penajaman strategi dan taktik serta didukung ketahanan fisik, pemain yunior belum terlalu banyak ke strategi.

Staf Ahli Menpora Ivana Lie, yang juga mantan juara piala dunia 1986 berpasangan dengan Christian Hadinata, mengatakan, PB PBSI sudah selayaknya melakukan pelatihan dengan lebih terfokus.

Dimulai dari pemassalan ke sekolah-sekolah sebagai upaya menarik minat siswa terhadap bulu tangkis, juga sebagai upaya untuk mendapatkan bibit-bibit baru bulu tangkis.

Lalu, untuk sumber daya pelatih, PB PBSI juga harus bekerja sama dengan fakultas-fakultas olahraga supaya bisa menghasilkan guru-guru olahraga. ”Selama ini guru-guru olahraga kebanyakan masih dipegang guru mata pelajaran lain, jadi, ya, pelatihan tidak bisa fokus,” ujar Ivana. (HLN/MHD/OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau